Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dulu aku pernah memberikan kutbah di rumah-rumah anggota organisasi gereja, maka dari itu aku banyak menghafal ayat-ayat di Alkitab yang kuyakini. Sejujurnya aku ragu dengan sejarah agama yang dulu kupeluk. Ada pertentangan dalam batin kala membaca ayat itu.
Dalam agama Islam dikatakan bahwa Tuhan tidak beranak, namun mengapa di agamaku sebelumnya Tuhan beranak? Aku meragu, hati ini lebih yakin bahwa Tuhan itu tidak beranak.
Dulunya aku aktif dalam kegiatan keagamaan. Aku sempat memimpin organisasi kerohanian gereja dan memberikan pelayanan. Keaktifanku mulai terkikis ketika aku diterima kerja di salah satu perusahaan yang mengharuskan aku training di Jakarta.
Selama di Jakarta, aku bertemu teman-teman yang mayoritas muslim. Aku tertegun melihat teman-temanku itu rela tidak tidur atau bangun pagi buta untuk melaksanakan ibadah shalat. Padahal training dimulai jam 9 pagi. Aku salut melihat mereka yang begitu taat pada kewajibannya sebagai pemeluk agama Islam.
Ada yang lebih membuatku salut lagi, kejadian itu ketika aku istirahat kerja. Seusai makan siang dengan temanku yang muslim, kebetulan ketika itu kaki temanku sedang cidera dan terlihat agak kesulitan berjalan, namun betapa kagetnya ketika aku melihat dia mengambil air wudhu dan akan melaksanakan sholat.
Aku saja ketika sakit sedikit tidak mau pergi ke gereja. Tapi temanku itu tetap melaksanakan sholat walau kakinya sakit. Aku juga sempat mendengar ceramah seorang ustadz dari handphone teman, entah mengapa hatiku tersentuh seketika mendengar ceramah itu. Ingatan-ingatan itulah yang membuatku semakin tertarik dan penasaran dengan Islam.
Titik awal aku menemukan hidayah adalah ketika aku bermimpi. Dalam mimpi itu aku meninggalkan cahaya redup dan terus berjalan ke depan. Saat terus berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara adzan. Suara itu membuat hatiku bergetar, seolah-olah itu bukan mimpi tapi kenyataan. Disitulah aku bertemu dengan kedua orang tuaku yang telah tiada. Mereka seolah mengarahkanku pada cahaya terang yang ada di depanku.
Ya, aku merasa cahaya itu adalah Islam. Setelah berdiskusi dengan diri sendiri, dengan kemantapan hati aku mengikrarkan diri. Februari 2014 aku resmi menjadi seorang muslimah. Aku meresmikan ke-muallafanku dengan mengucap dua kalimat syahadat di Masjid Al-Falah Surabaya disaksikan temanku.
Waktu berikrar, pertentangan dalam bathin memang terjadi. Namun aku lebih mantap untuk maju menuju pintu Islam. Menurut ustadz yang membimbingku kala berikrar, memang pertentangan pasti terjadi, apalagi ketika mulai memperdalam ajaran-ajaran Islam.
Semakin mempelajari nilai-nilai Islam dan mengamalkannya, aku semakin yakin pada Islam. Alhamdulillah, seluruh keluarga yang mayoritas muslim mendukung keputusanku ini. Tak hanya mendukung, mereka juga menuntunku dalam menjalankan nilai-nilai Islam. Terlebih pamanku yang sekaligus menjadi motivatorku.
Sebelum masuk Islam, aku merasa diriku temperamen dan mudah menyerah. Sekarang, setelah menjadi muslimah, aku merasa lebih sabar dan optimis. Aku rasa ini juga sebab dari ajaran Islam yang membawa ketenangan bagiku.

Kedepannya, aku ingin menjadi muslimah yang taat menjalankan perintah agama, aku ingin keimananku lebih kuat lagi. Satu hal yang kusayangkanadalah aku tidak sempat mengajak kedua orang tuaku untuk ikut memeluk Islam, karena mereka sudah dipanggil Allah terlebih dahulu. [islamaktual/alfalah/noviesaridewi]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top