Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Sehari sebelum ulang tahunku yang ke-21 adalah hari yang bersejarah dalam hidupku. Tepat tanggal 13 Mei 2012 di Masjid Agung Surabaya, aku mengucap ikrar dua kalimat syahadat. Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Begitulah kalimat yang ku ucapkan dengan haru dan penuh ketulusan.
Aku dibesarkan dalam keberagaman keyakinan. Ayah ibuku non-muslim, namun banyak juga saudara ayah dan ibu yang memeluk Islam. Karena keberagaman keyakinan yang dipeluk keluarga kami, tak heran jika kami merayakan natal dan juga Lebaran bersama.
Aku memutuskan menetap di Surabaya setelah lulus SMA (2008), untuk melanjutkan sekolah di bangku kuliah. Aku belajar hidup mandiri dengan menjadi anak kos. Kemandirianku menuntunku lebih peka terhadap lingkungan sekitarku. Termasuk dalam pergaulansehari-hari yang membawaku tertarik pada agama Islam.
Aku terpikat pada Islam, ketika melihat temanku shalat. Aku juga sempat bertanya-tanya pada teman-temanku yang muslim, kenapa Nabi Muhammad menjadi panutan umat Islam. Karena tidak mendapat jawaban memuaskan dari mereka, aku mencoba untuk mencari tahu sendiri dengan browsing di internet. Aku makin tertarik, karena Tuhan orang Islam hanya satu, yaitu Allah SWT. Bedanya dengan keyakinan yang kupeluk dulu, yang aku sembah itu jelas berwujud laki-laki dan disalib. Di Islam, Tuhannya tidak berwujud, tapi mengapa pengikutnya sebegitu taat. Mau shalat saja harus suci, semua ada tata caranya. Sedangkan aku yang dulu, ke tempat ibadah walaupun tak suci tak masalah. Inilah alasanku kenapa Islam begitu memikatku.
Aku mengutarakan keinginanku untuk belajar Islam pada dosenku, lalu aku disarankan untuk le Masjid Al Akbar Surabaya. Disana aku bertemu dengan ustadzah Hasniah, beliau yang memberikan pemahaman ke-Islaman kepadaku. Tiga bulan aku belajar di Kantor Masjid Al Akbar Surabaya, kemudian aku dikenalkan pada teman-teman mualaf.
Selama mempelajari Islam, aku makin sadar bahwa apa yang aku sembah dulu itu bukan Tuhan. Dengan inisiatif dalam diri dan kemantapan hati, aku memutuskan untuk masuk Islam. Keputusanku tanpa paksaan dari pihak manapun, termasuk yang mengajariku tentang apa itu Islam. Aku bilang pada ustadzah Hasniah, bahwa aku ingin bersyahadat agar semakin mantap mempelajari Islam. Akhirnya aku berikrar dengan disaksikan teman-temanku.
Aku masuk Islam awalnya tanpa sepengetahuan orangtua. Setahun menjadi mualaf, aku baru memberanikan diri untuk bilang. Itupun lewat telepon karena posisiku di Surabaya, sedangkan orangtuaku di Jombang. Tujuanku mengutarakan ini, karena aku tidak ingin sembunyi-sembunyi lagi dalam beribadah.
Sesuai dengan yang ku duga, ibuku menangis mendengar pernyataanku. Ayahku pun marah. Aku dibilang tidak jujur dan membohongi orangtua. Sempat orangtuaku menyuruh balik pada keyakinan sebelumnya, tapi aku mengatakan aku tidak bisa. Aku sudah percaya bahwa Islam adalah kepercayaanku dan aku minta agar orangtuaku menghargai itu.
Sempat terjadi konflik berkepanjangan sehingga aku keluar dari rumah dan pergi ke Yogyakarta selama dua minggu tanpa sepengetahuan orangtua. Aku berangkat seorang diri, naik bis dan mematikan ponselku agar tidak dihubungi. Disana aku bersama temanku sesama mualaf. Aku berkeluh kesah kepada temanku perihal tidak disetujuinya aku masuk Islam. Temanku bilang, bahwa hal ini pasti terjadi. Sebab itu aku semakin tegar menjalani ujian ini. Orangtuaku pun melunak, dan mulai bisa menerima keputusanku.
Setelah aku kembali ke rumah, aku diberi wejangan oleh ayah. Dengan nada skeptik, ayah masih belum menerima seutuhnya bahwa aku sekarang sudah menjadi seorang muslim. Kerisuan ayah dan ibuku adalah karena mereka takut aku menjadi korban cuci otak. ku menjelaskan secara pelan-pelan bahwa Islam tidak seperti yang orangtuaku sangka.
Aku juga menjelaskan bahwa keputusanku ini tidak terpengaruh oleh siapapun. Aku menjelaskan kepada orangtua dan teman-temanku yang belum menerima, bahwa ini adalah sebuah hidayah yang memang tidak mudah untuk dimengerti. Ini masalah hati dan keyakinan dalam diri. Syukurlah sedikit demi sedikit, mereka mulai memahami keputusanku ini.
Memang tidak mudak membela jalan Allah. Karena ingin taat, keputusanku berhijab membuatku keluar dari pekerjaanku sebagai sekretaris direktur. Semenjak berhijab, ada batasan dalam diriku. Perilaku ku jadi ikut berubah. Aku mulai menjaga cara bicara dan tak lagi keluar malam. Aku merasa terlindungi dengan hijabku saat ini.

Doaku saat ini adalah, semoga Allah membuka hati ayahku agar bisa menuntun ibu dan adikku untuk sama-sama memeluk Islam. Amien. [islamaktual/alfalah/meinindakarina]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top