Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Bagi bangsa Indonesia, setiap tanggal 10 November diperingati sebagai “Hari Pahlawan”. Kata “Pahlawan” berasal dari kata “pahala” dan kata sandang “wan”. Kata “pahala” dari bahasa Kawi atau Jawa Kuno, yang artinya kegunaan atau ganjaran. Kata “wan” berarti memiliki banyak. Jadi kata “pahlawan” berarti orang yang banyak memiliki ganjaran.
Dalam agama Islam ada ungkapan ajaran, “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang panjang umurnya dan banyak amal kebajikannya”. Ungkapan seperti ini mengandung makna, bahwa hidup beragama itu pada hakikatnya adalah amal kebajikan. Oleh karena itu, hidup beragama harus dipenuhi oleh amal kebajikan secara nyata, bukan sekadar angan-angan, cita-cita bahkan bukan sekadar terbatas pada niat. Amal shalih harus menjadi sebuah kenyataan yang senyata-nyatanya.
Dalam al-Qur’an terdapat konsep gabungan antara iman dan amal shalih. Salah satu bentuk ungkapannya adalah dengan kata-kata “aamanuu wa’amilu-’sh-shaalihaati” (mereka beriman dan mengerjakan amal shalih). Bentuk ungkapan seperti ini, kalau dihitung secara keseluruhan dalam al-Qur’an, tidak kurang dari 46 kali (lihat: Kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaadh al-Quran al-Karim, hal 105-109). Jadi antara iman dan amal shalih hubungannya bagaikan wajah sebuah koin, di satu sisi wajah adalah “iman”, dan di sisi wajah yang lain adalah “amal shalih”. Mengapa dua hal tersebut digabungkan dalam sekian banyak ayat al-Qur’an? Paling tidak kalau diamati boleh jadi disebabkan hal-hal berikut. Pertama, iman ditempatkan pada kedudukan titik tujuan. Bahwa sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an, tidaklah Allah SWT menciptakan makhluk jin dan manusia kecuali agar jin dan manusia mengakui sifat kehambaannya di hadapan Allah SWT yang Maha Tinggi dan Maha Luhur. Itulah yang disebut “ibaadah”(ibadah).
Jadi, apapun yang dilakukan oleh manusia tidak lain bertujuan untuk ibadah, bukan untuk pemuasan kepentingan dan keinginan ‘aku’ (ego) manusia. Mengapa demikian? Karena sang ‘aku’ ini kalau mempunyai keinginan tidak pernah puas dan tidak pernah berhenti. Sebaliknya, kalau sang ‘aku’ ini merasa berhasil dalam usahanya, maka sang ‘aku’ tersebuat akan merasa besar, bangga, kuat dan sebagainya. Muncullah tampilan sombong, angkuh, arogan, besar kepala, suka meremehkan, menganggap enteng orang lain dan sebagainya. Kalau iman dijadikan tujuan, yakni dalam rangka beribadah, maka sifat-sifat buruk dan destruktif seperti itu tidak akan terjadi. Kedua, iman diperankan sebagai sumber cahaya kehidupan. Inilah yang disebut “dzikir” (senantiasa ingat kepada Allah SWT). Karena betapa pentingnya apa yang disebut “dzikir” ini, sampai-sampai Allah SWT menceritakan bahwa manusia yang mampu mencapai derajat “uulu al-albaab” adalah yang dalam dirinya senantiasa mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan berbaring (QS. Ali Imran [3]:191), tentu saja ketika berjalan, bekerja dan sebagainya, sementara dzikir itu dijanjikan oleh Allah SWT dapat membuat hati manusia menjadi tenang-tentram, “tathma’in al-quluub” (QS. ar-Ra’d [13]:28). Dengan begitu apa yang dikerjakan akan tidak mudah digoyang oleh ajakan-ajakan yang buruk dari luar. Mental menjadi kokoh dan stabil.
Pada hakikatnya, daya tarik (gravitasi) keduniawian, jebakan kehidupan lahiriyah-indrawi (hissy), indanh dipandang mata kepala dan tarikan ilmu berdasar eksperimen (hushuly), sangat kuat pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Kalau ini dibiarkan, maka hasil apa yang dikerjakan manusia akan mudah jatuh kepada hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan kontra-produktif. Agar hal-hal yang dikerjakan manusia bersifat bermanfaat dan senantiasa produktif, maka “daya tarik ke arah atas” diperkuat, yaitu keakhiratan untuk mengimbangi tarikan keduniawian, kehidupan bathiniah-rasa jati (dzauqy) untuk mengimbangi kehidupan lahiriah-duniawi (hissy), melihat dengan mata hati (bashirah) untuk mengimbangi indahnya sekadar pandangan mata kepala (ru’yah), dan tarikan ilmu karena penghayatan pengalaman (hudlury) sebagai penyeimbang tarikan ilmu yang sekadar hasil eksperimen atau percobaan dan logika (hushuly). Tegasnya, tarikan “habl mina-’nnas” (tali penghubung ke arah sesama manusia dalam praktek kehidupan sehari-hari).

Bahwa dengan iman sebagai tujuan dan dalam proses menjalani hidup ini, dalam segala hal, senantiasa ingat kepada Allah SWT, maka insya allah hasil dari kehidupan sehari-hari ini akan kaya amal shalih, amal yang tidak melenceng dari ketentuan berupa perintah dan larangan-Nya. Dengan demikian, seorang Mukmin yang benar-benar beriman, benar-benar “habl mina-’illah” dijadikan motivasi dan pengontrol hidup, adalah manusia Mukmin yang produktif. Bahwa sesungguhnyalah orang-orang semacam ini yang memiliki bakat menjadi ‘pahlawan’ dalam arti yang sebenar-benarnya, bukan sekadar diukur oleh berapa besarnya jasa kepada bangsa (patriotisme). Lebih tidak tepat lagi kalau sampai terjadi ada pemahaman, bahwa yang layak disebut ‘pahlawan’ adalah mereka yang secara formal berkesempatan dikubur jasadnya di taman makam pahlawan. Wallahu a’lam bishshawaab. [islamaktual/sm/m.damami]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top