Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Namanya adalah Yahya ibn Syaraf ibn Muri ibn Hasan ibn Husain ibn Muhammad ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Ia dipanggil Abu Zakariya karena namanya Yahya. Orang Arab biasa memberikan julukan Abu Zakariya untuk orang yang bernama Yahya, sebagaimana mereka pun menamakan orang yang bernama Yusuf dengan Abu Ya’qub. Aneh memang, tapi begitulah adanya. Yang lebih aneh, Abu Zakariya bukan hanya tidak memiliki anak. Ia juga hidup membujang dan memilih untuk menikah dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Ia ridha dengan keadaannya dan pondok tempat tinggalnya bersama para thulab. Ia memanfaatkan waktu dan tenaganya untuk melayani umat Islam. Ia memakai pakaian tambalan dan tidak menghiraukan perhiasan dunia.
Imam An-Nawawi, begitu beliau dikenal oleh manusia zaman sekarang. Ia telah melebih para ulama yang semasa dengannya. Hal itu karena ia menafkahkan diri dan waktunya di jalan ilmu. Ia tidak mendapatkan sesuatu dari perhiasan dunia dan syahwatnya. Semua hidupnya hanyalah untuk Allah SWT. Ia terus menuntut ilmu, beribadah, zuhud, berkarya dan mengajar.
Sanjungan Para Ulama
Kepribadian Imam An-Nawawi begitu memukau dan sulit untuk ditiru. Banyak ulama yang memuji kepribadian beliau. Al Hafidz Ibn Katsir mengatakan, “An-Nawawi adalah seorang syaikh, imam, ulama, pembesar fikih pada masanya, orang yang melebihi teman-temannya, orang yang zuhud, jujur, dan tidak menyia-nyiakan waktu sedikitpun.”
Al Hafidz Adz-Dzahabi mengatakan, “Imam An-Nawawi adalah syaikh, panutan, al-hafidz dalam hadits, ahli zuhud, ahli ibadah, ahli fikih, mujtahid (ahli ijtihad), syaikhul islam (guru Islam), penebar kebaikan kepada manusia, Muhyiddin (penghidup agama), pemilik karya-karya yang banyak, serta terkenal sampai negeri yang jauh sekalipun.”
Karena totalitas dan konsistensinya di jalan agama, sebagian orang menjuluki Imam An-Nawawi dengan gelar Muhyiddin (orang yang menghidupkan agama). Akan tetapi Imam An-Nawawi mengatakan, “Aku tidak senang dengan julukan Muhyiddin yang diberikan orang kepadaku.” Sungguh betapa tawadlu dan sederhana sikap beliau ini.
Syaikh Quthbuddin Musa, salah seorang ulama mazhab Hambali mengatakan, “Imam Nawawi adalah ahli hadits, ahli zuhud, ahli ibadah, ahli wira’i, ulama yang dibanggakan ilmunya, pemilik karya-karya yang bermanfaat, ulama yang tiada duanya dalam kewara’an, kezuhudan, ibadah dan usaha keras dalam menulis kitab. Semua itu ia serta dengan besarnya tawadlu, kesederhanaan pakaian dan makanan, serta amar makruf nahi munkar.”
Sungguh luar biasa sosok pribadi Imam An-Nawawi ini. Beliau tidak hanya sederhana, qana’ah dan zuhud, tapi mengenakan pakaian amar makruf nahi munkar.
Tegas Menghadapi penguasa Dzalim
Imam An-Nawawi teguh dalam memperjuangkan kebenaran, menyuruh melakukan perbuatan yang makruf dan mencegah perbuatan yang munkar. Suatu ketika Sulthan Azh-Zhahir Baibar ingin memerangi pasukan Tartar di Syam. Raja ini meminta fatwa kepada para ulama tentang diperbolehkan mengambil harta rakyat untuk digunakan bekal melawan pasukan Tartar. Maka ahli fikih Syam menulis kesepakatan yang membolehkan hal itu. Azh-Zhahir bertanya, “Masihkah ada orang yang belum menyetujui kebijakan itu?”. Seseorang menjawab, “Ya, Syaikh Muhyiddin An-Nawawi.”
Sulthan Azh-Zhahir Baibar lalu meminta Imam An-Nawawi agar datang kepadanya. Imam An-Nawawi memenuhi undangan tersebut. Sulthan Azh-Zhahir berkata, “Tulislah kesepakatan bersama para ahli fikih!” Namun, Imam An-Nawawi menolaknya.
Azh-Zhahari mempertanyakan keengganan An-Nawawi untuk bersepakat dengan para ahli fikih. Imam An-Nawawi menjelaskan, “Aku mendengar bahwa kamu mempunyai seribu budak, setiap budaknya mempunyai simpanan emas. Kamu mempunyai dua ratus budak perempuan dan setiap budak perempuan memiliki perhiasan. Apabila kamu menafkahkan semua hartamu itu dan budak-budakmu, maka aku akan memberikan fatwa kepadamu tentang bolehnya mengambil harta rakyat.”
Mendengar penjelasan tersebut, Sulthan Azh-Zhahir marah dan mengusir Imam An-Nawawi, “Keluarlah dari negeriku (Damaskus).” Setelah itu Imam An-Nawawi pergi ke kota Nawa’. Namun para ahli fikih mengeluhkan hal tersebut. “Ini adalah salah satu ulama besar dan orang shalih (diantara) kami dan termasuk orang yang dipercaya dan diikuti. Maka kembalikanlah dia ke Damaskus,” kata mereka.
Para ulama khawatir umat akan protes dan marah karena Sulthan mengusir Imam An-Nawawi. Oleh karena itu, mereka mendesak Sulthan untuk menarik perintahnya dan mengembalikan Imam An-Nawawi pada masyarakat Damaskus. Akhirnya, Sulthan pun mengikuti saran para ulama untuk mengundang kembali Imam An-Nawawi ke kota Damaskus. Namun ternyata Imam An-Nawawi dengan tegas, dan mengatakan, “Aku tidak akan masuk ke situ selama Azh-Zhahir masih ada di dalamnya.” Kemudian satu bulan setelah kejadian tersebut, Sulthan pun meninggal dunia. Allah mengabulkan ‘sumpah’ Imam An-Nawawi. Sulthan Azh-Zhahir meninggal dunia sebelum An-Nawawi menerima tawaran kembali untuk ke Damaskus.
Diantara tulisannya yang ditujukan kepada Sulthan Azh-Zhahir Baibar yang berisi nasehat mengatakan dengan jelas apa yang dikehendaki hukum syara’. Ia berkata: “tidak halal memungut sesuatu dari rakyat selagi dalam baitul maal masih ada uang atau perhiasan, tanah atau ladang yang dapat dijual, atau hal-hal selainnya.”

Begitulah teladan tentang teguhnya ulama dalam menegakkan kebenaran Islam walau di hadapan penguasa yang ditakuti oleh banyak orang. Keteguhan ulama yang seperti itulah sebenarnya yang pantas diteladani, dan sangat diharapkan di setiap masa. [islamaktual/tabligh]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top