Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Aku ingat betul kejadian saat masih tinggal di asrama. Ketika ditugaskan untuk membuat sebuah karangan bebas tentang agama, aku membuat karangan yang menyebutkan bahwa Yesus itu bukan Tuhan, melainkan seorang nabi. Membaca karanganku itu, suster di asrama memanggilku dan menyodorkan pertanyaan. Ketika aku ditanya mengapa aku menyebut Yesus itu nabi, aku hanya menjawab, Tuhan itu satu yaitu Allah. Langsung saja si suster marah kepadaku.
Namaku dahulu adalah Helen, sekarang setelah memeluk Islam namaku berganti menjadi Farida. Sebuah nama yang diberikan oleh suamiku. Namun aku lebih akrab dipanggil Bu Joko, yang berasal dari nama suamiku. Aku berasal dari keluarga Katolik, ayah adalah keturunan Cina, sedangkan ibu campuran Arab-Perancis-Jawa.
Entah mengapa dari kecil aku merasa berbeda dengan anggota keluarga yang lainnya. Contohnya saja dengan makanan. Keluargaku gemar memakan babi kecap, sedangkan aku tidak suka. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, pernah ibuku membawa makanan, babi kecap dan telur untukku ketika membesuk di asrama. Aku hanya mengambil telurnya saja namun itupun aku cuci lebih dahulu di wastafel.
Pria bernama Joko, yang telah menjadi suamiku saat ini, adalah perantara dari Allah yang mengantarkanku pada Islam. Dialah yang menuntunku perlahan untuk mengenal Islam lebih dalam. Sebelum menikah dulu, ia mengajariku bacaan surat-surat pendek al-Qur’an. Bahkan, ia rela membawakan mukena untuk diriku belajar shalat.
Kurang lebih sepuluh tahun berjalan sejak berkenalan, akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Alhamdulillah, Allah SWT memudahkannya. Aku sangat bahagia. Orangtua ku pun merestui pernikahanku ketika aku memohon izin untuk memakai rumah sebagai tempat digelarnya malam widodaren, dengan menggelar pengajian di rumah. Semua patung-patung, seperti Bunda Maria dan Salib yang berada dalam rumah disingkirkan untuk sementara. Pernikahanku pun berjalan lancar dan tanpa hambatan.
Setelah menikah, aku semakin merasakan nikmatnya kehidupan dan indahnya memeluk agama Islam. Berbagai ujian yang Allah SWT berikan, membuatku dan suami lebih matang dalam menghadapi kehidupan. Ujian tersebut membuat kami berinstropeksi. Ketika suamiku menginjak usia 36 tahun, ia diberi ujian oleh Allah SWT.
Kurang menjaga makanan, suka merokok dan suka tidur larut malam karena kesibukannya sebagai arsitek, menyebabkan ia terkena diabetes. Sejak saat itu dokter bilang suamiku harus rutin olahraga pagi. Aku dan suamiku berpikir, daripada hanya olahraga, kenapa tidak berjamaah shalat sekalian. Sejak saat itu kami rutin shalat lima waktu berjamaah. Aku berpikir, ujian dari Allah SWT itulah yang membuat kami mengingat kewajiban yang sempat lalai.
Aku memakai jilbab seperti sekarang ini juga karena teguran Allah kepadaku. Aku sempat terkena penyakit gatal-gatal. Ke dokter kulit aku disarankan untuk meminum obat, namun gatal-gatal itu masih saja menyerang tubuhku. Kebiasaan menyemir rambut yang aku lakukan pun urung aku lakukan. Karena rambut sudah beruban, aku memutuskan untuk berjilbab ketika keluar rumah.
Entah mengapa aku tak lagi gatal-gatal setelah memakai jilbab, sembuh total tanpa memakai obat. Mulai sejak itu aku memutuskan untuk istiqomah berjilbab. Aku merasa ini berarti memang jalan dari Allah SWT agar aku memakai jilbab.
Lebih luar biasa lagi adalah Allah begitu menyayangi kami dengan membukakan pintu rezeki untuk pergi melaksanakan ibadah haji. Saat mengunjungi rumah teman yang baru saja pulang dari menunaikan ibadah haji, tiba-tiba ia menanyakan padaku kapan giliranku menyusul. Aku yang waktu itu tidak memiliki pikiran sedikitpun menabung untuk pergi haji dikarenakan takut naik pesawat, hanya bisa diam terpaku.
Subhanallah, di hari itu juga tiba-tiba aku diberi uang sebesar 30 juta oleh temanku. Ia bilang itu amanah buatku. Aku yang tadinya takut untuk naik pesawat, berusaha sekuat tenaga untuk mengikis rasa takutku karena amanah yang telah diberikan teman kepadaku. Dengan menambahkan uang tabungan yang kami miliki, aku segera pergi ke Departemen Agama untuk mendaftar haji, tepat di tahun 2007.

Alhamdulillah, setelah menunggu aku mendapat kabar bahwa keberangkatanku ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji bersama suami di tahun 2011, bertepatan dengan ulang tahun pernikahan kami ke-25. Aku sangat bersyukur karena itu hadiah dari Allah SWT yang benar-benar berkesan dalam hidupku. Aku merasa ini semua adalah kehendak Allah. Perjalananku dari sebelum mengenal Islam, hingga bisa mendapat kesempatan beribadah ke Tanah Suci. Sungguh luar biasa karunia yang Allah berikan pada hidupku. Aku bangga menjadi muslimah. [islamaktual/alfalah/farida]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top