Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), pengertian antagonisme adalah pertentangan antara dua paham (orang) yang berlawanan. Kejahatan dan keegoisan adalah duri dalam dunia perpolitikan manapun, termasuk politik Islam. Antagonisme berpengaruh dalam keberlangsungan perpolitikan di suatu pemerintahan. Antagonisme dalam politik Islam terjadi pada zaman Utsman ibn Affan. Akibatnya fatal karena memicu perselisihan hingga menyebabkan peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman.
Anatgonisme muncul karena dilatar belakangi oleh beberapa hal. Salah satunya adalah isu bahwa Utsman ibn Affan melakukan tindakan nepotisme. Isu nepotisme itu dilontarkan oleh Abdullah ibn Saba’, seorang berdarah Yahudi. Beberapa pendapat menyatakan bahwa Utsman ibn Affan ketika menjalankan pemerintahannya melakukan kebijakan-kebijakan yang membuat mayoritas Kaum Muslim marah dan membencinya, kecuali keluarganya, yaitu Bani Umayyah. Dia secara transparan menunjukkan sikap fanatisme kesukuannya dan kecondongannya kepada keluarga sekaligus mengumumkan bahwa Utsman adalah bagian dari keluarga besar Umayyah. Khalifah mulai mengangkat dan menokohkan anggota keluarga Umayyah di atas masyarakat yang lain. Keadaan dipersulit dengan arus kaum munafik dan Quraisy yang memeluk Islam secara terpaksa ketika pembebasan kota Mekah serta orang-orang yang punya kepentingan yang berada di sekelilingnya (al-Khudhari, 1981:189).
Pengertian nepotisme adalah penyerahan amanah berupa jabatan kepada keluarga atau kerabat dekat yang tidak ada kemampuan di dalamnya. Utsman ibn Affan sebenarnya tidak menerapkan hal negatif tersebut. Hal ini dikarenakan sejumlah keluarga yang diberi jabatan oleh Khalifah kelahiran tahun 576 itu ternyata mempunyai kemampuan lebih yang dapat diandalkan di bidangnya. Ada juga pemimpin yang ditunjuk dikarenakan menggantikan pejabat sebelumnya yang dinilai kurang cakap dan sang suksesor dirasa lebih ahli di mata rakyatnya.
Pada masa pemerintahan Utsman, perilaku korup telah menyebar luas dan secara pelahan-lahan korupsi itu masuk dalam struktur pemerintahan secara terang-terangan. Ali ibn Abi Thalib kemudian mengambil sikap dan secara terang-terangan menentang kepemimpinan Utsman ibn Affan. Beberapa sahabat tidak setuju dengan kebijakan Utsman dalam pengelolaan negara dan kerusakan moral pemerintahannya (an-Nadawi, 1970:73). Antagonisme semakin terlihat dan memunculkan berbagai pengaruh buruknya.
Pada masa kekhalifahan Utsman ibn Affan, sebagian umat menganggap pejabat yang diangkat oleh suksesor Umar ibn Khatthab tersebut bertindak tidak adil dan dzalim, sehingga mereka meminta kepada Utsman agar mengganti pejabatnya tersebut. Terjadi pemecatan atas Mughirah ibn Syu’bah di Kuffah karena beberapa kasus yang dilakukannya (Kennedy, 2010:154). Utsman ibn Affan membebastugaskan Abdullah ibn Mas’ud meskipun ia adalah keluarga dekat sekaligus masih satu suku dengan Khalifah. Abdullah ibn Mas’ud bersalah karena lalai dalam jabatannya sebagai amil.
Karim (2012:94-95) menyatakan bahwa Sa’ad ibn Waqqas digantikan oleh Walid ibn Uqbah, seorang saudara tiri Utsman. Rakyat Kuffah tidak suka terhadap amir yang baru karena dia adalah seorang pemabuk berat dan berperangai kasar serta keras. Khalifah akhirnya turun tangan dengan menunjuk Sa’id ibn al-’Ash disebabkan karena dia mempunyai track record yang bagus, yaitu telah berhasil menguasai Persia utara (Azerbaijan). Sa’id sendiri adalah keluarga dekat Utsman ibn Affan dan keponakan Khalid ibn Walid. Masalah kembali muncul ketika Sa’id ibn al-’Ash dinilai lebih memperhatikan orang Arab (Umayyah) serta mengabaikan penduduk pribumi. Stabilitas Kuffah sukar dikembalikan seperti semula sampai peristiwa pembunuhan Sang Khalifah meskipun demikian nepotisme tidak bisa dibuktikan.
Puncak pengaruh antagonisme politik Islam tersebut adalah peristiwa pembunuhan Utsman ibn Affan. Sang khalifah wafat dikarenakan terdapat banyak isu yang menyebutkan dia adalah orang yang nepotisme. Indikasi perilaku nepotis tersebut salah satunya adalah penyelewengan uang kas negara yang masuk ke kantong keluarga Utsman ibn Affan. Khalifah Utsman ibn Affan adalah orang kaya yang hartanya banyak disumbangkan demi kelancaran dakwah Islam sejak masa Nabi Muhammad masih hidup, namun itu semua merupakan dana pribadi, bukan milik negara seperti yang sering dituduhkan selama ini. Pada saat pertengahan menjabat khalifah, dia hanya mempunyai dua ekor unta.
Banyak orang yang menganggap pengangkatan Muawiyah adalah sebuah kebijakan Utsman yang salah padahal sang amir tersebut mempunyai banyak kelebihan (Karim 2012:96). Penunjukan Marwan sebagai sekretaris negara disebabkan karena dia adalah ahli tata negara. Fitnah nepotisme yang dilakukan oleh Utsman ibn Affan ditengarai karena terdapat pemberian al-khumus secara gratis kepada Abdullah pasca kemenangan umat Islam di Laut Tengah.

Abdullah masih mempunyai garis famili dengan Khalifah Utsman. Pada hakikatnya, al-khumus adalah hak bagi seorang khalifah. Banyak ahli sejarah yang mengasumsikan hal tersebut sebagai bentuk pelangaran terhadap uang negara disebabkan oleh sebuah nepotisme, padahal bukan. Utsman ibn Affan adalah seorang konglomerat, jadi apabila terdapat pemberian al-khumus kepada Abdullah ataupun Marwan, merupakan hal yang wajar karena itu merupakan hak miliknya. Duduk persoalan sebenarnya adalah Khalifah Utsman tidak pernah memberikan al-khumus kepada Abdullah ibn Sa’ad ibn Abu Sarah. Ghanimah dalam Islam yaitu ⅘ nya akan menjadi hak tentara yang berperang, sedangkan ⅕ nya atau yang dikenal sebagai al-khumus akan masuk ke bait al-mal. Abdullah ibn Sa’ad kemudian mengambil al-khumus dari harta tersebut, yakni senilai 100.000 dinar, dan langsung dikirimkan kepada Khalifah Utsman di ibukota. Namun masih ada benda ghanimah lain yang berupa peralatan, perkakas, dan hewan ternak yang cukup banyak. Al-khumus (sebesar 20%) dari ghanimah yang terakhir tersebut itulah yang kemudian dijual kepada Marwan ibn Hakkam dengan harga 100.000 dirham. Penjualan ghanimah dengan wujud barang dan hewan ternak tersebut dengan mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi. Hasil penjualan al-khumus berupa barang dan ternak tersebut juga dikirimkan ke bait al-mal di ibukota. Abdullah ibn Sa’ad ibn Abu Sarah mendapatkan sebagian dari pembagian hasil rampasan perang, sebab dia telah memimpin penaklukan Afrika Utara tersebut. Fakta menyatakan bahwa (80%) dari ghanimah adalah hak bagi tentara yang mengikuti perang, termasuk diantaranya adalah Abdullah ibn Sa’ad ibn Abu Sarah. Dengan demikia, sebenarnya tidak ada masalah karena telah sesuai prosedur yang ada. [islamaktual/sm/shubhimahmashony]

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Visit Us


Top