Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Ubadah ibn Shamit adalah warga kaum Anshar dan ia termasuk salah seorang tokoh Anshar yang diutus pertama datang ke Mekkah untuk mengangkat bai’at kepada Rasulullah SAW untuk masuk Islam, yakni bai’at yang pertama yang kemudian dikenal dengan Bai’at Aqobah Pertama.
Ubadah termasuk salah satu dari 12 orang yang menyatakan keislamannya pada bai’at Aqobah pertama, serta menyatakan dukungan kesetiaan kepada Rasulullah SAW.
Sewaktu datang musim haji, yaitu saat terjadi Bai’at Aqobah kedua yang dilakukan oleh perutusan kaum Anshar yang terdiri dari 70 orang beriman, maka Ubadah menjadi tokoh perutusan dan wakil orang-orang Anshar itu.
Menyusul setelah kejadian itu, perjuangan, kebaktian dan pengorbanan Ubadah tak pernah absen dari setiap peristiwa, dan tak pernah ketinggalan dalam memberikan dukungan perjuangan. Segala cinta dan ketaatan hanya tertumpah kepada Allah SWT.
Semenjak dulu, keluarga Ubadah telah terikat dalam suatu perjanjian dengan orang-orang Yahudi suku Qoinuqa’ di Madinah. Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabatnya hijrah ke kota ini, orang-orang Yahudi memperlihatkan sikap dan persahabatan kepadanya.
Tetapi pada hari-hari menjelang Perang Badar dan mendahului Perang Uhud, orang-orang Yahudi di Madinah mulai menampakkan belangnya. Salah satu kabilah mereka yaitu Qainuqa’ membuat ulah untuk menimbulkan fitnah dan keributan di kalangan kaum Muslimin.
Ubadah melihat penderitaan ini dan secepatnya ia melakukan tindakan yang cocok dengan jalan membatalkan perjanjian dengan mereka. “Saya hanya mengikuti pimpinan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman.”
Tak lama kemudian turunlah firman Allah SWT yang artinya, “Dan barangsiapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman sebagai pemimpin, maka sungguh partai atau golongan Allahlah yang memperoleh kemenangan…” (QS. al-Maidah : 56). Ayat tersebut diturunkan seakan menyambut baik pendirian serta memuji kesetiaan dan keimanan Ubadah ibn Shamit.
Ubadah ibn Shamit yang semula menjadi wakil kaum keluarganya dari suku Khazraj, sekarang meningkat menjadi salah seorang pelopor Islam dan salah seorang pemimpin kaum Muslimin. Namanya bagai bendera yang berkibar di sebagian besar penjuru bumi, bukan hanya untuk satu atau dua generasi tetapi seluruh masa yang dikehendaki Allah SWT.
Suatu hari Rasulullah SAW menjelaskan tanggung jawab seorang amir atau wali. Didengarnya Rasulullah SAW menyatakan nasib yang akan menimpa orang-orang yang melalaikan kewajiban diantara mereka atau memperkaya dirinya dengan harta, maka tubuh Ubadah ibn Shamit gemetar dan hatinya terguncang. Ia bersumpah kepada Allah SWT tidak akan menjadi kepala atas dua orang sekalipun (korupsi).
Dan ia pun memenuhi sumpahnya dan tidak pernah melanggarnya sampai pada pemerintahan Amirulmukminin Umar ibn Khatthab r.a. Ubadah ibn Shamit tak mau menerima suatu jabatan kecuali dalam mengajar umat dan memperdalam pengetahuan agama mereka.
Ubadah terkenal sebagai orang yang memiliki sifat amanah dan selalu menepati janji. Oleh karena itu, Nabi SAW memberinya tugas untuk menjaga harta sedekah umat Islam. Ubadah ibn Shamit senantiasa mengumpulkan dan mengajarkan al-Qur’an kepada Ahli Suffah. Bersama Rasulullah, Ubadah telah mengikuti seluruh peperangan. Demikian juga dia telah meriwayatkan banyak hadits, sehingga ia menjadi rujukan dalam persoalan hadits.
Ubadah ibn Shamit berpostur tinggi dan berkulit hitam. keberaniannya dalam berperang tidak ada yang meragukan. Akan tetapi, beliau bukan sekedar berani tanpa ilmu, Ubadah termasuk orang yang alim dan pandai berbicara.
Ketika kaum Muslimin berperang melawan Mesir, pemimpin Mesir, Muqauqis merasa takut dan gentar setelah mengetahui tabiat pasukan muslim yang lebih menyukai gugur sebagai syuhada dibandingkan hidup mengumpulkan harta. Ubadah memimpin utusan kaum muslimin untuk menemui Muqauqis.
Dalam negosiasi damai, Muqauqis berusaha membuat utusan muslim takut untuk berperang. Ia berkata, “Sekarang ini kami kedatangan pasukan Romawi yang tidak terhitung jumlahnya untuk memerangi kalian. Mereka adalah kaum yang terkenal dengan kebengisan dan keberaniannya.”
Tak gentar, Ubadah ibn Shamit membalas ultimatum tersebut dengan mengatakan, “Demi Allah hal ini tidak membuat kami takut dan meninggalkan misi yang kami bawa. Jika apa yang kalian katakan itu benar, maka hal itu sangat kami senangi dan harapkan untuk dapat berperang melawan mereka. Hal itu dapat menjadi bukti di hadapan Allah SWT kelak. Jikalau nanti kami terbunuh karena membela generasi setelah kami, hal itu lebih memungkinkan kami untuk mendapatkan ridha Allah dan surga-Nya.”
Setelah mematahkan ultimatum Muqauqis, Ubadah memberikan 3 opsi tawaran kepada penguasa Mesir tersebut. “Ingat, kami tiak akan menerima tawaran apapun melainkan salah satu dari tiga hal. Pilihlah semaumu salah satu dari tiga hal tersebut.” Tiga opsi tersebut adalah masuk Islam, patuh kepada pemerintah Islam dengan membayar jizyah, atau perang.
Ubadah ibn Shamit termasuk orang yang tegas di hadapan penguasa. Tidak sungkan untuk meluruskan siapa saja. Adz-Dzahabi menyebutkan dalam Siyar A’laamin Nubalaa, bahwa pernah suatu saat ada seorang khatib yang memuji Mu’awiyah, lantas Ubadah berdiri sambil membawa debu dan memasukkan ke dalam mulut sang khatib.

Melihat hal tersebut, Mu’awiyah marah. Akan tetapi, Ubadah berkata kepadanya, “Kau tidak ikut bersama kami tatkala kami berbai’at di Aqobah untuk senantiasa patuh dan taat kepada Rasulullah dalam segala aktivitas dan kondisi. Juga, untuk tidak menentang pemimpin dan senantiasa menegakkan kebenaran dimanapun tanpa pernah takut cercaan siapapun.” Rasulullah pernah bersabda, “Jika kalian melihat orang yang memuji, maka lemparkanlah debu pada wajah mereka.” [islamaktual/tabligh]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top