Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Muh. Zuhri
Pendahuluan
Istilah Ulil Amri popular di kalangan umat Islam. Di Negara-negara Islam seperti Arab Saudi, Irak, dan lain-lain, istilah Ulil Amri tidak sulit dimengerti maksudnya, cukup diasosiasikan dengan kekuasaan pemerintah. Bagi masyarakat Islam yang negaranya tidak didasarkan agama Islam, meskipun tetap menghargai agama bahkan memeliki menteri agama seperti Indonesia, istilah Ulil Amri yang sudah popular itu masih mengandung kesamaran. Setidaknya masih ada sisa pertanyaan, siapakah persisnya Ulul Amri itu. Andainya dipahami bahwa Ulil Amri itu pemegang kekuasaan pemerintahan, apakah semua lembaga yang terlibat dalam pemerintahan meliputi eksekutif, legislative, judikatif, tentara, polisi, itu semua Ulil Amri. Pertanyaan selanjutnya, sejauh mana batas wilayah kekuasaan Ulil Amri.
Persoalan ini menghangat ketika berulang-ulang 1 Syawal atau 1 Ramadhan yang ditetapkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah dengan Menteri Agama jatuh tidak bersamaan, Muhammadiyah lebih awal satu hari. Dalam hal ini pihak Menteri Agama dirasakan memaksakan semua umat Islam Indonesia, termasuk di dalamnya Muhammadiyah, untuk harus mengikuti keputusan Menteri, meninggalkan keputusan yang berbeda dari pihak manapun. Respon dengan nada agak emosional muncul dengan pernyataan bahwa Menteri Agama bukan Ulil Amri. Tentu, hal ini menimbulkan kerasahan di kalangan umat Islam. Itu sebabnya Muhammadiyah mengajak mendiskusikan Ulil Amri dari banyak sudut pandang. Di sini kita akan memperbincangkannya dari sisi Hadis.
B. Hadis-hadis yang berkaitan dengan Ulil Amri
Kita akan mencermati informasi dari Hadis tentang Ulil Amri dalam kasus yang beragam.
Pertama hadis yang menerangkan sebuah kasus bahwa Fathimah putri kesayangan Rasulullah, ketika masa kekhalifahan Abu Bakar, mendatanginya dan menanyakan harta warisan peninggalan Rasulullah. Abu Bakar menjawab dengan mengutip sabda Rasulullah, “Kami tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.” Abu Bakar pada kesempatan lain berkata “Saya tidak akan pernah meninggalkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Sungguh saya takut menyimpang dari meninggalkan sesuatu. Adapun shadaqah yang di Madinah itu sudah diserahkan oleh Umar kepada Ali dan Abbas. Adapun tanah Khaibar dan Fadak ditahan oleh Umar dengan katanya, keduanya adalah shadaqah Rasulullah untuk “operasional” bagi beliau dan bagi orang-orang penggantinya. Persoalan keduanya itu diserahkan kepada orang yang menjadi Waliyyul Amri.” Periwayat hadis mengatakan, “hal itu berlangsung hingga sekarang.” Teks hadis yang menyebutkan
peristiwa ini diriwayatkan oleh Imam Muslim berbunyi sebagai berikut:
أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَتْ أَبَا بَكْرٍ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقْسِمَ لَهَا مِيرَاثَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللهُ عَلَيْهِ فَقَالَ لَهَا أَبُو بَكْرٍ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ قَالَ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ وَكَانَتْ فَاطِمَةُ تَسْأَلُ أَبَا بَكْرٍ نَصِيبَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَيْبَرَ وَفَدَكٍ وَصَدَقَتِهِ بِالْمَدِينَةِ فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ عَلَيْهَا ذَلِكَ وَقَالَ لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ فَأَمَّا صَدَقَتُهُ بِالْمَدِينَةِ فَدَفَعَهَا عُمَرُ إِلَى عَلِيٍّ وَعَبَّاسٍ فَغَلَبَهُ عَلَيْهَا عَلِيٌّ وَأَمَّا خَيْبَرُ وَفَدَكُ فَأَمْسَكَهُمَا عُمَرُ وَقَالَ هُمَا صَدَقَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتَا لِحُقُوقِهِ الَّتِي تَعْرُوهُ وَنَوَائِبِهِ وَأَمْرُهُمَا إِلَى مَنْ وَلِيَ الْأَمْرَ قَالَ فَهُمَا عَلَى ذَلِكَ إِلَى الْيَوْمِ
Artinya: (MUSLIM - 3305) : Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami ayahku. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Al Hasan bin Ali Al Khulwani keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ya'qub -yaitu Ibnu Ibrahim- telah menceritakan kepada kami ayahku dari Shalih dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bin Zubair bahwa 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengabarkan kepadanya bahwa Fatimah binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah meminta bagian dari harta peninggalan ayahnya kepada Abu Bakar, setelah wafat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Abu Bakar lalu menjawab, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Harta warisan yang aku tinggalkan tidak dapat diwariskan, tetapi hanya merupakan sedekah." 'Urwah berkata, "Fatimah hidup selama enam bulan setelah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dia selalu meminta bagian harta peninggalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abu Bakar dari rampasan perang yang masih tersisa di daerah Khaibar, yaitu fadak dan di kota Madinah. Namun Abu Bakar tetap menolaknya seraya berkata, "Aku tidak berani merubah sedikitpun apa yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku tetap akan melakukan seperti apa yang telah beliau lakukan. Sungguh, aku khawatir jika aku menyalahi perintahnya, aku akan condong kepada kesesatan." Adapun sedekahnya di Madinah, maka Umar tetap mempertahankannya dari Ali dan Abbas, begitu juga tanah Fadak, dia berkata, "Keduanya adalah sedekah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang harus ditunaikan hak-haknya, yaitu sedekah yang diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Sedangkan keduanya berjalan seperti itu sampai hari ini."
Hadis ini, utamanya kalimat yang bergarisbawah, menunjukkan bahwa ada lahan kekuasaan yang dikelola oleh orang yang memiliki otoritas sebagai Ulil Amri.
Kedua Hadis riwayat Imam Ahmad yang memuat pernyataan Rasulullah kepada Ali ra., sebagai Ulil Amri untuk mengambil tindakan tertentu, “Wahai Ali, jika suatu saat engkau diangkat menjadi Ulil Amri sepeninggalku, maka usirlah Yahudi Najran dari Jazirah Arab.”
... عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا
عَلِيُّ إِنْ أَنْتَ وُلِّيتَ الْأَمْرَ بَعْدِي فَأَخْرِجْ أَهْلَ نَجْرَانَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ.
Kita tidak sedangkan mempersoalkan maksud hadis ini, tetapi menunjukkan ada ungkapan tentang pengangkatan ulil amri yang berbunyi إِنْ أَنْتَ وُلِّيتَ الْأَمْرَ . Artinya, jika kamu diangkat menjadi Ulil Amri.
Ketiga Hadis riwayat Imam Ahmad yang menuturkan sabda Rasulullah, “Barang siapa memegang kekuasaan sebagai waliyyul amri dalam urusan umat manusia kemudian menutup pintunya untuk menolong orang miskin dan orang teraniaya atau memiliki kepentingan lain, maka Allah akan menutup pintu berkah bagi pemegang kekuasaan tersebut dalam hal yang sama.” Hadis tersebut berbunyi:
حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو وَأَبُو سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا زَائِدَةُ قَالَ حَدَّثَنَا السَّائِبُ بْنُ حُبَيْشٍ الكَلَاعِيُّ عَنْ أَبِي الشَّمَّاخِ الْأَزْدِيِّ عَنِ ابْنِ عَمٍّ لَهُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى مُعَاوِيَةَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ وَلِيَ أَمْرًا مِنْ أَمْرِ النَّاسِ ثُمَّ أَغْلَقَ بَابَهُ دُونَ الْمِسْكِينِ وَالْمَظْلُومِ أَوْ ذِي الْحَاجَةِ أَغْلَقَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى دُونَهُ أَبْوَابَ رَحْمَتِهِ عِنْدَ حَاجَتِهِ وَفَقْرِهِ أَفْقَرُ مَا يَكُونُ إِلَيْهَا
Artinya: (AHMAD - 15097) : Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah bin 'Amr dan Abu Sa'id berkata; telah menceritakan kepada kami Za'idah berkata; telah menceritakan kepada kami As Sa'ib bin Hubaisy Al Kala'i dari Abu Asy-Syammah Al Azdi dari anak pamannya salah seorang sahabat Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, dia menemui Mu'awiyah lalu berkata; saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mewenangi suatu urusan dari kalangan manusia lalu dia menutup pintunya untuk orang miskin, orang yang teraniaya atau orang yang butuh kepadanya, niscaya Allah Tabaraka Wa Ta'ala menutup pintu rahmAt Nya ketika dia membutuhkannya ketika kefakirannya menjadi sangat memerlukan rahmAt Nya.
Keempat Hadis riwayat Imam al-Bukhari yang menyatakan bahwa turunnya ayat yang memerintahkan agar taat kepada Ulil Amri itu berkaitan dengan Abdullah bin Huzaifah bin Qais bin Adi ketika Rasulullah mengangkatnya sebagai pemimpin dalam sebuah peperangan. Hadis dimaksud berbunyi:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ
مِنْكُمْ قَالَ نَزَلَتْ فِي عَبْدِ اللهِ بْنِ حُذَافَةَ بْنِ قَيْسِ بْنِ عَدِيٍّ إِذْ بَعَثَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ
Ke lima Hadis yang mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak mematuhi Ulil Amri yang membawa mereka maksiyat, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad sebagai berikut:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ يَعْنِي ابْنَ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى
عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ وَنَحْنُ عِنْدَهُ فَقَالَ اسْتُعْمِلَ الْحَكَمُ بْنُ عَمْرٍو الْغِفَارِيُّ عَلَى خُرَاسَانَ فَتَمَنَّاهُ عِمْرَانُ حَتَّى قَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ أَلَا نَدْعُوهُ لَكَ فَقَالَ لَهُ لَا ثُمَّ قَامَ عِمْرَانُ فَلَقِيَهُ بَيْنَ النَّاسِ فَقَالَ عِمْرَانُ إِنَّكَ قَدْ وُلِّيتَ أَمْرًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ عَظِيمًا ثُمَّ أَمَرَهُ وَنَهَاهُ وَوَعَظَهُ ثُمَّ قَالَ هَلْ تَذْكُرُ يَوْمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ الْحَكَمُ نَعَمْ قَالَ عِمْرَانُ اللَّهُ أَكْبَر.
Artinya: (AHMAD - 19735) : Telah menceritakan kepada kami Yazid yaitu Ibnu Harun, telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Muhammad ia berkata; "Seseorang datang menemui 'Imran bin Hushain, ketika itu kami tengah bersamanya, orang itu mengatakan bahwa Al Hakam bin Amru Al Ghifari di utus menuju daerah Khurasan, tiba-tiba Imran termenung, hingga seseorang berkata kepadanya; "Perlukah kami memanggilkannya untukmu?." dia menjawab; "Tidak, " lalu Imran berdiri dan menemuinya di antara kerumunan orang-orang, Imran berkata; "Ingatkah kamu pada hari Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Tidak ada ketaatan kepada mahluk dalam bermaksiat kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala?" Al Hakam menjawab; "Ya." Imran berkata; "Allahu Akbar."
Hal tersebut juga dicatat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibn Majah sebagai berikut:
...عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ عَلْقَمَةَ بْنَ مُجَزِّرٍ عَلَى بَعْثٍ وَأَنَا فِيهِمْ فَلَمَّا انْتَهَى إِلَى رَأْسِ غَزَاتِهِ أَوْ كَانَ بِبَعْضِ الطَّرِيقِ اسْتَأْذَنَتْهُ طَائِفَةٌ مِنْ الْجَيْشِ فَأَذِنَ لَهُمْ وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ عَبْدَ اللهِ بْنَ حُذَافَةَ بْنِ قَيْسٍ السَّهْمِيَّ فَكُنْتُ فِيمَنْ غَزَا مَعَهُ فَلَمَّا كَانَ بِبَعْضِ الطَّرِيقِ أَوْقَدَ الْقَوْمُ نَارًا لِيَصْطَلُوا أَوْ لِيَصْنَعُوا عَلَيْهَا صَنِيعًا فَقَالَ عَبْدُ اللهِ وَكَانَتْ فِيهِ دُعَابَةٌ أَلَيْسَ لِي عَلَيْكُمْ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ قَالُوا بَلَى قَالَ فَمَا أَنَا بِآمِرِكُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا
صَنَعْتُمُوهُ قَالُوا نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي أَعْزِمُ عَلَيْكُمْ إِلَّا تَوَاثَبْتُمْ فِي هَذِهِ النَّارِ فَقَامَ نَاسٌ فَتَحَجَّزُوا فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّهُمْ وَاثِبُونَ قَالَ أَمْسِكُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّمَا كُنْتُ أَمْزَحُ مَعَكُمْ فَلَمَّا قَدِمْنَا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَمَرَكُمْ مِنْهُمْ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَا تُطِيعُوهُ
Artinya: (IBNUMAJAH - 2854) : … dari Abu Said Al Khudri, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus Alqamah bin Mujazir dalam satu rombongan dan aku di dalamnya. Ketika telah sampai di penghujung perang atau di pertengahan jalan, sekelompok bala tentara meminta izin. Rasulullah memberikan izin kepada mereka, lalu pasukan dipimpin oleh Abdullah Hudzafah bin Qais As-Sahmi. Aku termasuk orang yang ikut berperang bersama dengannya. Setelah sampai di pertengahan jalan, sekelompok kaum menyalakan api untuk menghangatkan tubuh atau untuk membuat sesuatu. Abdullah berkata; -untuk sekedar bercanda-; bukankah kalian harus mendengarkan dan taat kepadaku?" Mereka berkata; 'Tentu.' la berkata; 'Tidakkah yang aku perintahkan tentang sesuatu kepada kalian, pasti kalian lakukan? ' Mereka menjawab; 'Tentu.' Abdullah berkata; 'Aku ingin kalian meloncati api ini.' Sekelompok orang berdiri dan saling bersiap-siap. Ketika ia mengira bahwa mereka akan melompat, ia berkata; 'Berhentilah kalian, karena sesungguhnya aku hanya bergurau kepada kalian.' Ketika kami tiba dan mengemukakannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Barangsiapa yang memerintahkan kalian untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah kalian taat kepadanya.'
Ke enam Hadis yang menyatakan bahwa kepemimpinan Ulil Amri oleh seorang wanita tidak membawa keberuntungan
... عَنْ أَبِي بَكْرَةَ لقد نفعنى الله بكلمة سمعتها من رسول الله صلى الله عليه وسلم أيام الجمل بعد ما كدت أن ألحق لأصحاب الجمل فأقاتل معهم قال لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً (البخارى 4073)وأيضا الترمذى والنسائى وأحمد.
Artinya: … dari Abu Bakrah dia berkata; Sungguh Allah telah memberikan manfaat kepadaku dengan suatu kalimat yang pernah aku dengar dari Rasulullah, -yaitu pada waktu perang Jamal tatkala aku hampir bergabung dengan para penunggang unta lalu aku ingin berperang bersama mereka.- Dia berkata; 'Tatkala sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa penduduk Persia telah di pimpin oleh seorang anak perempuan putri raja Kisra, beliau bersabda: "Suatu kaum tidak akan beruntung, jika dipimpin oleh seorang wanita."
Hadis tentang tidak boleh meminta diangkat menjadi pemimpin (Ulil Amri)
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ
عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا (مسلم 3404)
Artinya: … dari Abu Dzar dia berkata, saya berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah anda menjadikanku sebagai pegawai (pejabat)?" Abu Dzar berkata, "Kemudian beliau menepuk bahuku dengan tangan beliau seraya bersabda: "Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar."
Catatan terhadap Hadis-hadis tentang Ulil Amri
Hadis yang dicatat dalam kitab-kitab Hadis pada antara pertengahan abad ke dua Hijriyah hingga kira-kira abad ke empat hijriyah itu ternyata memuat kata Ulil Amri, atau kata lain yang diambil dari kata itu, atau kata lain yang kandungan maknanya seperti itu. Ulil Amri sendiri berbentuk kata benda, disebut juga Walyyul Amri. Dalam bentuk kata kerja ia bisa berbunyi  ولى (walla), استولى (istawalla), artinya mengangkat orang menjadi wali; kata  استعمل (ista’mala) disebut dengan arti menugasi orang. Ada beberapa hal yang dapat dicatat dari hadis-hadis tentang Ulil Amri sebagai berikut:
Pengertian Ulil Amri dan Tugasnya
Berdasarkan teks hadis tersebut kita mengetahui bahwa ummat Islam pada masa Rasulullah sudah mengenal istilah Ulil Amri. Mereka pemegang kekuasaan pemerintahan dalam suatu Negara. Tampaknya Ulil Amri terbesar adalah raja. Hadis yang maksudnya : "Suatu kaum tidak akan beruntung, jika dipimpin oleh seorang wanita" mengisyaratkan bahwa wanita yang diangkat sebagai Ulil Amri di Persia itu untuk menjadi ratu. Masyarakat yang tidak memiliki Negara tidak memiliki pemimpin yang disebut Ulil Amri, seperti masyarakat Arab di masa Jahiliyah, memiliki pemimpin kabilah, tidak memiliki raja atau dipanggil Ulil Amri. Selanjutnya pejabat yang diangkat sebagai Ulil Amri disebut Amir. Dalam tradisi Islam, Amir besarnya disebut Amirul Mukminin. Umat Islam sepakat bahwa Amirul Mukmin adalah Ulil Amri.
Di sebagian Hadis disebutkan bahwa Rasulullah mengangkat sebagai Amir beberapa shahabat di daerah-daerah, seperti terhadap Mu’adz bin Jabal dan al-‘Ala` bin Al-Hadhrami. Hadis tentang Mu’adz
... عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا عَرَفُوا اللهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ
وَلَيْلَتِهِمْ فَإِذَا فَعَلُوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ (البخارى ومسلم والترمذى وأبو داود وابن ماجه والدارمى)
Adapun Hadis mengenai al-‘Ala` bin Al-Hadhrami
... وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ صَالَحَ أَهْلَ الْبَحْرَيْنِ وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ الْعَلَاءَ بْنَ الْحَضْرَمِيِّ ... (رواه البخارى ومسلم وابن ماجه وأحمد)
Berdasarkan hadis di atas kita mengetahui bahwa Ulil Amri itu dapat dibagi dua; Ulil Amri tingkat pusat dan Ulil Amri tingkat daerah. Hadis-hadis tentang pengangkatan Rasulullah terhadap beberapa shahabatnya sebagai “amir” di daerah-daerah menunjukkan bahwa para shahabat mempunyai tugas menyiarkan dakwah Islam dan melaksanakan tugas dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah. Mu’adz diingatkan bahwa ia akan menghadapi kaum Ahlul Kitab. Tugasnya di sana untuk dakwah, mengajak tauhid, dan menjalankan rukun Islam, serta menarik pajak, sebuah tugas pemerintahan. Namun demikian kita juga menemukan hadis tentang pengangkatan pemimpin perang sebagai “amir”, pemilik amr (Ulul Amr). Kalau begitu jabatan ulul amri meliputi banyak aspek. Penguasa di luar Islam pun disebut Ulil Amr.
Karena dua tugas di atas (urusan keagamaan dan pemerintahan) maka dalam tradisi Islam Ulil Amri mempunyai dua kemampuan juga. Kemampuan menjelaskan ajaran agama yang biasanya dipegang oleh Ulama, dan kemampuan memimpin rakyat (kemampuan berpolitik?) disebut Umara. Keduanya di tangan Khalifah.
Ulil Amri dan Rakyat
Ada sebuah hadis yang menerangkan bahwa Abu Dzar meminta untuk diberi tugas tertentu. Dalam keterangan lain disebutkan, tugas dimaksud adalah mengurusi air untuk minum hewan gembala. Rasulullah menegaskan bahwa Abu Dzar tidak sanggup. Karenanya tugas itu tidak diberikan kepadanya. Para ulama menyimpulkan bahwa tugas semacam ini setara dengan peran Ulil Amri, tidak boleh diminta. Bila zaman sekarang untuk menjadi pemimpin seseorang harus kampanye, agaknya karena pergeseran zaman. Namun demikian pemimpin hasil pemilihan dipandang sebagai pemimpin yang ideal dalam tradisi Islam, merujuk pada Khulafaur Rasyidin. Pemimpin yang tampil karena money politik termasuk yang tercela berdasarkan hadis yang menyebutkan:
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ثَلَاثٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ... وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لَا يُبَايِعُهُ إِلَّا لِدُنْيَا فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا وَفَى وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا لَمْ يَفِ (رواه البخارى ومسلم وأبو داود وابن ماجهوالترمذى والنسائى وأحمد)
Hadis yang dibawa Abu Hurairah, katanya, Rasulullah saw bersabda, “Tiga orang yang Allah tidak mau berbicara dengan mereka, tidak melihat mereka dan tidak membersihkan mereka, dan bagi mereka azab pedih…. (3) orang yang berbaiat untuk seorang pemimpin hanya untuk mendapatkan imbalan duniawi. Bila diberi (imbalan duniawi) maka ia memenuhi (janji) dan bila tidak ia tidak memenuhinya.”
Hal lain yang menarik dibicarakan adalah kekuasaan Waliyul Amri yang dipegang oleh wanita. Teks hadis yang disebutkan di depan menyatakan bahwa masyarakat tidak dapat sejahtera bila mengangkat waliyyul amri dari kaum wanita. Hadis ini melahirkan multi tafsir. Ada yang berpandangan bahwa pemimpin tidak boleh lemah, sifat yang melekat pada umumnya wanita. Maka bila seorang wanita memiliki power seperti pria, boleh menjadi pemimpin. Ada pula yang berpendapat agar hadis itu dipahami secara harfiyah.
Patuh kepada Ulil Amri
Hadis yang dikutip di atas menunjukkan bahwa rakyat mempunyai kewajiban patuh pada pemimpin. Namun demikian. di antara pemimpin ada yang diterima oleh rakyat dan ada pula yang diingkari. Dengan demikian ada pemimpin yang dipandang baik dan ada pula yang dipandang buruk. Dalam hal ini kita perlu menyimak hadis sebagai berikut:
... عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا
Artinya: (MUSLIM - 3445) : … dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Akan datang para penguasa, kalian mengenal mereka namun kalian mengingkari (perbuatan mereka), siapa yang tahu (kemungkarannya) hendaklah berlepas diri, dan barangsiapa mengingkari maka ia telah selamat. Tetapi bagai yang ridla dan mengikuti, para sahabat langsung menyelah, "Bagaimana jika kiat perangi saja?" beliau menjawab: "Tidak! Selama mereka masih shalat."
... عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ ,فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Artinya: (MUSLIM - 3447) : … dari 'Auf bin Malik dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo'akan kalian dan kalian mendo'akan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka." Beliau ditanya, "Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?" maka beliau bersabda: "Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka."
Hadis ini sejalan dengan hadis riwayat Imam Ahmad dan Ibn Majah di atas yang isinya tidk perlu taat kepada pemimpin yang maksiyat kepada Allah. Indikasi maksiyat adalah menetapkan kebijakan yang meresahkan rakyat atau yang semestinya menjaga keutuhan tetapi malah melahirkan perpecahan. Pada sisi lain, ada anjuran agar rakyat yang dipimpin mau memberi nasehat kepada Ulil Amri. Perhatikan hadis yang mengutamakan persatuan dalam konteks kepemimpinan sebagai berikut:
... عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخَيْفِ مِنْ مِنًى فَقَالَ نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا ثُمَّ أَدَّاهَا إِلَى مَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَا فِقْهَ لَهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لَا يَغِلُّ عَلَيْهِمْ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ وَالنَّصِيحَةُ لِوَلِيِّ الْأَمْرِ وَلُزُومُ الْجَمَاعَةِ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تَكُونُ مِنْ وَرَائِهِ
Artinya: (AHMAD - 16138) : …dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im dari Bapaknya berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam berdiri di Khaif dari Mina, lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajatnya seseorang yang telah mendengar sabdaku lalu dia menjaganya, lalu menyampaikannya kepada orang yang belum mendengarnya. Bisa jadi orang membawa hadits dia tidak paham tentangnya, bisa jadi orang yang membawa hadits menyampaikan kepada orang yang lebih paham. Tiga hal yang tidak akan iri terhadapnya: hati seorang mukmin yang ikhlas dalam beramal, memberi nasehat kepada pemimpin dan melazimi jama'ah. Sesungguhnya doa mereka akan berada di belakangnya.
Penutup
Dari uraian di atas kita mengetahui bahwa istilah Ulil Amri itu sudah ada semenjak awal Islam, terdapat dalam, baik Al-Quran maupun Hadis. Masyarakat Arab sebelum Islam tampaknya juga mengenal istilah ini. Ulil Amri merupakan jabatan kekuasaan yang bisa disandang, baik oleh pemimpin muslim maupun non muslim. Pemegang kekaisaran di Persia disebut dengan Waliyyul Amri. Bila kemudian di kalangan umat Islam ada kekuasaan yang penguasanya diberi gelar Ulil Amri tidaklah mengejutkan.
Ulil Amri sebagaimana disebutkan dalam Hadis merupakan pemimpin yang diterima oleh masyarakat. Akseptabilitas seorang pemimpin (Waliyyul Amri) menjadi penting karena ia memiliki tugas dan wewenang mengatur kehidupan masyarakat supaya hidup lebih teratur, damai dan sejahtera. Waliyyul Amri dialamatkan untuk jabatan di berbagai tingkat, dan mungkin spesialisasi, seperti mengurusi sumber air (oase) yang dibagikan secara adil kepada masyarakat penggembala.
Terhadap Waliyyul Amri, masyarakat luas mempunyai kewajiban moral untuk mengingatkan dan memberi nasehat agar sang Waliyyul Amri tetap berada di jalur yang benar dalam melaksanakan tugasnya. Rakyat mestinya mengawal terus menerus agar Waliyyul Amri berbuat adil dan menciptakan suasana damai. Malahan, rakyat dipersilahkan untuk tidak taat kepada Waliyyul Amri yang membawa mereka maksiyat. Karenanya, Waliyyul Amri harus berusaha ikut meringankan beban masyarakat yang berada dalam kesulitan, tidak malahan menjadi trouble maker. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa Waliyyul Amri yang trouble maker itu dilengserkan karena mendatangkan keresahan dan derita masyarakat.
Demikian tulisan ini saya persembahkan mudah-mudahan dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi Muhammadiyah dalam merumuskan Ulil Amri yang selama ini sudah populer tetapi belum terumuskan secara jelas. Kritik dan saran terhadap tulisan ini sungguh diperlukan demi mencapai tujuan merumuskan Ulil Amri. [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top