Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dalam kisah mengenai sabab nuzul QS. al-An’am [6] : 108, pada masa Nabi Muhammad SAW, orang-orang Islam sering memaki berhala-berhala orang-orang kafir, dan -karena makian orang-orang Islam itu- orang-orang kafirpun membalasnya dengan makian yang sama, dengan cara “memaki Allah (Tuhan umat Islam)”. Oleh karenanya Allah mewahyukan ayat ini, “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb-nya mereka akan kembali. Lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. Dalam rangka memperingatkan kepada umat Islam untuk tidak memaki sesembahan orang-orang kafir tersebut. Karena makian mereka atas berbalas makian yang sama, dan pada akhirnya akan berbuah ‘permusuhan’ antar-umat manusia.” (Hadits Riwayat ‘Abdurrazaq dari Qatadah)
Diceritakan juga dalam sebuah riwayat, bahwa pernah suatu saat Nabi Muhammad SAW ketika sedang duduk di beranda rumah bersama istrinya (‘Aisyah ra), lewatlah seorang Yahudi yang pada saat lewat di depan beranda rumah beliau orang Yahudi itu memaki-maki Nabi Muhammad SAW dengan mengeluarkan kata-kata kasar. Menyaksikan peristiwa itu, ‘Aisyah ra pun beranjak dari tempat duduknya dengan muka merah dan berkeinginan untuk membalas makian orang Yahudi tersebut. Menyaksikan reaksi ‘Aisyah ra (istrinya), dengan lemah lembut Nabi Muhammad saw meletakkan telapak tangannya pada ‘mulut’ ‘Aisyah seraya bersabda, “Bersikap lemah lembutlah istriku, ‘Aisyah. Karena Allah mencintai hamba-Nya yang bersikap lemah lembut. Allah akan memberi sesuatu yang terbaik kepada hamba-Nya karena kelembutan sikap hamba-Nya itu. Dan Allah tidak akan pernah memberikan rahmat-Nya kepada setiap hamba-Nya karena kekerasan sikap hamba itu, dan tidak juga bukankarena yang lain.” (HR. Muslim)
Dari peristiwa di atas, kita paham bahwa Nabi Muhammad SAW selalu mengedepankan ‘sikap toleran’ (tasamuh), menjauhi sikap kasar dan konfrontatif. Meskipun dimaki-maki oleh orang Yahudi, pada saat beliau memiliki kesempatan untuk membalasnya dengan kekuasaan yang beliau miliki di Madinah pada saat itu, sebagai Sang Uswah Hasanah, beliau selalu bisa menampilkan kelembutan pada siapapun.
Beliau menandatangani “Piagam Madinah”, sebagai bukti dari keinginannya untuk menggalang perdamaian dengan sesama umat manusia. Sebuah piagam yang mengangkat beliau sebagai pemimpin masyarakat Madinah dan mengakui hak-hak setiap penduduknya -dengan semangat multikultural- untuk hidup berdampingan secara damai dan saling melindungi, membangun sinergi antar-umat manusia untuk kemaslahatan bersama.
Rasulullah SAW sadar, bahwa kezaliman dalam bentuk apa pun dari siapapun tidak pantas dibalas dengan kezaliman. Dan, sebagai bukti konkretnya, hujatan demi hujatan yang pernah dilontarkan oleh orang-orang kafir tidak pernah beliau balas dengan hujatan sekecil apapun, dan bahkan dibalasnya dengan cinta dan kasih sayang. Dan, ruh perdamaian yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dengan ‘soft diplomacy’-nya yang berbentuk cinta dan kasih sayang, telah terbukti menuai hasil yang sangat gemilang, yang antara lain dalam bentuk “Fathu Makkah” -kemenangan sejati- tanpa setetes darah pun yang mengalir dari siapapun yang berseteru, untuk berkawan dengan ‘spirit perdamaian Islam’.
Kini, pelajaran yang bisa kita ambil adalah : “cara-cara yang lebih elegan dalam melawan semua bentuk kezaliman yang pernah ditawarkan oleh Rasulullah SAW” bisa kita rekonstruksi, dan kemudian kita kontekstualisasikan dalam ranah kehidupan ke-kini-an dan ke-disini-an, unutk menjadi semacam ‘blue print’ bagi diri kita ketika “kita” berkeinginan untuk mendakwahkan Islam, agar Islam bisa mewujud menjadi ‘entitas’ “rahmatan lil ‘alamien”. Sejarah juga telah membuktikan bahwa sikap ‘radikal’ (baca: keras, minus kelemah-lembutan) yang pernah ditampilkan oleh sebagian umat Islam, telah membawa citra negatif bagi bangunan umat Islam secara keseluruhan.

Dan, akhirnya harus penulis katakan, bahwa “kini” sudah saatnya bagi kita (umat Islam, utamanya di negeri tercinta ini) untuk berbenah diri, mengubah sikap kita yang ternyata hingga saat ini telah bisa dinilai kurang atau bahkan ‘tidak’ proporsional. Contohlah Rasulullah SAW, ketika beliau memberi “teladan yang sangat tepat” bagi diri kita, dan -dengan semangat ukhuwah- kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hidup damai bersama siapapun dengan semangat Piagam Madinah, dalam rangka mewujudkan perdamaian dari, oleh dan untuk semua (umat manusia), seperti apa yang telah diteladankan oleh Rasulullah SAW kepada diri kita. [islamaktual/sm/muhsinhariyanto]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top