Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dalam konteks ‘maaf’, al-Qur’an - sebagaimana penjelasan banyak para mufasir - lebih banyak mengungkapkan perintah untuk memberi daripada meminta. Sebagai sampelnya adalah ungkapan yang ada dalam QS. al-A’raf [7]:119, “khudzil ‘afwa wa’mur bil ‘urfi wa a’ridh ‘anil jaahiliin (Jadilah engkau pribadi pemaaf dan perintahkanlah [kepada setiap orang] untuk mengerjakan sesuatu yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh)”.
Kata ‘maaf’ di dalam ayat di atas disebut dengan redaksi “khudzil ‘afwa”, yang bermakna perintah kepada setiap pribadi untuk menghapus luka atau bekas-bekas luka yang terdapat dalam hati sebagai akibat dari kesalahan yang telah dilakukan oleh siapapun, bahkan oleh dirinya sendiri. Dengan memaafkan kesalahan kepada siapapun, berarti interaksi intrapersonal, interpersonal dan sosial antar-manusia yang pernah bermasalah, bisa kembali menjadi baik dan harmonis karena ‘luka’ yang ada di dalam hati mereka. Utamanya, yang berkesediaan untuk memaafkan, benar-benar akan sembuh sebagai akibat dari terhapusnya luka oleh obat-luka yang cukup efektif untuk menyembuhkannya.
Dalam wacana spiritualitas Islam, dinyatakan bahwa al-Qur’an benar-benar mendorong setiap Muslim untuk memiliki ‘sifat pemaaf’. Sikap inilah yang oleh al-Qur’an diidentifikasi menjadi salah satu ciri ketakwaan seseorang, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran [3]:134. Salah satu indikator ketakwaan seseorang ialah : “kesediaan dan kemampuan untuk mema’afkan (kesalahan) orang”, yang dalam ayat tersebut dinyatakan dengan rangkaian kata: ‘al-’afina ‘anin nas’, yang bermakna: “orang-orang yang memiliki sikap pemaaf terhadap semua orang”.
Setiap muslim seharusnya menyadari bahwa sikap pemaaf adalah sebuah sikap yang tidak hanya akan menguntungkan dirinya sendiri, utamanya -bagi dirinya- adalah: “menciptakan ketenangan dan kelapangan hati, yang dengan cara melepaskan sikap benci dan endam terhadap siapapun yang pernah berbuat salah kepadanya, jiwanya akan menjadi tenang dan tenteram”.
Seorang muslim selayaknya menyadari bahwa sikap benci dan dendam yang tidak terlupakan justru akan menjadi beban bagi dirinya. Kedua sikap ini merupakan penyakit hati yang bukan saja berbahaya bagi orang lain, tetapi lebih berbahaya bagi diri sendiri, karena seorang dengan kebencian dan dendam selalu akan memberikan efek kegelisahan dan tekanan batin, yang tentu saja akan berdampak negatif bagi orang yang bersangkutan. Hanya orang-orang jahil (bersikap bodoh)-lah yang tidak berkemauan untuk mengenyahkan kebencian dan dendam yang ada pada dirinya dan enggan untuk memiliki sikap pemaaf. Dalam hal ini, Allah pun pernah mengingatkan kepada diri kita, sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Baqarah [2]:263, “perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”
Bahkan dalam pandangan para ulama, seorang Muslim bukan hanya dituntut sekadar memberikan maaf. Sebagai manusia -dalam konteks hablun minannas- juga diperintahkan untuk berbuat baik kepada siapapun yang pernah berbuat salah kepadanya. Setiap orang yang berkemauan dan berkemampuan untuk berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah kepada dirinya akan mendapatkan ‘kedudukan tinggi’, pujian dan pahala yang baik dari Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. asy-Syura [42]:40: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dzalim.”

Akhirnya, dengan memahami spirit QS. al-Fajr [89]:27-30 (Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-KU, dan masuklah ke dalam surga-Ku), yang perlu selalu diingat: “upayakan agar sikap pemaaf yang pernah kita bangun di dalam diri kita selayaknya selalu melekat pada diri kita. Jadikanlah sikap pemaaf itu sebagai pijakan awal bagi diri kita untuk menjadi insan mulia, yang selalu hadir dimana dan kapanpun dengan akhlak terpuji”. Dengan modal dasar ‘sikap pemaaf’ yang telah kita miliki, semoga diri kita benar-benar menjadi pribadi yang selalu berkemauan dan berkemampuan untuk mencintai dan-dampak positifnya-menjadi seseorang yang dicintai oleh Allah. Selanjutnya, bias positifnya adalah: “menjadi pribadi yang berkemauan dan berkemampuan untuk mencintai siapa pun, sehingga-konsekuensi positifnya-dicintai oleh setiap makhluk Allah. Karena, dengan bekal sikap pemaaf, diri kita akan menjadi orang yang selalu termotivasi untuk beribadah kepada Allah dan membangun silaturahim antar-sesama makhluk Allah dengan hati yang tenang dan lapang”. [islamaktual/sm/muhsinhariyanto]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top