Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Marilah kita merenung sebentar. Kita sekarang dalam hidup ini berkesempatan menikmati segala kenikmatan yang ada di dunia ini. Kita bisa menikmati cahaya dan warna, kita bisa mendengarkan suara dan nada yang merdu, kita bisa membau wewangian, kita bisa menikmati hidangan makanan dan minuman, dan kita bisa merasakan kehalusan serta empuknya benda-benda. Hal itu semua karena kita telahi dilahirkan ke alam dunia ini. Lain pertanyaannya, siapa yang berjasa besar atas proses-proses kelahiran kita ke alam dunia tersebut?
Al-Qur’an menjawab, bahwa kelahiran manusia ke alam dunia ini berkat jasa Allah SWT dan dua orangtua (bapak dan ibu) (QS. Luqman [31] : 14). Kita bersyukur kepada Allah SWT karena Allah SWT menghendaki kita khir ke alam dunia ini dengan selamat. Kita berterima kasih kepada orangtua kita karena keduanya siap menerima konsekuensi kelahiran kita ke alam dunia ini.
Pertanyaan selanjutnya, siapa yang paling menanggung kepayahan dari proses-proses kelahiran kita tersebut? Tanpa mengecilkan arti seorang “bapak”, yang jelas, yang amat berjasa dalam hal ini adalah seorang “ibu”. Digambarkan dalam al-Qur’an, seorang ibu yang akan melahirkan seorang bayi dari darah-dagingnya sendiri akan mengalami peristiwa yang bersifat kronologis dari waktu ke waktu selama kurang lebih 9 (sembilan) bulan 10 (sepuluh) hari. Dalam rentang waktu tersebut si calon ibu akan menanggung kelemahan atau kerapuhan yang luar biasa.Istilahnya dalam al-Qur’an disebut ‘wahn’ (QS. Luqman [31] : 14). Sebab dalam rentang waktu tersebut tubuh sang calon ibu harus mensuplai untuk 2 (dua) nyawa, yaitu dirinya sendiri dan jabang bayi dalam rahimnya sekaligus. Karena itu, tubuh harus bekerja ekstra keras. Digambarkan tingkat kesukaran yang dialami seorang calon ibu tersebut dengan kata kunci “kurhun”, kesusah-payahan yang mau tidak mau harus ditanggungnya, sejak masa mengandung, melahirkan dan diteruskan meneteki yang keseluruhannya memakan waktu 30 bulan (QS. al-Ahqaf [46] : 15). Inilah pengorbanan untuk kemanusiaan bagi seorang ibu.
Sementara itu, al-Qur’an juga menegaskan, bahwa makhluk manusia perempuan di depan makhluk manusia laki-laki adalah digambarkan sebagai “harts”, sebagai ladang untuk bertanam (QS. al-Baqarah [2] : 223). Dalam ayat ini istilah manusia perempuan disebut dengan istilah “nisaa” yang kata ini berlekatan dengan kata “niswah” yang artinya suatu potensi untuk mampu melahirkan seorang anak (potensi reproduksi). Karena itu tidak herna kalau kaum manusia laki-laki memiliki ketertarikan luar biasa kepada kaum manusia perempuan. Sifat ketertarikan tersebut dalam al-Qur’an ditegaskan sebagai bawaan lahir dari watak kaum manusia laki-laki yang sebenarnya bersifat anugerah yang indah manakala disalurkan dengan cara-cara dan prosedur yang benar, yaitu sesuai dengan aturan agama. Laki-laki yang digambarkan seperti seorang “petani” penanamn benih, sedangkan perempuan digambarkan sebagai fungsi “ladang bertanam”, merupakan pasangan yang saling membutuhkan satu dengan yang lain.
Sungguhpun begitu, tidak jarang kata “harts” (ladang untuk bertanam) ini dimaknai berlebih-lebihan. Karenanya, menyebabkan pemaknaan yang tidak padatempatnya terhadap kaum perempuan. Seolah-olah kaum perempuan hanya dihargai dari sudut “biologi” saja. Seolah-olah kaum perempuan hanya sekadar tempat pelepasan hasrat seksual kaum laki-laki. Justru di hadapan Allah SWT, dari sudut pandang “rohani”, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan sama (QS. al-Ahdzab [33] : 35). Karena itu, tidak pada tempatnya menghargai kaum perempuan hanya dari aspek/sudut “biologis” saja (QS. Ali Imran [3] :14), melainkan harus diimbangi dengan penghargaan dari sudut pandang “rohani” yang sama-sama tingginya di hadapan Allah SWT. Terhadap kaum wanita, sekalipun kaum laki-laki berkecenderungan “syahwat” (ketertarikan kuat), namun kata “zuyyina” (QS. Ali-Imran [3] : 14) mengandung maksud agar ketertarikan itu dalam penyalurannya harus diatur sedemikian rupa sehingga tampilan yang indah dari “syahwat” tersebut mampu muncul secara proporsional, bukan “syahwat” sebagaimana perilaku binatang. Inilah sebabnya pakaian jilbab, yaitu pakaian yang memungkinkan (dalam arti memungkinkan bergaul di tengah-tengah pergaulan), tetapi perempuan tersebut aman dari gangguan dari pihak manapun juga (QS. al-Ahdzab [33] : 59) menjadi sangat dipentingkan.
Dengan jilbab ini pula, kekaguman “biologis” dari kaum laki-laki tetap tersalur secara terhormat dan terkendali (yaitu minimal kaum laki-laki masih berkesempatan untuk menikmati kecantikan wajah perempuan yang berjilbab), dan sekaligus memacu tingginya ketinggian martabat kaum perempuan dari sudut pandang “rohani” dari dalam relung hati kaum laki-laki (QS. al-Ahdzab [33] : 35).
Sebagai orang beriman, cara-cara inilah yang perlu diperhatikan dalam menjaga martabat kaum perempuan. Dengan cara-cara seperti itu pula maka keindahan “biologis” kaum perempuan tetap tertampilkan secara baik dan terukur, sekaligus penghargaan dari sudut pandang “rohani” kaum perempuan akan terhaga dengan sebaik-baiknya dalam pergaulan, utamanya di mata kaum laki-laki. Wallahu a’lam bishshawaab. [islamaktual/sm/m.damami]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top