Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download



oleh : Dr. H. Arwin Juli R. Butar-Butar, MA.


Dalam Islam, tahun baru dimulai pada bulan Muharram yang merupakan bulan pertama dalam urutan bulan-bulan Hijriah. Bagi umat Islam, tahun baru Hijriyah memiliki arti penting di antaranya sebagai momentum perubahan. Secara historis, hijrah Nabi SAW terjadi pada bulan Rabiul Awwal. Namun seperti disepakati kaum Muslimin, kalender Islam dimulai dari bulan Muharram dan oleh karena itu sejak tanggal satu bulan ini disebut tahun baru hijriah. Bulan Muharram juga bagi umat Islam memiliki arti penting karena padabulan ini terdapat satu momen ibadah yaitu puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Seperti dituturkan al-Qazwaini (w.682/1283) dalam ‘Aja’ib al-Makhluqat wa Ghara’ib al-Maujudat bahwa tradisi merayakan hari Asyura sesungguhnya sudah dilakukan oleh orang-orang Yahudi sejak lama. Tatkala Rasulullah SAW hijrah dan sampai di Madinah, pada waktu itu komunitas Yahudi sedang melakukan ritual puasa Asyura karena menurut mereka pada hari itu merupakan hari tenggelamnya Fir’aun dan pengikutnya sehingga Nabi Musa a.s dan kaumnya selamat. Lantas, seperti diriwayatkan Muslim, Nabi SAW bersabda, “Aku lebih berhak terhadap Nabi Musa untuk berpuasa Asyura dari umat Yahudi” (HR. Muslim).
Dalam hierarkinya, bulan Muharram (bersama Dzulkaidah, Dzukhijjah dan Rajab) dikategorikan sebagai ‘bulan-bulan haram’, yaitu bulan-bulan dilaksanakannya ibadah haji. Bulan-bulan dalam kalender Islam secara berurutan adalah : Muharram, Safar, Rabiul Awwal, Rabiul Tsani, Jumadil Awwal, Jumadil Tsani, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawwal, Zulkaidah dan Zulhijjah. Secara bahasa, ‘muharram’ berarti sesuatu yang dicegah atau dilarang. Disebut demikian karena pada waktu itu dilarang melakukan aktivitas peperangan. Seperti dimaklumi, tradisi perang adalah rutinitas yang rutin dilakukan bangsa Arab pada zaman pra-Islam.
Dalam tradisi zaman silam, bulan Muharram adalah bulan yang dihormati dan diagungkan. Banyak para raja (pada zaman itu) tidak melakukan aktivitas apapun melainkan duduk santai di singgasana (kerajaan). Menurut penuturan al-Qazwaini lagi, terdapat banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini, antara lain: bulan diterimanya Taubat Nabi Adam a.s, bulan dilahirkannya Nabi Musa a.s, bulan dimana dingin (sejuk)nya api di tangan Nabi Ibrahim a.s, bulan diangkatnya adzab terhadap kum Nabi Yunus a.s, bulan kembalinya penglihatan Nabi Ayyub a.s, bulan dikeluarkannya Nabi Yusuf a.s dari penjara, bulan diberinya Nabi Sulaiman a.s tahta dan singgasana, dan sederet peristiwa lainnya. Selain itu, pada bulan ini juga (tepatnya tanggal 17) konon adalah peristiwa ketika pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah datang menyerbu Ka’bah, seketika juga itu Allah SWT mengutus burung Ababil dan menghancurkan Abrahah serta pasukannya.
Di era Islam kontemporer, tahun baru Hijriyah senantiasa dikaitkan dengan peristiwa penting yaitu pembentukan kalender Islam oleh Khalifah Umar ibn Khattab r.a pada tahun 17 H. Seperti dimaklumi, pada zaman pra-Islam, bangsa Arab belum memiliki sistem penanggalan resmi dan terpadu untuk digunakan antar kabilah. Pada umumnya masyarakat ketika itu memberi penanggalan berdasarkan peristiwa atau mengaitkan suatu peristiwa dengan angka tertentu. Kelahiran Abu Bakar ra misalnya ditetapkan dan disepakati tiga tahun setelah tahun Gajah. Tahun Gajah sendiri disepakati merupakan tahun kelahiran baginda Nabi saw. Penggunaan berbagai peristiwa sebagai dokumentasi penanggalan ini diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa bangsa Arab ketika itu belum mampu baca tulis, sehingga praktis kejadian suatu peristiwa kerap dijadikan standar.
Menurut al-Baltaji, penanggalan Arab pra-Islam ini masih bersifat perkiraan, artinya boleh jadi persisnya tahun suatu peristiwa terjadi satu bulan atau beberapa bulan sebelum atau sesudah terjadinya peristiwa itu. Dalam praktiknya, bangsa Arab pra-Islam sudah terbiasa menggunakan nama-nama bulan seperti yang sudah populer saat ini, yaitu Muharram, Safar, Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil AKhir, Rajab, Syakban, Ramadlan, Syawal, Dzulkaidah, Dzulhijjah. Dimana penggunaan nama-nama bulan ini senantiasa dikaitkan dengan momen dan musim tertentu.
Sementara itu di zaman Nabi saw -seperti dituturkan al-Biruni (w. 440/1048)-, masyarakat juga sudah terbiasa menamakan suatu tahun dengan nama-nama tertentu, dimana hal ini tidak ditentang oleh baginda Nabi SAW. Secara berurutan, nama-nama tahun yang dilalui baginda Nabi SAW adalah: tahun pertama disebut tahun izin, tahun kedua disebut tahun perintah, tahun ketiga disebut tahun pengawasan, tahun keempat disebut tahun kemewahan, tahun kelima disebut tahun gempa, tahun keenam disebut tahun kunjungan, tahun ketujuh disebut disebut tahun penaklukan, tahun kedelapan disebut tahun tropis, tahun kesembilan disebut tahun pembebasan, dan tahun kesepuluh disebut tahun perpisahan.
Penggunaan berbagai peristiwa sebagai penjadwalan waktu ini ditolerir dan disepakati oleh baginda Nabi SW oleh karena penanggalan berdasarkan peristiwa ini telah makruf di kalangan bangsa Arab sebelum Islam, sehingga ia terus digunakan. Apresiasi dan pentoleriran Nabi SAW ini sekaligus menunjukkan bahwa tradisi dan kearifan lokal dapat dijadikan perekat selama ia tidak bertentangan dengan syariat.
Seperti dimaklumi, dalam perkembangan awalnya komunitas Muslim hanya terpusat di dua kota (Makkah dan Madinah), karena itu kebutuhan akan penanggalan secara terpadu belum dirasa begitu penting. Namun ketika ekspansi Islam meluas ke wilayah-wilayah lain, disisi lain surat-menyurat antar-wilayah mulai berlaku, maka kebutuhan akan penjadwalan (penanggalan) di teritorial jazirah Arab semakin dirasa perlu. Al-Thabari 9w. 310/922) dan al-Biruni (w. 440/1048), dalam karyanya masing-masing meriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy’ari menulis surat kepada Umar ibn Khattab r.a menyatakan bahwa ia menerima catatan yang tak bertanggal. Meski dalam catatan tersebut tertera bulan Syakban, namun menjadi problem, Syakban kapan? Syakban tahun ini, tahun lalu ataukah tahun akan datang? Atas fenomena ini, khalifah Umar bermusyawarah kepada para sahabat untuk menyikapi problem administratif terkait penanggalan ini, dan lahirlah Kalender Islam atau disebut juga kalender Hijriyah.
Berbagai literatur sejarah menyebutkan bahwa di era Islam penanggalan dengan penomoran baru diterapkan pada masa khalifah Umar ibn Khattab r.a, tepatnya pada tahun 17 H. Penanggalan dengan penomoran ini belakangan disepakati dan diberi nama dengan “kalender Hijriah”. Disebut demikian karena ia didasarkan pada tahun hijrahnya baginda Nabi Muhammad SAW dan sahabat dari kota mulia Makkah ke kota bersinar Madinah. Usulan permulaan penanggalan ini sendiri merupakan usulan dari sahabat Ali ibn Abi Thalib r.a.
Seperti dikemukakan al-Thabari (w.310/922) lagi, tatkala sampai di Madinah, Nabi SAW telah memerintahkan kepada para sahabat untuk melakukan penjadwalan (kalender). Dan dalam kenyataannya para sahabat mempraktekkan penanggalan itu. Namun perlu dicatat bahwa penanggalan di zaman Nabi SAW ini hanya sebatas penamaan (bukan penomoran), yaitu penanggalan dengan menggunakan momen-momen peristiwa penting.
Ali Hasan Musa dalam karyanya “at-Tauqit wa at-Taqwim” menuturkan, ide pembuatan kalender ini (kalender hijriyah) muncul sebagai respon terhadap ketidak jelasan berbagai dokumentasi (surat menyurat) ketika itu. Dengan berbagai usulan, akhirnya disepakati awal kalender Islam dimulai dari tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, Dinamakanlah kalender tersebut dengan “Kalender Hijriyah”. Dan sejak zaman khalifah Umar langsung ditetapkan sebagai tahun 17 H yaitu tahun ketika Khalifah Umar memimpin.

Philip K. Hitti dalam “History of The Arabs” menjelaskan secara luas proses hijrahnya Rasulullah SAW dan sahabat dari Makkah ke Madinah (Yastrib). Dengan merujuk al-Thabari dan al-Mas’udi, Hitti mengemukakan setelah 17 tahun dari masa hijrah itu, Khalifah Umar menetapkan saat terjadinya peristiwa hijrah sebagai awal tahun Islam atau tahun Qamariah. Dan dalam penerapannya bulan Muharram dijadikan sebagai bulan pertama sekaligus dijadikan standar tahun baru Islam. [islamaktual/sm]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top