Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Nabi Muhammad pada suatu kali didatangi orang Badui yang kasar. Orang dari pedalaman Arab itu meminta gandum dan kurma sambil menarik kerah gamis Nabi hingga leher beliau tampak sedikit lecet. “Bukankah engkau Muhammad suka memberi kepada orang dengan suka hati,” ujar Badui itu. Para sahabat seperti Umar bin Khatthab sampai marah dan hendak menangani Badui itu. Tapi Nabi melarangnya, sambil tersenyum beliau memberikan apa yang diminta Badui itu.
Pada kesempatan lain, Nabi membagikan harta rampasan perang. Ada orang yang bicara di belakang menggunjing Nabi yang dianggap tidak adil. Berita tak menyenangkan itu sampai kepada Nabi. Nabi sampai merah merona mukanya, namun beliau mampu menahannya. Nabiyullah itu bahkan berkata, “Semoga Allah mengasihi saudaraku Musa alaihissalam, yang diperlakukan buruk dan menyakitkan sekalipun, Musa selalu sabar menghadapinya.” Nabi begitu rendah hati untuk mencontoh kebaikan para Nabi sebelumnya.
Nabi akhir zaman itu dikenal memiliki sifat al-hilm, lembut dan lapang hati, hatta ketika marah sekalipun. Sifat al-hilm bukan dungu tanpa rasa marah, tetapi juga jauh dari sifat ghadhab atau tahawwur alias serba mudah marah. Inilah sifat yang dilukiskan dalam al-Qur’an : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.  Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali Imran [3] : 159).
Para pengikut Nabi Muhammad tentu harus meneladani sikap Nabi yang halus dan lapang hati itu, jika mengklaim diri ingin mengikuti Sunnah. Mengikuti Sunnah bukan sekedar yang gampang dan menyenangkan, lebih-lebih sekedar atribut-atribut fisik dan luaran. Mengikuti jejak Nabi tidak kalah penting dan utama ialah dalam urusan-urusan yang berat, termasuk dalam berperilaku sehari-hari yang menyangkut kendali diri seperti menahan marah dan lapang hati dalam menghadapi hal-hal yang tidak enak. Bukan dalam urusan yang enak dan mudah belaka.
Bersikap baik dan lapang hati terhadap orang yang berbuat baik tentu dianjurkan, namun lumrah sifatnya. Wajar kalau kebaikan orang dibalas dengan kebaikan  serupa. Namun berbuat baik atau setidak-tidaknya lapang hati terhadap orang yang berbuat buruk kepada diri kita, sungguh merupakan sifat utama. Nabi memberikan teladan dalam bersikap al-hilma seperti itu, yang memerlukan pengorbanan hati dan jiwa untuk bersabar lebih dari standar kelumrahan. Inilah mutiara sikap dan tindakan yang mulia dalam berinteraksi dengan sesama, yang memerlukan latihan bathin sejak dini. Disinilah ajaran ihsan, yakni kebaikan yang berlipat-ganda atau berada dalam tingkatan tinggi.
Lazim orang berbuat setimpal, ketika marah dibalas marah, tatkala memperoleh tindakan tidak menyenangkan dibalas dengan perbuatan yang sejenis. Malah ada kebanggaan kalau membalas keburukan dengan keburukan yang setara, marah dengan marah, keangkuhan dilawan keangkuhan serupa. Orang Betawi bilang lu jual gue beli, baik dibalas baik, buruk dibalas buruk, sehingga impas. Pada titik inilah lalu terjadi perseteruan, permusuhan dan konflik antar-sesama yang tak berkesudahan. Ego mengalahkan segalanya.
Nabi bukan tanpa rasa marah. Beliau juga bisa marah, lebih-lebih jika berurusan dengan kebenaran atas sesuatu hal. Ketika larangan Allah dilanggar, Nabi marah. Namun meski menyangkut urusan ajaran Islam pun, menurut pengakuan ‘Aisyah dan para sahabat terdekat, kemarahan Nabi tetap terkendali dan tidak melampaui batas. Sifat al-hilm dan sabar tetap menjiwai sikap Nabi dalam menghadapi keadaan yang berat sekalipun. Itulah pantulan dari akhlak mulia Rasulullah sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an : “Dan sungguh engkau Muhammad benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. al-Qalam [68] : 4).

‘Aisyah memberikan pengakuan. Ketika dirinya marah, Nabi seraya mengingatkan istri tercintanya dengan anjuran, ucapkanlah : “Ya Allah, Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosaku dan hilangkanlah kemarahan hatiku serta lindungilah aku dari fitnah yang menyesatkan”. Lalu Nabi memberi cara bagaimana mengatasi rasa marah. Ketika marah dalam keadaan berdiri maka duduklah. Ketika marah dalam keadaan duduk maka berbaringlah. Namun manakala sudah berbaring masih juga marah maka ambillah air wudhu, karena “sesungguhnya yang bisa memadamkan api itu air,” sabda Nabi. Tetapi kalau sudah berwudhu masih juga marah, boleh jadi ada yang harus dimuhasabah dalam diri kita. [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top