Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Koto Gadang, sebuah nagari di Kecamatan Ampek Koto. Terhampar indah di kaki Gunung Singgalang dan dikawal kota Bukittinggi dengan Ngarai Sianok-nya nan curam. Pada zaman Belanda, komunitas Koto Gadang relatif lebih maju ketimbang penduduk lain di Minangkabau secara kultural dan di Sumatera Barat secara provinsial. Indikasinya? Banyak warga Koto Gadang memposisikan diri sebagai pegawai negeri. Dalam bahasa nge-trend ketika itu disebut ambtenaar.
Selain mencemplungkan diri di dunia ambtenaar, kaum intelektual Koto Gadang juga menggeluti dunia politik. Dan, dalam konteks ini, kita mengenal Haji Agus Salim; Sutan Syahrir; dan Emil Salim. Mereka tak asing lagi bagi Indonesia. Bahkan, nama beliau-beliau menanjak ke tangga internasional.
Berdarah Intelektual
Mengacu buku berjudul Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat (1981), nama yang dibilang pertama yaitu Agus Salim, lahir di Koto Gadang pada 8 Oktober 1884, putera kelima dari St. Muhammad Salim-menakhodai Kantor Kejaksaan di Tanjung Pinang Riau. Sedang ayah Muhammad Salim, Abdur Rahman Dt. Rangkayo Basa, beliau juga membiduki Kantor Kejaksaan di Padang. Dengan begitu, Agus Salim, berdarah intelektual.
Karena berasal dari keluarga terdidik plus berotak brilian, jenjang pendidikan pertama yang dititi Agus Salim adalah Europesche Lagere School (ELS) di Koto Gadang. Tangga pendidikan setingkat SLTA itu dirampungkan beliau pada 1898. Lantaran mampu meraup prestasi tinggi, dengan gampang ia pun diterima di Hoegere Burger School (HBS), di Batavia (Jakarta). Karena berdarah intelektual jugalah, pengagum HOS Tjokroaminoto ini, mampu menyelesaikan studi di HBS tersebut pada 1903.
Mendalami Islam di Makkah
Pada 1906, Agus Salim ditawari pekerjaan sebagai pegawai Konsulat Belanda di Jeddah. Walau pada mulanya enggan, tapi atas seuntai nasehat ibunda tercinta, tawaran tersebut akhirnya beliau terima. Apalagi sang ibu, meneropong dari jauh, menasehati si jantung hatinya bahwa jika ia menjejakkan kaki di Jeddah, dua peluang terbentang di pelupuk mata, yaitu menunaikan ibadah haji dan mendalami ilmu agama (liyatafaqqahu fi addin). Apalagi saudara sepupunya, Ahmad Khatib al-Minangkabawy mukim/menetap dan menjadi guru tokoh pembaru Islam di Minangkabau. Setelah berhasil menggali kedalaman ilmu Ahmad Khatib, pada 1911 ia pulang ke Indonesia. Dan, pada tahun 1912 Agus Salim mempersunting Zaniatun Nahar -masih warga Koto Gadang. Dari perkawinan kafarah/serasi ini, mereka dikaruniai keturunan delapan orang.
Politisi & Negarawan Konsisten
Pada 1917, Agus Salim ditawari Belanda menjadi controleur belasting di Pontianak. Dilandasi sikap kenegarawanan dan konsistensi yang kental, serta cinta tanah air yang menukik, tawaran yang sekilas menjanjikan secara material itu, ditolak beliau mentah-mentah. Biar saya makan kerikil ketimbang jadi babu Belanda.
Bandingkan dengan segelintir politisi dan pejabat publik di zaman serba pragmatis kini. Selain kerap reses bahkan ke luar negeri -dengan dalih yang didalilkan demi mendongkrak kesejahteraan rakyat- tiap sebentar-sebentar minta: tambahan gaji; fasilitas; tunjangan; uang beras; tunjangan keluarga; dan entah apalagi terminologinya. Kondisi tak berkeruncingan itu tak hanya berkecambah di habitus legislatif level pusat, akan tetapi menjamah tingkat kabupaten/kota. Riskan memang!
Sementara rakyat yang diwakili tetap berkayuh dalam lumpur kemiskinan. Dan, yang membuat kita terhenyak-kemiskinan yang mereka idapkan meliputi kemiskinan: moral, intelektual, spiritual dan kemiskinan kultural.
Kembali pada sosok Agus Salim, guna mentransformasikan ilmu, Agus Salim terjun dalam dunia jurnalistik dengan mengelola Surat Kabar Neraca. Selain itu, diamanahi pula sebagai Pimpinan Redaksi (untuk seksi bahasa Melayu) pada kantor KBR alias Komisi Bacaan Rakyat. KBR ini merupakan embrio Balai Pustaka yang kita kenal sekarang. Sukses mebiduki Neraca, karir Agus Salim kian menanjak dalam dunia pergerakan nasional. Sebab, gagasan bernas yang diaktualisasikan, selain padat, substantif juga beliau sinergikan dengan esensi dan semangat Islam.
Disamping mampu menuangkan pokok pikiran di atas kertas, tokoh yang menguasai tujuh bahasa asing ini -juga tercatat sebagai orator ulung- yang punya magnet, getah dan gezah tersendiri-sesekali humoristik! Di zaman pra kemerdekaan, beliau pernah berpidato di depan publik basilingkik/berjubel. Menyelinaplah tiga pemuda kambiang haragi tigo tali (pemuda nyeleneh) sambil mengembik bak kambing -sebagai simbol mencemooh Agus Salim yang memelihara janggutnya. Dengan santainya Agus Salim berkata, “Tolong diamankan kambing-kambing itu, sebelum pidato ini saya lanjutkan!” Begitu sepinjit humoristik, tapi sarkastik (tegas) bila penyusun Tafsir al-Qur’an (1918) ini berpidato.

Berbeda benar dengan sebagian politisi dan negarawan kita kini! Jangankan menulis -kalau berpidato saja cenderung hanya membaca konsep yang dirakit anak buah. Lebih jauh dari itu, nyaris lah bagalanggang mato rang banyak (terang benderang), mereka hampir tak mampu meneladani sikap kenegarawanan Agus Salim. Yang mengemuka justru berpola hidup materialistik, pragmastistik dan hedonistik -dengan segala bentuk dan manifestasinya. [islamaktual/tabligh/abufariq]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top