Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Pada suatu waktu orang-orang kafir Quraisy bermufakat jahat untuk menyebarluaskan berita bohong, bahwa Muhammad adalah tukang sihir. Berita dusta itu sampai ke telinga Nadhar ibn Harits, seorang yang paling membenci dan memusuhi Nabi akhir zaman itu. Nadhar berkata penuh pembelaan, “Muhammad sejak mudanya adalah orang yang sangat disenangi di kalanganmu, yang paling benar kata-katanya, dan seorang yang paling jujur. Sekarang setelah kamu melihat uban memutih di jambangnya dan membawa agama, lalu kamu mengatakan bahwa dia tukang sihir. Demi Allah, dia bukan tukang sihir.”
Dua pelajaran dari kisah mulia tersebut. Pertama, jelas sekali betapa Muhammad Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat jujur sepanjang hayatnya. Kejujurannya diakui oleh kaum kafir dan siapapun di jazirah Arabia, sampai mereka yang memusuhinya pun bersaksi akan sifat utama Nabiyullah itu. Muhammad bahkan diberi gelar Al-Amin, setelah beliau sewaktu muda berhasil menyatukan seluruh kabilah yang tengah bertengkar soal siapa yang harus meletakkan hajar aswad ketika Ka’bah dibangun kembali. Allah pun memuliakan-nya dengan gelar Uswatun Hasanah dan Berakhlaq yang Agung.
Pelajaran kedua, meski tidak sederajat kualitasnya, ialah kejujuran sosok Nadhar. Meski Nadhar putra Harits itu memusuhi Nabi Muhammad, namun dia jujur tentang kejujuran Nabiyullah itu. Sulit menemukan orang yang ksatria dalam memberikan penilaian terhadap orang yang dibenci atau dimusuhinya. Lazimnya, orang seperti itu suka memutarbalikkan fakta karena subjektivitasnya yang kuat, yang benar pun disalahkan, apalagi yang salah tentu akan didramatisasi. Nadhar memberikan contoh biar pun kepada musuh atau lawan, sikap jujur tetap harus dijunjung tinggi. Tentu saja yang baik ialah, jangan suka memusuhi orang jujur, sekaligus dirinya jujur.
Apalagi bagi para pemimpin umat atau bangsa. Jujur harus dikedepankan. Meski suatu saat berbuat keliru atau salah sebagaimana watak dasar manusia, alangkah baiknya manakala jujur dengan kesalahan. Jika diri salah, tidak perlu menyalah-nyalahkan pihak lain, seakan diri bersih dan suci. Rakyat atau umat akan lebih menghargai pemimpinnya yang jujur, meski sempat salah. Hal yang baik tentu saja, jangan berbuat salah dan istiqamahlah dalam kejujuran. Jadilan pemimpin apa adanya dalam jiwa dan perangai yang jujur.
Jadi pemimpin tidak perlu bertopeng demi citra dan pesona. Tidak perlu juga banyak polah yang membingungkan umat atau rakyat. Jika Allah memberikan anugerah menjadi pemimpin cerdas dan hebat, syukurilah nikmat itu dengan sikap tawadhu’, tidak congkak, dan lupa diri. Belajarlah ilmu padi, makin tua kian berisi, kian matang makin merunduk. Dengarlah suara hati dari lubuk kalbu terdalam agar menjadi pemimpin yang autentik, bukan yang serba kamuflase. Simak pula bisikan jernih dan suara kebenaran yang datang dari umat atau siapapun yang memberikan tausyiyah atau kritik, siapa tahu memang kita sedang berada di jalan yang salah. Jangan merasa benar dan digdaya sendiri.
Pemimpin yang jujur akan lurus dalam mengurus umat atau rakyat. Menjadi pemimpin jujur dan tulus dalam mengelola hajat hidup orang banyak itu memang tidak mudah. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang hamba (pemimpin) yang mengurus urusan umat manakala tidak mau bersusah payah dan tidak berlaku jujur serta tulus kepada yang dipimpinnya, melainkan hamba itu pasti tidak akan dapat mencium harumnya surga.” (HR. Bukhari-Muslim). Allah SWT bahkan berfirman, “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendakinya, atau menerima taubat mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Ahzab : 24).

Maka, sungguh mulia manakala para pemimpin itu jujur kepada umat atau rakyat yang dipimpinnya. Bersahaja dan tidak banyak muslihat, yang mengecoh khalayak. Hasbi Asy-Shiddieqy, ulama Indonesia ternama mengatakan, “Dalam dunia yang serba kalut ini sering kita dapati orang yang mengumandangkan keadilan dan kesejahteraan, bertindak dengan secara halus sekali, membenamkan rakyat ke dalam kancah kesengsaraan dan kemusykilan. Lidahnya mengatakan bahwa ia seorang penjaminkeadilan sosial. Tetapi batinnya seorang pengeruk harta rakyat untuk kekayaan diri sendiri.” [islamaktual/sm/a.nuha]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top