Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Suatu kali Rasulullah menyaksikan seseorang yang sedang shalat sambil memainkan janggutnya. Rasulullah kemudian bersabda : “Seandainya hati orang itu khusyuk, seluruh anggota tubuhnya juga khusyuk”. At-Thabari menyatakan khusyuk sebagai rasa takut penuh ketundukan yang tertanam dalam kalbu. Khusyuk identik dengan ketenangan bathin, yang memancar dalam lahir. Gerak tubuh dan hati ketika ibadah maupun dalam sikap hidup sehari-hari haruslah memancarkan cahaya keutamaan.
Kalbu, dimana rasa khusyuk dan segala esensi bathin itu bersemi merupakan instrumen sangat penting dalam diri manusia. Rasulullah bersabda, “Ketahuilah, bahwa dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal daging (mudlghah). Bila segumpal daging itu bersih maka bersihlah seluruh tubuh. Dan bila segumpal daging itu rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu ialah kalbu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hati (kalbu) menurut al-Hakim at-Tirmidzi memiliki relasi dengan al-shdar (hati lapis luar), al-fu’ad (hati lapis dalam), dan al-lubb (hati lapis paling dalam atau inti).
Esensi kalbu itu ruhaniah, bukan fisik. Al-Ghazali menyebutnya lathifah rabbaniyyah ruhaniyyah, sesuatu yang lembut yang dianugerahkan Tuhan dan bersifat ruhani alias tidak kasat mata. Sifat kalbu sebagaimana makna harfiahnya, cenderung berubah-ubah tergantung pada kekuatan jiwa yang menggerakkannya. Penggeraknya ialah kecenderungan jiwa, yang ber bersifat fuzara (buruk) versus muttaqa atau baik (QS. asy-Syams [91] : 9-10).
Kalbu itu tempat berseminya iman. Allah berfirman : “Mereka adalah orang-orang yang Allah tuliskan keimanan dalam hati mereka” (QS. al-Mujadilah [58] : 22). Dimensi iman, bahkan ma’rifat bi al-qalbi, memakrifatkan dengan hati, disamping mengikrarkan dengan lisan (wa iqrar bi al-lisan) dan melaksanakan dengan perbuatan (wa amalu bi al-arkan). Iman telah menjadikan manusia tenang hatinya (QS. an-Nahl [16] : 106), dan manusia beriman tenteram hatinya karena senantiasa berdzikir kepada Allah. Namun iman sebagaimana sifat kalbu tidaklah statis, sering terkena hukum pasang-surut sejalan dengan ketaatan versus keinkaran pelakunya.
Maka kalbu harus dicerahkan agar membuat iman senantiasa pasang dan tidak surut, sekaligus tidak menjadikan dirinya rusak dan sebaliknya menjadi sehat. Nazmudin Amin Qurdi menyebut proses ruhaniah menjadikan kalbu itu tetap menjadi sarangnya iman dan tetap jernih sebagai proses tanwir al-qulub, yakni ketika iman dalam hati dididik untuk memancarkan amal serta kebaikan yang memiliki sifat keilmuan yang melampaui kasat mata, fi mu’amalat alim al-ghuyub. Bagaimana agar seluruh proses iman, ibadah, dan gerak hidup setiap Muslim memancarkan kalbu yang melahirkan kebaikan ilmu dan amal yang serba utama.
Jangan merasa paling ber-Islam, beriman, berihsan dan bertakwa lebih daripada orang lain. Ketika merasa lebih, boleh jadi pada saat itulah terjadi peluruhan ke-Islaman, keimanan, keihsanan, dan ketakwaan seseorang. Sikap semuci (merasa paling suci) itulah yang sering menjebak pada ke-Islaman verbal sebagaimana orang shalat memainkan janggutnya, sehingga Islam tak bertautan dengan hati dan tindakan kecuali lisan dan gerak tubuh. Semakin tinggi klaim dan keilmuan seseorang dalam ber-Islam, biasanya kian tinggi pula terpaan keimanannya, sehingga sering terjebak pada ketidak-konsistenan antara kata dan perbuatan. Kalbunya sekadar raga fisik, bukan ruhani yang hidup dengan keimanan yang fitri atau autentik.
Mencerahkan kalbu (tanwir al-qulub) berarti membebaskannya dari nafsu serba buruk (al-fuzara) menuju jiwa sarat keutamaan (al-muttaqa) yang selalu bertarung dalam diri orang beriman. Mencerahkan kalbu sama dengan proses ruhaniah yang selalu mensucikan jiwa yang fitri dan tidak mengotorinya. Sekaligus membebaskan kalbu itu dari atribut dan keberagaman serba verbal menuju tangga hakikat dan makrifat dibimbing nilai-nilai Ilahi, yang membuahkan perilaku dan amal serba kebajikan.

Hidup orang beriman tidak cukup bersandar pada nalar rasio dan beragama secara formal. Keniscayaan irfani yang melahirkan kekayaan ruhaniah juga menjadi mozaik terindah. Sebab, tidak sedikit orang beriman terjerumus pada buta kehidupan karena kalbunya mati dalam tawa verbalitas. Lantang bicara serba kebaikan, tetapi kata tak sejalan tindakan. Menunjukkan jalan hidup lurus, tetapi dirinya sesat jalan. Itulah sosok mereka yang punya hati tapi tak memahami esensinya, lahum qulubun la yafqahuna biha (QS. al- A’raf [7] : 179). [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top