Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Iman atau keyakinan penuh dan mendalam itu adalah urusan hati (qalbun). Sebagaimana telah diketahui, istilah ‘qalbun’ itu terambil dari kata ‘qalaba’ yang berarti ‘membalik’. Karena itu qalbun atau hati tersebut memiliki potensi untuk terbolak-balik. Kadang-kadang senang, kadang-kadang berbalik menjadi sedih, kadang-kadang menerima, namun tidak jarang berbalik menjadi menolak, dan sebagainya. Demikian penjelasan Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Tafsir al-Quran al-Karim, Tafsir atas Surat-Surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu (1997:305). Karena hati cenderung mebolak-balik seperti itu, maka tidak salah kalau Ibn Taimiyah, seperti dikutip oleh HAMKA, dalam bukunya yang berjudul Pelajaran Agama Islam, mengatakan bahwa “iman ialah akidah dan amal; sebab itu dia bisa bertambah dan juga bisa berkurang” (1987:393). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa iman cenderung tidak stabil. Karena itu perlu perawatan yang relatif terencana dan terukur.
Kalau ditelusuri lebih mendalam tentang sebab-sebab naik turunnya kualitas iman ini, menurut hasil amatan penulis sekurang-kurangnya, berpangkal pada kemungkinan ketidakstabilan seseorang dalam mengelola kesadaran “aku(ego)”-nya. “Aku” atau “ego” inilah yang mendapat sorotan sangat tajam dalam al-Qur’an. Dalam pengalaman hidup sehari-hari, kita mungkin pernah bertemu orang-orang yang berwatak egoistis (yakni orang yang bersikap senantiasa mementingkan kepentingan diri sendiri) atau orang yang bersikap egosentris (yakni orang yang menjadikan dirinya sebagai pusat segala-galanya, baik dalam berpendapat maupun dalam bertindak). Orang-orang yang berwatak egoistis dan bersikap egosentris ini adalah orang-orang yang meletakkan aku-nya, ego-nya pada tingkatan yang berlebih-lebihan. Orang-orang tersebut boleh dikatakan ‘pemuja’ dirinya sendiri. Dalam al-Qur’an, orang semacam ini mudah jatuh menjadi manusia yang cenderung sombong yang pada akhirnya mengancam kesucian keimanannya. Al-Qur’an mencontohkan orang yang rusak iman akibat memuja diri sendiri ini adalah sebagaimana manusia yang bernama Fir’aun. Dia merasa besar, kuasa, dan kuat yang karena itu berani menantang Allah SWT, Tuhan yang diimani Nabi Musa as.
Ada juga “aku (ego)” yang diposisikan sebaliknya, yaitu justru dijatuhkan martabatnya oleh si manusia itu sendiri. Ini digambarkan dalam al-Qur’anyang disitir dalam surat Quraisy, “Falya’buduu rabba haadza’l-bait” = Maka hendaklah mereka orang-orang Quraisy itu beribadah kepada Tuhan Yang Membina rumah ini (baitullah,Ka’bah) (QS. Quraisy [106]:3). Kenapa begitu? Sebab, suku Quraisy telah menjatuhkan martabatnya sendiri, “aku” mereka sendiri, di bawah makhluk yang sebenarnya lebih rendah daripada mereka, yaitu berhala-berhala yang hanya terbuat dari batu yang jumlahnya menurut catatan para sejarawan tidak kurang dari 360 buah dan dimasukkan serta disimpan dalam bangunan Ka’bah. Bagaimana mungkin “aku” manusia yang begitu mulia hanya dikalahkan di depan patung-patung batu yang dicari sendiri dan ditatah sendiri? Bagaimana mungkin seorang sosok manusia bisa sampai mau dan begitu khidmat bersimpuh di depan seonggok batu yang diam seribu bahasa dan bisa pecah jika dipukul? Kalau hal semacam ini terus-terusan dipakai dalam keyakinannya, maka pelan-pelan, tapi pasti, maka manusia-manusia yang berkeyakinan seperti itu akan membunuh habis kemampuan-kemampuan yang dimilikinya untuk meraih kemajuan dan kesejahteraan hidupnya. Energi pikirannya tidak akan mampu ter-fungsionalisasikan secara semestinya. Apalagi secara maksimal. Mereka akan hidup dengan orientasi pandangan ke”belakang” dan tidak akan peka terhadap orientasi hidup ke “masa depan”. Karena itu, agar “aku” dan “ego” orang-orang Quraisy menjadi berjalan di atas rel yang benar, yaitu tidak ditambah-tambah secara berlebih-lebihan yang menyebabkan egoistis dan egosentris, serta sebaliknya juga tidak dikurang-kurangi sampai seperti lebih rendah daripada kedudukan batu berhala. Maka Allah SWT memerintahkan agar kalau ingin ‘meng-hamba-kan’ diri maka lebih tepat adalah di hadapan Allah SWT (falya’ bu-duu rabba haadza-’l-bait) berupa amalan yang disebut ibadah. Dengan demikian, ibadah adalah cara yang konkret untuk meluruskan kembali dalam memaknai arti “aku” (ego) bagi setiap orang yang beriman. Kesadaran “aku” (ego) tidak mengapa kalau ingin dirasakan dan dinikmati, asal tetap dalam koridor “merasa dirinya hamba hanya di hadapan Allah SWT” yaitu dengan menghayati benar-benar makna dan tujuan beribadah kepada Allah SWT.

Tahsiin al-iiman (memperbaiki iman) pada hakikatnya dapat dilakukan secara teknis dengan cara melatih dan membiasakan untuk memperdalam perasaan selaku “hamba” (‘abdun) di hadapan Allah SWT dengan melaksanakan segala kewajiban ibadah yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW secara benar dan proporsional. Dalam tahsiin al-iiman tersebut tidak membesar-besarkan “aku” (ego) hingga menjadi egoistis dan egosentris yang bisa menjurus kepada tingkah laku syirik sebagaimana tingkah laku Fir’aun, juga tidak akan merendahkan martabat “aku” (ego) hingga menjadi pemuja batu-batu berhala yang sia-sia dan justru akan menurunkan kadar fungsi energi pikiran yang sangat berguna untuk mengubah nasib yang sebenar-benarnya. Wallahu a’lam bishshawaab. [islamaktual/sm/m.damami]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top