Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Merujuk pada surat al-Qashash [28]:52. Hidayah dapat diartikan sebagai petunjuk yang dapat “menjinakkan hati” yang tidak beriman kepada Allah SWT lalu menjadi Mukmin melalui proses. Ber-Islam adalah hak prerogatif Allah. Hidayah yang satu ini memang tidak bisa “dijemput” oleh siapapun.
Oleh karena hidayah itu tidak selamanya berkaitan dengan “perubahan keryakinan” dalam beragama, maka setiap muslim perlu “menjemput” hidayah-hidayah yang terkait dengan ajaran dan nilai utama bagi kehidupan masa kini dan mendatang. Salah satu hidayah itu adalah petunjuk untuk menjadi semakin taat dan bertakwa kepada Allah SWT. Setiap muslim wajib menjemput berbagai hidayah dari al-Qur’an dan as-Sunnah agar tetap berada di jalan yang benar dan lurus.
Setiap muslim bahkan wajib berdoa untuk meminta hidayah “jalan yang benar dan lurus” setiap kali melaksanakan shalat. “Tunjukkan kami jalan yang benar dan lurus” (QS. al-Fatihah [1]:6), adalah ayat yang wajib dibaca oleh orang yang shalat. Menurut Sayyid Quthb, penulis tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an, do’a meminta hidayah “jalan yang benar dan lurus” itu lebih komprehensif daripada do’a: Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban naar. Karena baik tidaknya seseorang dalam hidup di dunia maupun di akhirat sangat ditentukan oleh hidayah jalan yang benar dan lurus tersebut. Sedangkan Muhammad Abduh dalam tafsirnya, Al-Manar, memaknai “hidayah berada di jalan lurus” itu adalah ajaran Islam. Artinya, menjemput hidayah berarti berusaha memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara istiqomah (penuh komitmen dan konsistensi, tidak setengah-setengah, dan tidak asal-asalan).
Menjemput hidayah pada dasarnya merupakan proses “imanisasi dan islamisasi diri”. Proses ini menghendaki reformasi iman, ilmu dan amal. Hidayah tidak akan mengakar kuat dalam diri seseorang jika kadar imannya lemah. Karena iman itu fluktuatif (naik-turun) -seperti dikatakan al-Ghazali (w. 1111 M)- maka iman perlu di-refresh (disegarkan dan dicerahkan) secara terus menerus.
Iman dapat dicerahkan dan diaktualisasikan dengan ilmu. Ilmu harus terus dicari dan dikembangkan agar membuahkan amal yang baik dan bermakna, berupa keshalihan personal, sosial, moral dan kultural. Iman yang dilandasi ilmu (iman ilmiah) dan ilmu yang berakar pada iman yang kokoh (ilmu imani) dapat melahirkan amal yang berdaya guna dan bernilai bagi kemanusiaan.
Karena itu, ketika murid-muridnya “protes” kepada sang guru lantaran sudah jenuh dan tidak dipindah-pindah ke pelajaran (surat al-Qur’an) baru, yang berarti secara kognitif mereka sudah berilmu, Kiai Ahmad Dahlan bertanya singkat kepada mereka: “Sudahkah ilmu dan pesan moral yang terkandung dalam surat al-Ma’un itu sudah kalian amalkan dalam bentuk gerakan sosial yang bermanfaat bagi kemanusiaan?” Dengan pendekatan teologi transformatif, model pembelajaran dan aktualisasi hidayah ala Kiai Ahmad Dahlan ini kemudian membuahkan dua pelajaran terpetik (lessons learned) sekaligus. Pertama,  hidayah (baca: ilmu dari nilai) dari al-Qur’an tidak bermakna jika tidak ditindaklanjutidan dikembangkan dalam bentuk amal usaha (jihad sosial) yang bermanfaat bagi umat. Kedua, metodologi tafsir transformatif yang sangat efektif dalam memahami dan menterjemahkan dalam pesan-pesan Kitab Suci menjadi gerakan sosial kultural yang berorientasi kepada perubahan dan perbaikan kualitas umat.
Muhammad Iqbal, tokoh pembaru pemikiran Islam asal Pakistan, pernah ditanya: “Mengapa dewasa ini umat Islam mengalami kemunduran, padahal al-Qur’an yang dipedomaninya saat ini sama dengan al-Qur’an yang dipedomani ketika umat Islam maju?” Iqbal menjawab singkat, “Dewasa ini, umat Islam mundur karena al-Qur’an lebih sering dibacakan kepada orang-orang yang sudah mati, daripada dibacakan kepada orang-orang yang masih hidup dan berpikir.”

Jawaban Iqbal tersebut menginspirasi kita semua untuk menyatakan bahwa al-Qur’an harus terus dijadikan sebagai hidayah, bukan dibacakan kepada yang sudah mati sebagai hadiah. Sebagai hadiah, yang mendapat manfaat -kalau memang benar memberi manfaat- hanyalah mereka yang sudah di alam kubur. Sebaliknya, dibaca sebagai hidayah, manfaatnya akan menjadi sumber nilai, inspirasi, motivasi dan transformasi bagi umat manusia yang masih hidup. Jadi, selagi masih hidup, amalkanlah selalu perintah pertama Allah SWT dalam kitab suci-Nya: Iqra’ bismi Rabbik (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu). Dengan falsafah iqra’ ini, kita bisa proaktif menjemput hidayah dan menghadirkannya di tengah-tengah kehidupan kita. Bukankah banyak orang yang mengaku beragama Islam tetapi masih jarang membaca al-Qur’an, apalagi memahami dan mengamalkan pesan-pesan moralnya? [islamaktual/sm/muhbibwahab]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top