Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Zubair ibn ‘Adi berkata: Kami pernah mendatangi Anas ibn Malik r.a, untuk mengutarakan keluh kesah kami kepadanya tentang perilaku buruk al-Hajjaj (ibn Yusuf). lalu beliau menjawab: “Bersabarlah kalian, sebab tidaklah kalian berada pada suatu zaman melainkan zaman setelahnya lebih buruk dari sebelumnya, sampai kalian menjumpai Rabb kalian (hari akhir). Aku mendengar hal ini dari Baginda Nabi SAW” (HR. at-Tirmidzi).
Hadits di atas merupakan motivasi bagi kaum muslimin agar senantiasa membekali putra-putrinya dalam menyongsong masa depan. Tantangan ke depan bukan saja terbatas di bidang ekonomi, tetapi juga sulitnya mendapatkan hak menikmati lingkungan yang sehat, informasi yang berkualitas, hiburan yang mendidik, figur pemimpin yang bermartabat, dan ulama yang bijak. Kesemua tantangan ini diawali dari memburuknya moralitas anak bangsa.
Kaum bijak selalu mengingatkan bahwa hancurnya umat ini berawal dari tarkul ‘ilmi wa jam’ul mal, yaitu karena meninggalkan ilmu dan ambisi mengumpulkan harta dunia. Kehancuran ulama berarti kehancuran manusia. Sebab ulama adalah penjaga wahyu Allah di muka bumi, dan penerus misi kenabian. Kerusakan suatu bangsa diawali dengan rusaknya seorang pemimpin. Kerusakan pemimpin disebabkan rusaknya ulama; dan rusaknya ulama karena cinta dunia.
Menjauhi ilmu dan ulama adalah induk segala kerusakan. Ibnu Mubarak mengatakan: “Siapa yang mengolok-olok ulil amri niscaya sirnalah dunianya, siapa yang merendahkan ulama maka lenyaplah akhiratnya, dan siapa yang menggunjing saudaranya, rendahlah pribadinya”. Menistakan kedudukan ulama berarti menganggap remeh kebaikan yang dimilikinya; menjauhi nasehat dan ilmunya tentang al-Qur’an dan Sunnah.
Sehingga menjadi alasan kuat bagi Allah untuk menistakan suatu negeri. Sebab kemuliaan satu kaum mustahil diraih dengan cara berpaling dari orang-orang yang menyeru kepada tauhid, mengajarkan kitabullah dan membimbing menuju kebahagiaan yang hakiki. Oleh karena itu, Imam Sakhawi berkata: Sesungguhnya kemajuan suatu bangsa itu tergantung pada pemukanya, jika hilang pemukanya oleh siapa lagi kehidupan ditata?
Dalam konteks keindonesiaan, pergeseran sistem sosial begitu cepat terjadi seiring era globalisasi. Peran ilmu dan ulama semakin dipinggirkan dalam pembangunan bangsa. Sebaliknya peran politisi dan pengusaha begitu kuat mengendalikan negara dengan mengedepankan pragmatisme, pencitraan dan kebijakan populis. Bersamaan dengan itu, tokoh-tokoh ateis militan dan sekuler radikal turut ambil bagian mewarnai sistem baru masyarakat Indonesia.
Seorang guru besar di salah satu kampus islam negeri yang gerah dengan fenomena menguatnya kritik terhadap atheisme dengan lantang menulis: “Kenapa kita ribut menyalahkan orang ateis, bahwa ateis adalah musuh orang ber-Tuhan. Padahal Tuhan sendiri ateis. Ia tidak ber-Tuhan” Sayangnya, orang sepertinya justru kini diberi posisi mengurus kepentingan umat Islam di salah satu departemen negara.
Inilah tantangan umat terbesar dewasa ini, ketika pelbagai posisi strategis keumatan diserahkan kepada orang-orang jahil. Kejahilan orang-orang semisal ini bukanlah kejahilan yang ringan, karena ketidak tahuan tentang apa yang seharusnya diketahui. Tetapi merupakan kejahilan tingkat berat, dimana pelakunya tidak lagi mengenali arti kebodohan (the highest level of jahl is to be unaware of ignorance). Imam al-Khalil ibn Ahmad menggambarkan mereka sebagai orang yang tidak tahu dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu, atau biasa disebut jahil murakkab (bodoh kuadrat).
Sebagai langkah awal menuju kebangkitan kaum muslimin, diperlukan penguatan komunitas untuk memobilisir gerakan cinta ilmu dan ulama. Sudah waktunya di setiap kecamatan dikaderkan minimal satu orang ulama yang spesialis dan mumpuni dalam ilmu-ilmu keislaman. Program kaderisasi ulama ini bukanlah perkara ringan, karena disamping memerlukan waktu yang tidak pendek tetapi juga dana yang tidak sedikit. Jika saja ada sekelompok kaum muslimin di setiap kecamatan yang memotori hal ini, niscaya kemuliaan dan keridaan Allah SWT selalu menyertai mereka, insya allah.
Peradaban Islam berdiri kokoh selama berabad-abad di atas bangunan ilmu. Sebuah peradaban yang menyatukan konsep pembangunan material dan spiritual, antara iman, ilmu dan amal. Lembaga-lembaga pendidikan yang menjadi tempat persemaian manusia-manusia unggulan diharapkan bisa mendasari setiap aktivitasnya pada integrasi iman, ilmu dan amal.
Agar tidak terjadi disorientasi, pendidikan, Imam al-Ghazali pernah berwasiat: “Ilmu saja tanpa amal adalah gila, dan amal tanpa ilmu adalah sombong. Oleh karena itu Islam mengajarkan bahwa keimanan harus ditanamkan dengan ilmu; ilmu harus berdimensi iman; dan amal mesti berdasarkan ilmu.”
Konsep keterpaduan ilmu, iman, dan amal inilah yang melahirkan probadi-pribadi yang muhsin. Pribadi-pribadi yang tidak saja adil terhadap lingkungan dan komunitas persekitaran, tetapi juga memberi ihsan kepada peradaban dunia. Sebuah peradaban yang selalu mempertautkan segala aktivitas dunia dengan tujuan ukhrawi.

Kebangkitan umat di persada nusantara hanya terwujud jika terjadi sinergi antara jihad ilmu ulama bijak, dan jihad harta orang-orang kaya. Menyibukkan diri dengan maslahat yang besar akan mendatangkan kecintaan Allah. Sebaliknya sikap acuh kita adalah pertanda ketidak pedulian Allah SWT kepada kita. Kitab Ayyuhal Walad al-Muhib mengingatkan: “Diantara tanda diabaikannya seorang hamba oleh Allah adalah dibiarkannya hamba itu menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat baginya.” [islamaktual/alfalah/henrishalahuddin]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top