Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


oleh : Hermansyah
Akhir-akhir ini santer diberitakan di media terkait prediksi para pakar ekonomi syariah bahwa ke depan Indonesia akan menjadi kiblat keuangan syariah dunia. Prediksi tersebut bukanlah omong kosong belaka jika kita melihat potensi yang dimiliki bangsa ini. Mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam menjadi modal penting dalam mengantarkan bangsa ini menjadi pusat keuangan syariah dunia.
Sejak beroperasinya Bank Muamalat Indonesia sejak 1992, kini perbankan syariah terus mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Jika mengacu pada data yang dikeluarkan oleh OJK, hingga Februari 2014, aset yang dikelola oleh 11 bank umum syariah, 23 unit usaha syariah bank dan 163 bank perkreditan rakyat (BPR) syariah mencapai Rp. 234,08 triliun. Sementara angka pertumbuhan mencapai 18,8% year on year (yoy).
Namun perlu kita sadari juga, untuk menjadi pusat keuangan syariah dunia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Masih ada beberapa kendala yang perlu dibenahi agar bangsa ini benar-benar mampu menjadi contoh dalam pengembangan ekonomi syariah. Salah satu kendala klasik yang masih menjadi penghambat adalah pemahaman publik tentang ekonomi syariah -yang masih terbilang minim. Hal ini disebabkan karena belum maksimalnya sosialisasi terkait ekonomi syariah kepada masyarakat luas.
Veiyhzal Rivai dan Antoni Nizar Usman dalam “Islamic Economics and Finance” (2012) mengatakan, sosialisasi yang telah dilakukan kepada masyarakat luas belum dilakukan secara maksimal. Tanggung jawab sosialisasi ini tidak hanya di pundak para pebisnis Islam sebagai pelaksana operasional sehari-hari, tetapi tanggung jwab semua pihak yang mengaku Islam, baik perorangan, kelompok maupun instansi, yang meliputi unsur alim ulama, penguasa negara dan cendekiawan.
Butuh Optimalisasi
Masyarakat Indonesia khususnya orang awam, harus memperoleh edukasi tantang apa itu ekonomi syariah. Ini sangat penting agar ke depan pengembangan ekonomi yang berdasarkan prinsip syariah benar-benar membumi di tengah-tengah masyarakat. Disinilah peran strategis pesantren dalam rangka mensosialisasikan ekonomi syariah kepada masyarakat. Pada tanggal 7 Maret 2013 lalu, dalam situs resminya Nahdlatul Ulama (NU) mencatat bahwa di Indonesia jumlah pesantren mencapai 24.000, terdiri dari pesantren bergaya tradisional, modern, dan kombinasi keduanya.
Dari jumlah pesantren yang begitu besar, banyak hal yang harus digali dalam rangka pengembangan ekonomi syariah. Sebab, di lembaga inilah terdapat perpaduan antara teori dan praktek di lapangan. Di pesantren diajari berbagai disiplin ilmu pengetahuan termasuk pendalaman fiqh muamalah. Di samping itu, pesantren memiliki koperasi atau Baitu Maal wat Tamwil (BMT) sebagai aplikasi dari teori yang telah diajarkan kepada santri.
Pesantrren Sidogiri Jawa Timur mungkin bisa menjadi contoh dalam pembumian ekonomi syariah. Pasalnya, perkembangan BMT di pesantren ini mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hingga tahun 2010 saja omzet keseluruhan mencapai Rp. 1,3 triliun dalam setahun. Cabang-vabang BMT dan Kopontren mencapai 180 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. BMT UGT Sidogiri setidaknya menjadi contoh dalam pengembangan ekonomi syariah di lingkungan pesantren.
Hamdan Rasyid (2012) mengatakan, bahwa pesantren memiliki dua peran strategis. Pertama, peran pengembangan keilmuan dan sosialisasi ekonomi syariah ke masyarakat. Hal ini karena pesantren diakui sebagai lembaga pengkaderan ulama dan da’i yang legitimed di masyarakat. Kedua, peran mewujudkan praktek riil teori ekonomi syariah dalam aktivitas ekonomi. Peran ini juga sangat strategis, mengingat masyarakat melihat pesantren sebagai contoh dan teladan dalam aktivitas sehari-hari.
Keberadaan pesantren memang sangat dibutuhkan dalam mensosialisasikan ekonomi syariah di kalangan santri dan masyarakat. Karenanya, ke depan harus ada terobosan-terobosan baru agar pengembangan ekonomi syariah di kalangan pesantren tidak stagnan. Setidaknya ada dua hal yang mesti dilakukan oleh pesantren dalam mengembangkan ekonomi syariah.
Pertama, mengoptimalkan pembelajaran fiqh muamalat. Hal ini penting untuk mencetak santri-santri yang paham akan transaksi yang sesuai dengan syariah, sehingga mereka bisa memberikan kontribusi khususnya dalam mengatasi persoalan SDM yang ada di lembaga keuangan syariah.
Kedua, pesantren perlu melakukan training terkait dengan manajemen dan akuntansi syariah. Oleh karena itu, pesantren perlu melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga keuangan lainnya, seperti bank syariah, BMT dan BPR-S.

Dengan terobosan ini penulis yakin pengembangan ekonomi syariah akan lebih membumi baik di kalangan santri maupun masyarakat sekitar pesantren. Jika potensi yang dimiliki bangsa ini sudah diberdayakan denganbaik, maka prediksi Indonesia menjadi kiblat keuangan syariah dunia akan segera terwujud dan tidak menjadi harapan kosong belaka. [islamaktual/tabligh]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

1 comments:

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di sini

    ReplyDelete

Visit Us


Top