Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Siapa yang tak kenal rokok. Barang kecil ini telah menimbulkan kontroversi sejak kemunculannya. Masalah sering ditimbulkan oleh sebab rokok, perokok dan orang di sekitar perokok. Salah satunya jika seseorang tinggal bersama dengan perokok.
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa tinggal bersama dengan seorang perokok, sama seperti menghirup udara di kota-kota paling tercemar di dunia.
“Pesan ini benar-benar cukup sederhana, merokok di rumah mengarah ke kualitas udara yang benar-benar buruk dan menghasilkan konsentrasi partikel halus, yang kita tidak dapat melihatnya, yang kondisinya sama seperti terjadi di luar rumah,” kata peneliti utama Sean Semple, dari Pusat Penelitian Udara dalam Ruangan di University of Aberdeen, Skotlandia.
Partikel-partikel kecil berdiameter 2,5 mikron atau lebih kecil, yang dikenal sebagai PM2.5, dapat menembus jauh ke dalam paru-paru, dan bahkan masuk ke dalam darah. Mereka dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, dan kanker.
“Dengan meniadakan asap di dalam rumah adalah kunci mengurangi paparan terkena PM2.5. Jelasnya, untuk rumah yang bebas dari asap rokok, mengurangi asupan harian PM2.5 berkisar dari 70%, bahkan lebih,” kata Semple.
Partikel kecil semacam itu biasanya dihasilkan dari pembakaran. Di luar ruangan, sumber utama adalah knalpot kendaraan, pembangkit listrik, dan kebakaran hutan. Di dalam ruangan, sumbernya dari pembakaran kayu atau kompor pembakaran batu bara, gas memasak, dan api tungku pemanas. Dan asap tembakau merupakan sumber paling umum dari PM2.5 di udara.
Untuk udara luar ruangan, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan, batas paparan yang aman untuk partikel PM2.5 adalah rata-rata 25 mikrogram, atau 25 sepersejuta gram, per meter kubik udara selama 24 jam, atau tingkat tahunan rata-rata 10 mikrogram per meter kubik.
Banyak studi telah meneliti polusi udara di luar ruangan atau kualitas udara di dalam ruangan di tempat kerja. Tapi rumah merupakan tempat kebanyakan orang menghabiskan sebagian besar waktunya, terutama di sana terdapat keberadaan anak-anak kecil dan orang tua, kata para peneliti.
Dengan membandingkan polusi udara di dalam ruangan di rumah perokok dan non-perokok, kemudian membandingkan dengan kota-kota paling tercemar, dapat dibayangkan bahayanya hidup di dalam ruangan bersama asap tembakau selama seumur hidup.
Tim peneliti melihat data dari empat penelitian terpisah yang mengukur kadar PM2.5 di rumah yang ada perokoknya dan rumah yang bebas asap rokok di Skotlandia.
Rata-rata, tingkat PM2.5 di rumah perokok adalah sekitar 31 mikrogram per meter kubik. Ini 10 kali lebih besar dari rata-rata 3 mikrogram di rumah bebas rokok.
Ada berbagai konsentrasi asap di rumah-rumah yang ada perokoknya. Jumlah 31 microgram itu merupakan hitungan seperempat dalam sehari. Jika terdapat orang merokok selama rata-rata 24 jam, maka hasilnya adalah 111 mikrogram.
Semple menunjukkan, ”Dengan membolehkan orang merokok di dalam rumah, sama halnya dengan sebagian besar rumah memiliki tingkat polusi udara yang sama atau lebih tinggi dari konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5 di Beijing, kota yang sangat tercemar.”
Tim peneliti memperkirakan, jika non-perokok hidup dengan perokok sepanjang hidupnya, akan menghirup sekitar 6 gram lebih partikel, dibanding mereka yang tinggal di rumah bebas asap rokok.
Semple mengatakan bahwa jumlah partikel itu tidak banyak, tapi jumlah ini kemungkinan akan “memiliki pengaruh besar terhadap risiko pengembangan penyakit pada sistem kardiovaskular dan pernapasan.”
Semple mengatakan, perokok sering memberi gambaran, polusi di jalan raya lebih besar daripada asap rokok di rumah.
Penelitian ini menyebutkan, kota-kota besar yang terkena pencemaran berat adalah Beijing (China) atau New Delhi (India), namun polusi udara di kota itu jauh lebih rendah dibanding polusi di dalam rumah yang disebabkan oleh perokok,” katanya, dilaporkan The Star belum lama ini.
“Kami memiliki banyak data, dan dapat digambarkan seberapa buruk yang dialami perokok pasif,” kata Lucy Popova, dari Pusat Penelitian, Pendidikan, dan Pengendalian Tembakau di University of California, San Francisco. “Tidak ada tingkat aman dari paparan itu.”

“Aturan bebas dari asap tidak hanya membantu mengurangi benda-benda partikulat untuk non-perokok, tetapi sebenarnya membantu perokok untuk berhenti juga,” kata Popova, yang tidak terlibat dalam studi Skotlandia. “Penelitian menunjukkan, ketika Anda memiliki aturan bebas asap rokok di rumah Anda, dapat memotivasi perokok untuk bisa berhenti, atau mengurangi jumlah rokok yang mereka bakar,” katanya. [islamaktual/hidayatullah]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top