Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Sebentar lagi malam segera berubah wujud.
Pukul setengah empat pagi, alunan suara imsak membangunkan tidurku.
Entah mengapa aku merasa ada kedamaian mengetuk hati.
Ada kelembutan, ada kehangatan.
Ada banyak hal yang tak sanggup kujelaskan.

Ini bukan pertama kalinyaaku terbangun di pagi buta. Jauh sebelumnya, saat masih SMP dan hari-hari selanjutnya setelah pagi itu, aku terbangun secara spontan. Menikmati alunan ayat-ayat Allah SWT yang indah dan menenteramkan jiwa.
Aku tak pernah merasakan kedamaian seperti ini, bahkan saat beribadah dan menjalani tuntunan agama yang kuanut. Dari awal aku hanya mengakui adanya Tuhan yang satu, Tuhan Yang Maha Esa, meski dalam keyakinanku menganggap jika Tuhan ada tiga.
Ketidaknyamananku mencapai puncaknya saat aku mengikuti persekutuan doa (PD) di kampus. Aku bertanya kepada asisten pendeta tentang sifat Tuhan yang tri tunggal, tapi jawabannya selalu berbelit-belit. Aku tidak menerima jawaban yang logis. Karenanya aku kecewa, aku tidak nyaman mengikuti kegiatan agama yang sebenarnya mulai kuragukan kebenarannya.
Setelah berulang kali mendengarkan seruan imsak itu aku mulai tertarik pada Islam. Dengan beberapa buku referensi yang kudapatkan dari teman sekantor, aku mencari tahu tentang ajaran rahmatan lil ‘alamin itu. Aku belajar bagaimana gerakan shalat, bacaan shalat dan lain sebagainya. Bahkan saat bulan Ramadhan tahun lalu aku coba-coba untuk berpuasa. Tapi aku tak ingin banyak teman yang tahu. Saat ditanya kenapa tidak makan, aku hanya menjawab kalau sedang diet.
Ada beberapa teman yang meragukan kesungguhanku belajar Islam. Mereka hanya menganggapku main-main saja. Namun aku tak mempedulikannya. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik. Beberapa hari kemudian aku menyampaikan ketidak yakinanku kepada mama. Tapi beliau tidak menanggapinya dengan serius. Beliau berkata jika urusan percaya atau tidak percaya itu masalahku sendiri.
Dengan tanggapan seperti itu, aku menganggap jika mama telah memberiku lampu hijau jika nantinya aku menentukan pilihan. Maka, beberapa hari menjelang Idul Fitri 1433 H, aku memutuskan untuk mengucap dua kalimat syahadat di Masjid Al Falah Surabaya bersama dua orang teman sebagai saksi.
Setelah berikrar aku menangis sejadi-jadinya. Entah mengapa aku menangis. Bukan merasakan penyesalan, bukan juga karena lara hati. Hanya rasa lega yang menyeruak dari dalam hati.
Melunakkan Hati Mama
Setelah itu, kuberanikan diri menyampaikan keislamanku pada mama. Aku sudah siap dengan apapun reaksi yang akan beliau tunjukkan, biarpun diusir aku sudah siap. Sesudah kusampaikan semuanya, beliau hanya diam lalu bersembunyi di balik selimutnya. Aku tahu beliau menangis. Aku tak tega melihatnya, kemudian dengan berat hati aku tinggalkan beliau di kamar untuk menenangkan diri.
Keesokan harinya mama menjadi gampang marah. Ditanya sedikit, jawabannya membentak, menyakitkan hati. Kata adik, beliau tidak terima dengan keputusanku menjadi muallaf. Melihat respon seperti itu, aku hanya bisa bersabar dan mendoakannya.
Sebenarnya kekecewaan mama itu tidak mengherankan. Di dalam keluarga, hanya aku dan mama yang menganut Kristen. Sedangkan ayahku seorang muslim. Keempat kakak dan satu adikku juga menganut islam. Praktis aku adalah satu-satunya harapan mama untuk meneruskan kepercayaannya.
Di hari-hari berikutnya aku coba menenangkan hati mama. Apapun yang beliau inginkan aku turuti. Kemanapun beliau ingin pergi, aku antarkan. Yang terpenting mama senang dan lebih tenang. Alhamdulillah lama-kelamaan lunak juga hati mama.
Namun, secara terang-terangan beliau mengungkapkan jika tidak ingin dibawa masuk Islam. Aku bisa mengerti hal itu. Aku tidak akan memaksa mama, kecuali hal itu datang sendiri dari hatinya. Yang bisa kulakukan kini hanya mengajak beliau sharing ilmu Islam yang kudapat dari buku maupun bimbingan ustadz. Berharap ilmu itu dapat tertular kepadanya.

Kini, selain mengikuti bimbingan muallaf, aku sedang belajar mengaji. Setelah masuk Islam aku merasakan ketenangan. Aku lebih nyaman dalam beribadah. Selain itu, hingga saat ini akupun masih bangun pagi dan menikmati alunan imsak yang indah. Subhanallah. [islamaktual/alfalah/rahmayunia]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top