Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Sejumlah ulama yang tergabung dalam MUI serta organisasi Islam mendatangi gedung wakil rakyat di Senayan pada Rabu (4/2) kemarin. Melalui wadah bernama Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), para ulama ini melakukan audiensi dengan Komisi VIII di Gedung DPR.
Audiensi yang dilakukan antara ANNAS dengan Komisi VIII adalah sebuah upaya yang dilakukan oleh para ulama menanggapi keresahan mereka dan umat Islam secara umum di Indonesia terkait hal mengenai Syi’ah serta penodaan agama yang dilakukan oleh Syi’ah.
Ketua ANNAS, KH. Athian Ali Dai, MA dalam audiensi tersebut mengatakan, “Ajaran ini sesat dan sudah meresahkan. Pernah terjadi di Sampang, bentrokan antara Syiah dengan kalangan Nahdliyin” seperti dikutip islampos.com.
Menurut KH. Athian, perlindungan umat beragama tidak boleh dibarengi dengan kezhaliman terhadap mayoritas. Asas Ketuhanan harus diprioritaskan dari asas kemanusiaan dan bukan sebaliknya mengorbankan umat beragama atas nama HAM lanjut ulama asal tanah Pasundan ini.
Selain itu KH. Athian lebih jelas membeberkan kemungkinan konflik yang akan timbul ketika Syi’ah dibiarkan subur di Indonesia. Sampai saat ini, menurut beliau dengan berkembangnya gerakan Syiah sudah memicu terjadi konflik di berbagai daerah Indonesia, seperti di Sampang, Bondowoso, Jember, Bangil, Probolinggo, Lombok Barat, Pekalongan, Bekasi, Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasar, dan Yogyakarta.
“Konflik Sunni-Syiah yang terjadi saat ini di Suriah, Irak, Lebanon dan Yaman harusnya sudah cukup membuktikan bahwa konflik lebih besar bisa terjadi,” tutur Kiai Athian. Karena itu KH. Athian berharap pemerintah mau membuka mata serta serius menanggapi hal ini karena ada kemungkinan muncul konflik yang lebih besar melihat konflik seperti di Suriah, Irak, Lebanon dan Yaman.

Hadir dalam audiensi itu antara lain anggota Komisi VIII DPR RI Deding Ishak, Shodiq Mujahid, dan Arzeti Bilbina. Sedangkan wakil ulama antara lain, KH. Kholil Ridwan (MUI), Habib Zein Al Kaff (NU), KH. Ali Kharrar (NU) serta Fahmi Salim (Muhammadiyah). [islamaktual]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top