Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Haditnya hidayah tak pernah pandang bulu. Hidayah bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Bahkan untuk seorang pendeta. Perenungan yang mendalam akhirnya mengantarkan Jerald Frederick Dirks, Psy.D mantan pendeta yang dinobatkan sebagai Ketua Dewan Gereja Metodis kepada hidayah Islam.
Dirks semenjak remaja aktif dalam organisasi Methodist Youth Fellowship, yang mengantarnya menjadi salah satu pengurus konferensi dan ketua distrik. “Saya juga menjadi ‘penceramah’ tetap dalam acara tahunan Youth Sunday,” kata Dirks. Pada usia 17 tahun, ia sudah menjadi mahasiswa di Harvard College. Tekadnya menjadi pastor sudah bulat. Oleh sebab itu, ia juga mendaftarkan diri ke kursus perbandingan agama yang berlangsung selama dua semester. Pengajar kursus itu adalah Wilfred Cantwell Smith, yang memiliki spesifikasi sebagai pakar Islam.
Di Harvard ia dijuluki “Hollis Scholar” karena Dirks menjadi salah satu calon mahasiswa teologi yang selalu diperhitungkan di akademinya. Ia lalu menjadi pastor muda di United Methodist Church, dan tak berapa lama kemudian mendapat lisensi sebagai pastor dari gereja tersebut.
Dirks lulus dari Harvard College tahun 1971. Ia lalu mendaftarkan diri ke Harvard Divinity School dan mendapat gelar Master of Divinity pada tahun 1974, setelah sebelumnya ditahbiskan masuk dalam jajaran kepastorang United Methodist Church. Selama menyelesaikan pendidikan seminarinya, Dirks juga menyelesaikan program pendidikan untuk menjadi rohaniwan di Rumah Sakit Peter Bent Brigham di Boston. Setelah itu, ia bertugas sebagai pastor di dua gereja United Methodist di daerah terpencil di Kansas, selama beberapa tahun.
Kemudian peristiwa penting tentang Islam itu terjadi. Pintu hidayah mulai terbuka ketika ia dan istrinya sedang menikmati liburan di Timur Tengah, 22 tahun silam. Dirks juga tak pernah menduga, perkenalannya dengan seorang Muslim Amerika yang bernama Jamal akan berimplikasi panjang dalam hidupnya. Pertemuan tersebut terjadi pada musim panas 1991.
Ketika itu, Dirks dan istri nya, Debra, tengah melakukan penelitian tentang sejarah kuda Arab. Jadi, Jamal mem bantu keduanya menerjemahkan dokumen-dokumen berbahasa Arab untuk kepentingan penelitian tersebut."Kebetulan, Jamal juga seorang keturunan Arab," ujarnya.
Pertemuan pertama dengan Jamal berlangsung di rumah Dirks. Di situ, mereka membahas dokumen apa saja harus diterjemahkan nantinya.
Sebelum pertemuan ber akhir pada sore harinya, Jamal me minta izin kepada Dirks untuk melaksanakan shalat Ashar di rumah itu.
Waktu itu, Jamal menanyakan kepada Dirks apakah dia boleh menggunakan kamar mandi kami untuk berwudhu. "Dia juga meminjam sehelai kertas koran untuk digunakannya sebagai sajadah," kata Dirks.
Itu pertama kalinya Dirks dan istrinya melihat seorang Muslim melaksanakan shalat secara langsung dengan mata kepala sendiri. Ketika itu, Dirks mengaku sangat terkesan dengan gerakan-gerakan shalat yang indah.
Selama 16 bulan berikutnya, frekuensi pertemuan Dirks dengan Jamal perlahan-perlahan semakin meningkat hingga menjadi dua kali setiap pekannya. Kadang-kadang Dirks juga menyempatkan diri untuk bertamu ke rumah Jamal.
Selama mereka berinteraksi, Jamal tidak pernah sekali pun bercerita tentang agama Islam. "Dia juga tidak pernah menyinggung soal keyakinan saya atau membujuk saya secara lisan agar menjadi seorang Muslim," ungkapnya. Meski demikian, Dirks mulai mempelajari banyak hal tentang Jamal.
Mulai dari shalat yang dia tunaikan secara teratur hingga perilaku kesehariannya yang begitu menjunjung tinggi moral dan etika. "Saya juga kagum dengan cara Jamal bergaul dengan kedua anaknya," kata Dirks lagi.
Belakangan, hubungan pertemanannya dengan Jamal ternyata memiliki pengaruh cukup besar dalam perjalanan spiritual Dirks dan Debra. Karena, dari situlah keduanya mulai termotivasi untuk membaca lebih banyak lagi literatur tentang agama Islam.
Pada pengujung 1992, Dirks mulai meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar. Kendati demikian, dia masih ragu-ragu untuk memutuskan menjadi seorang Muslim.
Liburan
Pada Maret 1993, Dirks dan istrinya menghabiskan waktu liburan mereka selama lima pekan di Timur Tengah. Kebetulan pada waktu itu juga bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga mereka mendapati umat Islam di jazirah Arab itu tengah menjalani ibadah puasa.
"Saya dan Debra pun memutuskan, kami juga akan ikut berpuasa. Saya juga mulai melaksanakan shalat lima waktu bersama teman-teman Muslim lainnya selama berada di Timur Tengah," ungkapnya. Pengalaman tersebut menjadi kenangan unik bagi Dirks. Pasalnya, saat itu dia masih Kristen. Tambahan lagi, dia juga lulusan dari sekolah seminari bergengsi di Amerika. Dirks bahkan juga ditahbiskan sebagai pendeta dalam denominasi Protestan (Methodist) yang besar di negaranya itu.
Akan tetapi, dia tidak percaya pada konsep ketuhanan tritunggal dan keilahian Yesus. Jadi, ada semacam pergulatan intelektual ketika mempraktikkan ajaran Islam. "Sedang kan, pada saat yang sama saya belum lagi menjadi seorang Muslim," katanya.
Menjelang akhir liburannya yang panjang, Dirks dan Debra singgah ke Kota Amman, Yordania. Saat keduanya tengah berjalan-jalan di salah satu kawasan di kota itu, warga lokal (seorang pria tua) dari arah yang berlawanan menyapa pasangan suami istri tersebut dengan ucapan salam. "Assalamualaikum." Orang asing itu lantas menatap Dirks dan menanyakan apakah dia seorang Muslim karena menggunakan bahasa Arab. Mendapat pertanyaan seperti itu, Dirks hanya memiliki dua pilihan jawaban, na'am (ya) atau laa (tidak). "Alhamdulillah, saya akhirnya menjawab, na'am," ujar mantan pendeta itu.
Akhirnya, sekembalinya dari Timur Tengah, Dirks dan istrinya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Istrinya yang ketika itu masih berumur 33 tahun juga menjadi seorang Muslimah pada waktu yang sama. Setelah menjadi muslim, Dirks memperdalam pengetahuannya tentang Islam antara lain di Universitas Islam Imam Muhammad Ibn Saud di Arab Saudi pada tahun 1998. Pada tahun 1999, Dirks menunaikan ibadah umrah dan haji.

Sekarang, Dirks yang dikenal dengan nama Islam “Abu Yahya” menjadi salah satu cendekiawan muslim yang banyak menulis artikel dan buku tentang keagamaan. Ia juga menjadi memberikan kuliah tentang Islam di beberapa perguruan tinggi di AS, serta aktif dalam organisasi muslim di AS seperti ISNA, ICNA dan MAS. [islamaktual-dari berbagai sumber]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top