Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Seperti minggu biasanya, malam itu aku berada di tempat ibadah. Mendekapkan jemari tangan tepat di depan dada. Sambil melantunkan nyanyian doa, kupejamkan mata, menata kegalauan hati yang sudah lama berkecamuk. Berkali-kali aku keluar masuk kamar mandi dan mondar-mandir tak tentu arah. Bayangan shalat membuat konsentrasiku kacau.
Aku memang seorang gadis non-muslim, tapi entah mengapa aku sangat tertarik pada gerakan shalat. Yang pasti, kedekatanku dengan seorang pria muslim mengawali semuanya. Sekitar tiga tahun yang lalu, saat masih berdomisili di ibukota, aku mengenal pria tersebut. Meski tak seiman,ia dan keluarganya yang sebagian besar ustadz itu sangat welcome padaku. Darinya aku mengenal Islam.
Aku menceritakan kedekatan ini kepada orangtua. Tapi mama langsung menghardik. “Nggak bisa! Pokoknya nggak bisa! Kalaupun kamu mau menikah harus seagama. Jangan dengan orang Islam!” Maklum, mama sangat membenci Islam. Kerusuhan di Jakarta pada tahun 1998 yang melibatkan sekelompok orang Islam yang waktu itu ikut melakukan kerusakan disana-sini membuat mama trauma. Dalam benaknya Islam adalah agama yang keras, anarkis dan pembuat onar.
Mama bersikeras melarangku berhubungan dengan pria tersebut. Sampai-sampai beliau mengancam tidak lagi menganggapku sebagai anak jika tidak patuh. Tapi tidak dengan ayahku. Beliau mempercayakan segala keputusan kepadaku. Menurutnya, aku sudah cukup dewasa untuk menentukan segala pilihan hidup. Padahal, sebelumnya kami sempat tidak bertegur sapa selama satu tahun gara-gara aku lebih memilih ikut agama keyakinan mama daripada ayah yang memeluk Buddha.
Cahaya Islam dan Shalat Pertamaku
Beberapa waktu berlalu, karena suatu hal, aku dan pria itu memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Kuanggap kami memang tidak berjodoh saja. Namun anehnya, setelah perpisahan itu aku justru tak dapat menghilangkan Islam dari pikiranku. Rasa penasaran membuatku terus mencari tahu. Tak ada guru yang mengajari, hanya beberapa referensi dari internet yang menuntunku memahami ajaran Allah SWT itu.
Aku juga mengalami tiga mimpi aneh yang terjadi dalam malam yang berbeda-beda. Pertama, aku mimpi melihat orang yang sedang mengerjakan shalat. Damai rasanya hati ini melihat visual tersebut. Mimpi yang kedua lebih aneh lagi. Aku ditantang seorang teman untuk membaca Surat Al-Fatihah untuk membuktikan minatku terhadap Islam. Walhasil ternyata aku mampu membacanya dengan lancar, padahal nyatanya aku belum bisa melafalkan.
Dan mimpi yang terakhir aku melihat sosok pria baya bersorban dengan kilauan cahaya yang menerangi wajahnya. Ia mendatangiku dan mengajakku untuk mendirikan shalat. Sontak aku pun menurutinya hingga rakaat terakhir. Cahaya itu menghilang dalam sekejap saat aku membuka mata. Mimpi-mimpi itu semakin membuatku bertanya-tanya. Apakah aku harus menjadi mualaf? Aku masih belum memutuskannya.
Kemudian aku kembali dekat dengan pria muslim, Arsyad namanya. Padahal setelah tak lagi berhubungan dengan pria yang terdahulu, mama telah mewanti-wanti jangan sampai aku menjalin hubungan dengan orang Islam lagi. Namun tanggapan mama terhadap Arsyad berbeda, kali ini beliau lebih terbuka. Bahkan kakak dan kedua adikku yang sebelumnya juga tak setuju kini ikut mendukung. Malah mereka menawarkan diri untuk membantuku meminta izin kepada mama atas hubunganku dengan Arsyad.
Arsyad memang seorang pria yang baik. Darinyalah aku belajar Islam lebih mendalam. Aku juga diajari gerakan shalat meski awalnya aku menolak. Ada keraguan dalam benakku yang menahanku. Pikirku, masa belum masuk Islam sudah diharuskan mengerjakan shalat duluan? Tapi setelah Arsyad menjelaskan bahwa ini hanya untuk belajar, akhirnya akupun mau melakukannya. Tentram rasanya mengerjakan shalat, karena aku tak pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya.
Akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Tapi sebelumnya aku harus meminta izin kepada orangtua. Dengan bujukan yang terus kusampaikan, akhirnya beliau luluh dan merestui pernikahan kami. Sebelum perniakahan, aku mengucap ikrar dua kalimat syahadat di masjid Al falah Surabaya, lalu kami menikah pada Oktober 2012.

Kini, setelah memeluk Islam aku menemukan banyak ketenteraman, akupun tahu bagaimana bersikap menjadi seorang istri, dan paham bagaimana cara berpakaian seorang muslimah. [islamaktual/alfalah/rosmeri]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top