Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Jika sebuah masjid, musholla atau surau cenderung ini itu atau itu itu saja kegiatannya, maka ada kecenderungan kalau takmir bersama jamaahnya miskin ide. Miskin ide atau miskin gagasan ini dapat menjadi penyakit akut sebuah kelompok masyarakat. Takmir bersama jamaahnya bisa kompak dalam menjalankan jurus MALAS BERFIKIR. Akibat (1) malas berfikir maka mereka juga akan (2) malas menemukan masalah, (3) malas memecahkan masalah dan (4) malas mencari terobosan serta (5) malas mengembangkan visi ke depan. Kelima jenis kemalasan ini jelas akan menjadi biang keladi kemunduran dan keterpurukan takmir dan jamaah. Juga akan mengakibatkan terjadinya keterpurukan masjid, musholla atau surau itu sendiri. Bentuk kemunduran, atau keterpurukan masjid, musholla atau surau ini adalah, jamaahnya akan semakin sedikit, mretheli, sampai akhirnya masjid, musholla atau surau menjadi sepi dan senyap.
Islam melarang keras umatnya untuk malas. Maka ada do’a meminta pertolongan kepada Allah SWT agar kita semua dijauhkan dari kemalasan dan sifat malas. Mengapa Islam sangat melarang umatnya malas? Sebab malas merupakan salah satu bentuk kekufuran, sedangkan giat atau rajin merupakan bentuk kesyukuran. Di alam akhirat nanti, pasca terjadinya kiamat, Allah SWT tidak mau menemui atau bertemu dengan orang-orang malas. Mereka yang malas tidak mendapat kesempatan bertemu, apalagi akan menemukan kenikmatan terbesar dalam hidup seorang Muslim, yaitu dapat menyaksikan kehadiran Allah SWT.
Malas berfikir, dengan demikian juga dilarang oleh Islam. Banyak firman Allah yang memerintahkan kita untuk berfikir dan mempergunakan nalarnya dengan baik. Orang yang malas berfikir akan kehilangan kepekaannya (sensitifitas) terhadap masalah. Mereka tidak peka terhadap masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka tidak lagi mampu menemukan masalah. Sesuatu yang sebenarnya masalah dan oleh orang lain dianggap masalah, bagi orang malas ini, semuanya omong kosong belaka. Seolah-olah segalanya tampak lancar-lancar saja.
Karena kehilangan kepekaan terhadap masalah, dan kehilangan kemampuan untuk menemukan masalah maka mereka kemudian juga malas, bahkan tidak mampu untuk membayangkan upaya penyelesaian masalah. Kemampuannya untuk menyelesaikan masalah menjadi lemah dan akhirnya nihil. Padahal kemampuan manusia yang sangat diperlukan untuk mempertahankan dan mengembangkan hidup adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah.
Kemudian, orang yang malas berfikir tidak akan punya kemampuan untuk melakukan terobosan. Mereka juga tidak lagi kreatif dan tidak lagi memiliki kecerdasan membuka kemungkinan-kemungkinan baru. Otak mereka telah dikepung oleh tembok tebal. Orang mereka telah diblokade oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu.
Tentu saja, orang yang malas ke depan akan cenderung kehilangan kemampuannya merumuskan visinya ke depan. Mereka seolah-olah tidak mampu melihat esok hari dan tidak mampu melihat masa depan. Mereka sibuk dengan masalah sehari-hari, masalah yang bersifat hari ini. Biasanya mereka pun cenderung hanya mempersoalkan hal yang remeh temeh. Itu saja mereka anggap sebagai masalah besar. Kalau toh kemudian muncul ide atau gagasan, maka yang muncul pun ide atau gagasan yang remeh temeh dan tidak berarti.
Kalau semua bentuk kemalasan di atas menimpa takmir dan jamaah masjid, musholla atau surau, ini menjadi pertanda nyata bahwa masa depan mereka akan suram. Mereka yang terperangkap oleh madesu (masa depan suram) ini jelas akan menjadi pihak yang kalah, mereka jelas akan menjadi pecundang di masa depan. Berarti mereka telah mengingkari atau mengkhianati pesan dalam adzan yang sehari-hari ada nada kalimat yang bunyinya, “Hayya ‘alal falaah (Marilah kita menuju kemenangan)”.
Tentu saja sebaliknya juga yang akan terjadi. Kalau saja takmir bersama jamaah masjid, musholla atau surau mau menjalankan perintah agama Islam dengan sebaik-baiknya maka nasib mereka akan lain. Kalau mereka (1) rajin dan lincah berfikir maka mereka akan (2) mudah menemukan masalah, (3) mudah memecahkan masalah dan (4) mudah mencari terobosan serta (5) mudah mengembangkan visi ke depan.
Takmir dan jamaah model kedua ini akan mudah untuk memajukan dirinya. Nasib mereka akan beruntung. Mereka akan menjadi para pemenang di masa depan. Mereka menjadi pemenang atas waktu dan ruang. Mereka senantiasa mampu mengatasi masalah dan tantangan yang muncul di hari ini dan di masa depan.

Ini semua dapat dilihat secara nyata pada bentuk fisik, suasana dan kegiatan yang diselenggarakan di masjid, musholla atau surau kita masing-masing. Pilih yang mana? Resiko jelas ditanggung sendiri. [islamaktual/sm/mustofahasyim]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top