Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

London Berambisi Menjadi Pusat Keuangan Syariah Global


Ternyata keuangan Islam tak hanya diminati oleh negara berpenduduk mayoritas Islam saja. Inggris yang notabene adalah negara Katholik memiliki keinginan untuk menjadi pusat industri keuangan Islam di dunia. Kota London ujar kantor Kementerian Luar Negeri Inggris untuk Timur Tengah, berketetapan untuk mencapai hal tersebut.
London berambisi agar dapat berdampingan dengan Dubai dan Kuala Lumpur sebagai pusat keuangan Islam global, ujar Tobias Ellwood, Wakil Sekretaris Kementerian Luar Negeri.
Dikutip dari hidayatullah.com, pada tahun 2014, Inggris menjadi negara pertama di luar negara-negara Islam yang berhasil mengeluarkan obligasi Syariah yang dikenal sebagai Sukuk. Obligasi syariah senilai 200 juta poundsterling menarik minat investor besar dan menjadi sebuah langkah dalam mendorong investasi yang lebih besar dan luas masuk ke London.
Menurut Ellwood, Inggris memiliki komitmen untuk membangun hubungan secara “damai dan sejahtera” dengan Timur Tengah juga memperluas hubungan perdagangan, yang pada tahun 2014 nilai perdagangan mencapai nilai sebesar 35 miliar poundsterling.
“Strategi keamanan jangka panjang harus menciptakan kemakmuran dalam hubungan ini,” Wakil Sekretaris Kemenlu ini.
Bahkan, Menteri Keuangan George Osborne menyatakan telah mempromosikan industri keuangan Islam senilai hampir 2 triliun dolar untuk membuat Inggris sebagai “pusat keuangan global.

Saat ini di negara Inggris ada enam bank syariah yang telah beroperasi, sementara itu terdapat 20 pemberi pinjaman yang menawarkan produk-produk keuangan Islam dan jasa. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan negara Barat lainnya. [islamaktual]

Imam An-Nawawi, Tegar di Hadapan Penguasa


Namanya adalah Yahya ibn Syaraf ibn Muri ibn Hasan ibn Husain ibn Muhammad ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i. Ia dipanggil Abu Zakariya karena namanya Yahya. Orang Arab biasa memberikan julukan Abu Zakariya untuk orang yang bernama Yahya, sebagaimana mereka pun menamakan orang yang bernama Yusuf dengan Abu Ya’qub. Aneh memang, tapi begitulah adanya. Yang lebih aneh, Abu Zakariya bukan hanya tidak memiliki anak. Ia juga hidup membujang dan memilih untuk menikah dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Ia ridha dengan keadaannya dan pondok tempat tinggalnya bersama para thulab. Ia memanfaatkan waktu dan tenaganya untuk melayani umat Islam. Ia memakai pakaian tambalan dan tidak menghiraukan perhiasan dunia.
Imam An-Nawawi, begitu beliau dikenal oleh manusia zaman sekarang. Ia telah melebih para ulama yang semasa dengannya. Hal itu karena ia menafkahkan diri dan waktunya di jalan ilmu. Ia tidak mendapatkan sesuatu dari perhiasan dunia dan syahwatnya. Semua hidupnya hanyalah untuk Allah SWT. Ia terus menuntut ilmu, beribadah, zuhud, berkarya dan mengajar.
Sanjungan Para Ulama
Kepribadian Imam An-Nawawi begitu memukau dan sulit untuk ditiru. Banyak ulama yang memuji kepribadian beliau. Al Hafidz Ibn Katsir mengatakan, “An-Nawawi adalah seorang syaikh, imam, ulama, pembesar fikih pada masanya, orang yang melebihi teman-temannya, orang yang zuhud, jujur, dan tidak menyia-nyiakan waktu sedikitpun.”
Al Hafidz Adz-Dzahabi mengatakan, “Imam An-Nawawi adalah syaikh, panutan, al-hafidz dalam hadits, ahli zuhud, ahli ibadah, ahli fikih, mujtahid (ahli ijtihad), syaikhul islam (guru Islam), penebar kebaikan kepada manusia, Muhyiddin (penghidup agama), pemilik karya-karya yang banyak, serta terkenal sampai negeri yang jauh sekalipun.”
Karena totalitas dan konsistensinya di jalan agama, sebagian orang menjuluki Imam An-Nawawi dengan gelar Muhyiddin (orang yang menghidupkan agama). Akan tetapi Imam An-Nawawi mengatakan, “Aku tidak senang dengan julukan Muhyiddin yang diberikan orang kepadaku.” Sungguh betapa tawadlu dan sederhana sikap beliau ini.
Syaikh Quthbuddin Musa, salah seorang ulama mazhab Hambali mengatakan, “Imam Nawawi adalah ahli hadits, ahli zuhud, ahli ibadah, ahli wira’i, ulama yang dibanggakan ilmunya, pemilik karya-karya yang bermanfaat, ulama yang tiada duanya dalam kewara’an, kezuhudan, ibadah dan usaha keras dalam menulis kitab. Semua itu ia serta dengan besarnya tawadlu, kesederhanaan pakaian dan makanan, serta amar makruf nahi munkar.”
Sungguh luar biasa sosok pribadi Imam An-Nawawi ini. Beliau tidak hanya sederhana, qana’ah dan zuhud, tapi mengenakan pakaian amar makruf nahi munkar.
Tegas Menghadapi penguasa Dzalim
Imam An-Nawawi teguh dalam memperjuangkan kebenaran, menyuruh melakukan perbuatan yang makruf dan mencegah perbuatan yang munkar. Suatu ketika Sulthan Azh-Zhahir Baibar ingin memerangi pasukan Tartar di Syam. Raja ini meminta fatwa kepada para ulama tentang diperbolehkan mengambil harta rakyat untuk digunakan bekal melawan pasukan Tartar. Maka ahli fikih Syam menulis kesepakatan yang membolehkan hal itu. Azh-Zhahir bertanya, “Masihkah ada orang yang belum menyetujui kebijakan itu?”. Seseorang menjawab, “Ya, Syaikh Muhyiddin An-Nawawi.”
Sulthan Azh-Zhahir Baibar lalu meminta Imam An-Nawawi agar datang kepadanya. Imam An-Nawawi memenuhi undangan tersebut. Sulthan Azh-Zhahir berkata, “Tulislah kesepakatan bersama para ahli fikih!” Namun, Imam An-Nawawi menolaknya.
Azh-Zhahari mempertanyakan keengganan An-Nawawi untuk bersepakat dengan para ahli fikih. Imam An-Nawawi menjelaskan, “Aku mendengar bahwa kamu mempunyai seribu budak, setiap budaknya mempunyai simpanan emas. Kamu mempunyai dua ratus budak perempuan dan setiap budak perempuan memiliki perhiasan. Apabila kamu menafkahkan semua hartamu itu dan budak-budakmu, maka aku akan memberikan fatwa kepadamu tentang bolehnya mengambil harta rakyat.”
Mendengar penjelasan tersebut, Sulthan Azh-Zhahir marah dan mengusir Imam An-Nawawi, “Keluarlah dari negeriku (Damaskus).” Setelah itu Imam An-Nawawi pergi ke kota Nawa’. Namun para ahli fikih mengeluhkan hal tersebut. “Ini adalah salah satu ulama besar dan orang shalih (diantara) kami dan termasuk orang yang dipercaya dan diikuti. Maka kembalikanlah dia ke Damaskus,” kata mereka.
Para ulama khawatir umat akan protes dan marah karena Sulthan mengusir Imam An-Nawawi. Oleh karena itu, mereka mendesak Sulthan untuk menarik perintahnya dan mengembalikan Imam An-Nawawi pada masyarakat Damaskus. Akhirnya, Sulthan pun mengikuti saran para ulama untuk mengundang kembali Imam An-Nawawi ke kota Damaskus. Namun ternyata Imam An-Nawawi dengan tegas, dan mengatakan, “Aku tidak akan masuk ke situ selama Azh-Zhahir masih ada di dalamnya.” Kemudian satu bulan setelah kejadian tersebut, Sulthan pun meninggal dunia. Allah mengabulkan ‘sumpah’ Imam An-Nawawi. Sulthan Azh-Zhahir meninggal dunia sebelum An-Nawawi menerima tawaran kembali untuk ke Damaskus.
Diantara tulisannya yang ditujukan kepada Sulthan Azh-Zhahir Baibar yang berisi nasehat mengatakan dengan jelas apa yang dikehendaki hukum syara’. Ia berkata: “tidak halal memungut sesuatu dari rakyat selagi dalam baitul maal masih ada uang atau perhiasan, tanah atau ladang yang dapat dijual, atau hal-hal selainnya.”

Begitulah teladan tentang teguhnya ulama dalam menegakkan kebenaran Islam walau di hadapan penguasa yang ditakuti oleh banyak orang. Keteguhan ulama yang seperti itulah sebenarnya yang pantas diteladani, dan sangat diharapkan di setiap masa. [islamaktual/tabligh]

Masjid Muhammadiyah Cengkareng Diserobot Oknum


Aksi Penyerobotan masjid terjadi di Jakarta. Sekelompok orang yang mengatasnamakan diri mereka warga RW 01 Kelurahan Cengkareng Barat tiba-tiba melakukan penyerobotan dan mengambil alih Masjid Jami’ Assalaam secara paksa. Bahkan, para penyerang yang berpakaian safari hitam secara paksa dengan mengganti kepengurusan masjid, daftar imam masjid serta mencopot plang masjid.
Bahkan info yang berkembang, pada Sabtu (28/2) ini para penyerobot ini akan melakukan acara Maulid Nabi besar-besaran dengan mengerahkan massa dan mengundang habaib serta kyai. Anehnya, acara tersebut tidak melalui persetujuan pengurus masjid.
Perlu diketahui bahwa Masjid Jami’ Assalam yang ada di Jalan Utama V Cengkareng Barat Jakarta
Barat ini merupakan masjid milik Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cengkareng. Selama 30 tahun berdiri merupakan aset dan amal usaha milik Persyarikatan Muhammadiyah. Hal itu dibuktikan dengan sertifikat kepemilikan yang sah atas nama Persyarikatan Muhammadiyah.
Atas peristiwa penyerobotan ini, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cengkareng telah melaporkannya kepada pihak yang berwajib namun belum mendapat respon. PCM Cengkareng pun berinisiatif melaporkan peristiwa penyerobotan ini ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas) HAM.
Hal itu dibenarkan oleh Komisioner Komnas HAM, Meneger Nasution. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menerima pengaduan dari PCM Cengkareng tentang pengambilalihan Masjid Jami Assalam di kawasan Cengkareng Barat, Jakarta Barat sekitar dua pekan lalu. Ia mengatakan, pihak PCM Cengkareng merasa bahwa masjid Jami Assalam telah diambilalih oleh warga sekitar
"Maka dalam pandangan Komnas HAM ini sesungguhnya menjadi catatan Komnas HAM kasus-kasus intoleransi. Karena dilarang mengamalkan keagamaan. Ada yang diteror dan diancam. Kelompok pimpinan cabang Muhammdiyah ini merasa karena mereka yang punya hak dari awal. Maka Komnas HAM akan mendorong negara agar kemudian menyelesiakan masalah. Jangan justru menjadi bagian dari masalah," ujar Meneger Nasution seperti dikutip republika.co.id, Jumat (27/2) kemarin.
Menurut Meneger, bila masalah penyerobotan masjid ini tidak segera diselesaikan maka peluang timbul konflik horizontal akan sangat besar. Sehingga tindakan preventif perlu segera dilakukan mengatasi aksi ini.
Komnas HAM akan memanggil jajaran Pemerintah Kota Jakarta Barat , camat, lurah, RW, RT hingga pihak kepolisian Cengkareng pada minggu depan untuk diminta klarifikasi atas kasus ini, serta mendorong jajaran pemerintah untuk bersifat profesional dalam menyelesaikan kasus pengambilalihan masjid tersebut.
Ia meminta agar semua pihak menahan diri agar permasalahan ini tidak memicu konflik.  Ia menambahkan, pihak pimpinan cabang Muhammadiyah tidak mempermasalahkan jika masjid digunakan oleh warga sekitar.
Akibat kasus ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah bahkan meminta kepada Plt Kapolri untuk se
rius menanganinya. Lewat anggota Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Mustofa B. Nahrawardaya, PP Muhammadiyah meminta pihak kepolisian untuk menghentikan upaya perebutan Masjid Jami’ Assalam Cengkareng, Jakarta Barat. Serta meminta penyelenggaraan Mauludan Akbar yang sedianya digelar Sabtu ini dibubarkan.
PP Muhammadiyah, lanjut Mustofa bahkan meminta agar plt Kapolri menutup sementara kegiatan di masjid jami’ tersebut untuk umum agar persoalan hukumnya bisa segera diselesaikan di pengadilan.
Seperti dikuti dari rmol.co, sejarah awal mula sehingga terjadi kerusuhan, dimulai dua atau satu tahun silam. Tanpa diketahui siapa yang melakukan, papan nama dan logo Muhammadiyah yang terpampang di depan masjid dicoret cat hitam. Selain itu, tanpa diketahui pelakunya, terpasang spanduk berbunyi 'Masjid milik Allah bukan Milik Golongan' dan tanda tangan warga yang diklaim warga setempat.  
Tidak lama kemudian, tindakan kriminal pun meletus. Beberapa CCTV masjid yang terpasang di beberapa titik dirusak. Bahkan, bale-bale yang ada di samping masjid dibakar orang tak dikenal. Setelah itu, sekelompok orang dengan kebrutalannya, menanam papan nama baru bernada provokatif di depan masjid yang berbunyi 'Tanah Ini Milik Negara'.

Sehabis ibadah Jumat (27/2) kemarin adalah batas akhir ultimatum. Akan tetapi ketika papan nama ilegal akan dirobohkan, ternyata sudah banyak massa tidak dikenal menjaga papan nama tersebut. Beberapa warga Muhammadiyah yang biasa mengelola sholat Jumat kaget karena semua jadwal khotib ternyata sudah diubah oleh pihak yang tidak diketahui. Dapat diduga, terjadilah perebutan pengelolaan ibadah Jumat antara warga Muhammadiyah yang sah dengan kelompok lain. [islamaktual]

Islamic Book Fair ke-14 Resmi Dibuka



Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dasar dan Menengah (Mendikbud Dasmen) Anies Baswedan secara resmi membuka Islamic Book Fair ke-14 pada Jumat (27/2) kemarin di Istora Senayan Jakarta. Pameran buku-buku Islam terbesar di Asia Tenggara yang diselenggarakan hingga 8 Maret 2015 nanti, tahun ini mengambil tema “Di Bawah Naungan Al Qur’an”.
Anies dalam sambutan pembukaan pameran menyatakan, tema pameran yang diangkat dalam Islamic Book Fair (IBF) tahun ini memiliki relevansi dengan semangat pembangunan bangsa menuju arah yang lebih baik.
Anies juga berharap melalui IBF tahun ini, anak muda di Indonesiadapat memiliki akses mudah atas buku-buku yang berkualitas dan diharapkan mampu memberi inspirasi perubahan yang positif.
“Ini sesuai dengan sebuah ungkapan yang akrab dalam telinga umat islam, bahwa sebaik-baiknya teman duduk adalah buku,” ujarnya seperti dikutip islampos.com.
Selain Mendikbud, hadir dalam pembukaan ini di antaranya Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Bachtiar Nasir Lc, dan Ketua IKAPI DKI Jakarta, Afrizal Sinaro.
Islamic Book Fair 2015 tahun diikuti 415 stand pameran serta 95 penerbit IKAPI. Ada juga tujuh penerbit yang berasal dari luar negeri yang juga mengikuti IBF ke-14 ini.
Selain pameran buku, IBF tahun ini, melalui IKAPI sebagai penyelenggara juga menggelar acara berupa kunjungan ke pesantren serta kampus di wilayah Jabodetabek. Acara yang diberi nama ‘IBF goes to Pesantren’ dan ‘IBF goes to campus’ ini menurut Ketua IKAPI Jakarta, Afrizal Sinaro bertujuan untuk mempromosikan IBF.
Dalam acara ini, IKAPI akan mengadakan pelatihan menulis dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis para santri. Selain itu, IKAPI juga mengadakan seminar dan diskusi di perguruan-perguruan tinggi mengenai tema IBF 2015, yaitu “Di Bawah Naungan Alquran”. Tema tersebut didiskusikan oleh mahasiswa dengan menghadirkan narasumber yang berkompeten.
Yang tak kalah menarik dalam acara IBF 2015 kali ini adalah, acara penganugerahan Islamic Book Award. acara penganugerahan Islamic Book Award kali ini merupakan penganugerahan tahun ke-10. Ada dua kategori khusus dalam penganugerahan ini, yaitu penghargaan tokoh perbukuan Islam dan penghargaan buku Islam terbaik.

Penghargaan tokoh perbukuan Islam merupakan bentuk apresiasi serta penghargaan IKAPI Jakarta kepada orang-orang yang berjasa dalam mengembangkan serta berkontribusi besar terhadap perbukuan Islam di Indonesia. [islamaktual]

Termuliakan dengan Menjadi Sang Pemaaf


Dalam konteks ‘maaf’, al-Qur’an - sebagaimana penjelasan banyak para mufasir - lebih banyak mengungkapkan perintah untuk memberi daripada meminta. Sebagai sampelnya adalah ungkapan yang ada dalam QS. al-A’raf [7]:119, “khudzil ‘afwa wa’mur bil ‘urfi wa a’ridh ‘anil jaahiliin (Jadilah engkau pribadi pemaaf dan perintahkanlah [kepada setiap orang] untuk mengerjakan sesuatu yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh)”.
Kata ‘maaf’ di dalam ayat di atas disebut dengan redaksi “khudzil ‘afwa”, yang bermakna perintah kepada setiap pribadi untuk menghapus luka atau bekas-bekas luka yang terdapat dalam hati sebagai akibat dari kesalahan yang telah dilakukan oleh siapapun, bahkan oleh dirinya sendiri. Dengan memaafkan kesalahan kepada siapapun, berarti interaksi intrapersonal, interpersonal dan sosial antar-manusia yang pernah bermasalah, bisa kembali menjadi baik dan harmonis karena ‘luka’ yang ada di dalam hati mereka. Utamanya, yang berkesediaan untuk memaafkan, benar-benar akan sembuh sebagai akibat dari terhapusnya luka oleh obat-luka yang cukup efektif untuk menyembuhkannya.
Dalam wacana spiritualitas Islam, dinyatakan bahwa al-Qur’an benar-benar mendorong setiap Muslim untuk memiliki ‘sifat pemaaf’. Sikap inilah yang oleh al-Qur’an diidentifikasi menjadi salah satu ciri ketakwaan seseorang, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran [3]:134. Salah satu indikator ketakwaan seseorang ialah : “kesediaan dan kemampuan untuk mema’afkan (kesalahan) orang”, yang dalam ayat tersebut dinyatakan dengan rangkaian kata: ‘al-’afina ‘anin nas’, yang bermakna: “orang-orang yang memiliki sikap pemaaf terhadap semua orang”.
Setiap muslim seharusnya menyadari bahwa sikap pemaaf adalah sebuah sikap yang tidak hanya akan menguntungkan dirinya sendiri, utamanya -bagi dirinya- adalah: “menciptakan ketenangan dan kelapangan hati, yang dengan cara melepaskan sikap benci dan endam terhadap siapapun yang pernah berbuat salah kepadanya, jiwanya akan menjadi tenang dan tenteram”.
Seorang muslim selayaknya menyadari bahwa sikap benci dan dendam yang tidak terlupakan justru akan menjadi beban bagi dirinya. Kedua sikap ini merupakan penyakit hati yang bukan saja berbahaya bagi orang lain, tetapi lebih berbahaya bagi diri sendiri, karena seorang dengan kebencian dan dendam selalu akan memberikan efek kegelisahan dan tekanan batin, yang tentu saja akan berdampak negatif bagi orang yang bersangkutan. Hanya orang-orang jahil (bersikap bodoh)-lah yang tidak berkemauan untuk mengenyahkan kebencian dan dendam yang ada pada dirinya dan enggan untuk memiliki sikap pemaaf. Dalam hal ini, Allah pun pernah mengingatkan kepada diri kita, sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-Baqarah [2]:263, “perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”
Bahkan dalam pandangan para ulama, seorang Muslim bukan hanya dituntut sekadar memberikan maaf. Sebagai manusia -dalam konteks hablun minannas- juga diperintahkan untuk berbuat baik kepada siapapun yang pernah berbuat salah kepadanya. Setiap orang yang berkemauan dan berkemampuan untuk berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah kepada dirinya akan mendapatkan ‘kedudukan tinggi’, pujian dan pahala yang baik dari Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. asy-Syura [42]:40: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang dzalim.”

Akhirnya, dengan memahami spirit QS. al-Fajr [89]:27-30 (Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-KU, dan masuklah ke dalam surga-Ku), yang perlu selalu diingat: “upayakan agar sikap pemaaf yang pernah kita bangun di dalam diri kita selayaknya selalu melekat pada diri kita. Jadikanlah sikap pemaaf itu sebagai pijakan awal bagi diri kita untuk menjadi insan mulia, yang selalu hadir dimana dan kapanpun dengan akhlak terpuji”. Dengan modal dasar ‘sikap pemaaf’ yang telah kita miliki, semoga diri kita benar-benar menjadi pribadi yang selalu berkemauan dan berkemampuan untuk mencintai dan-dampak positifnya-menjadi seseorang yang dicintai oleh Allah. Selanjutnya, bias positifnya adalah: “menjadi pribadi yang berkemauan dan berkemampuan untuk mencintai siapa pun, sehingga-konsekuensi positifnya-dicintai oleh setiap makhluk Allah. Karena, dengan bekal sikap pemaaf, diri kita akan menjadi orang yang selalu termotivasi untuk beribadah kepada Allah dan membangun silaturahim antar-sesama makhluk Allah dengan hati yang tenang dan lapang”. [islamaktual/sm/muhsinhariyanto]

Perguruan Tinggi Bisa Lakukan Penjaminan Produk Halal


Indonesia sebagai salah satu negara muslim terbesar di dunia pastinya akan memperhatikan jaminan halal pada produk yang dijual. Hal ini untuk menjadikan umat Islam di Indonesia tidak khawatir dalam memilih dan mengkonsumsi produk-produk tersebut. Selain jaminan halal, sebuah produk haruslah baik dilihat dari kandungan komposisi atau efek sampingnya. Entah itu produk berupa makanan, minuman, maupun obat-obatan.
Selama ini, lembaga di Indonesia yang dipercaya untuk menjalankan peran pengawasan serta pemberian jaminan halal sebuah produk adalah Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).
Akan tetapi, menurut  Dr. Ir. Lukmanul Hakim dari LPPOM MUI, dijelaskan bahwa dengan adanya pembahasan UU No. 30 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal maka nantinya perguruan tinggi dapat mengambil peran dalam sistem penjaminan halal sebuah produk di Indonesia. Hal ini dikemukakan Hakim saat memberikan materi dalam sebuah workshop bertajuk “Peran Perguruan Tinggi dalam Sistem Jaminan Halal di Indonesia” yang digelar Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta beberapa waktu lalu.
“Perguruan tinggi dapat berperan melakukan kajian sebelum implementasi sertifikat halal, membangun lab rujukan, dan mengembangkan lembaga penjamin halal mandiri,” kata Hakim, seperti dikutip okezone.com Kamis (26/2).
Bahkan, dengan dukungan berbagai ahli serta fasilitas yang memadai, perguruan tinggi tak hanya dapat melakukan kajian dan membangun laboratorium rujukan saja, tetapi juga memiliki potensi yang cukup besar untuk dapat memberikan peranannya dalam sistem penjaminan halal tersebut.
Dikatakan Hakim bahwa dengan para ahli yang dimilikinya, perguruan tinggi juga dapat mengadakan pelatihan bagi penyedia halal, perusahaan, dan masyarakat untuk mengembangkan sumberdaya berkompeten yang bekerja di lembaga penjamin halal.
Sementara itu, Wakil Rektor I UII, Dr. Ing. Ilya Fadjar Maharika menyatakan bahwa peranan perguruan tinggi dalam hal tersebut sebenarnya dapat dilakukan dengan cara memberikan pemahaman terhadap masyarakat luas untuk peduli terhadap kehalalan suatu produk yang mereka konsumsi.
Ilya menambahkan, “Secara universal, halal dapat diperluas maknanya dengan hak untuk mendapatkan makanan yang baik. Adapun definisi tentang makanan yang baik bagi umat Muslim adalah aspek kehalalannya.”

Workshop yang menjadi langkah UII dalam mempersiapkan studi kelayakan untuk membentuk pusat halal ini dihadiri oleh para akademisi UII. [islamaktual]

DPRD DKI : Ahok Lakukan Penipuan!


Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kembali ‘memantik’ konflik dengan DPRD DKI Jakarta. Kali ini Wakil Ketua DPRD DKI, M Taufik menuding Ahok melakukan penipuan.
DPRD disebut-sebut telah menyerahkan dua Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) kepada Ahok agar diserahkan ke menteri dalam negeri. Ahok juga menyebut ada RAPBD yang belum selesai dibahas dan ada yang sudah selesai dibahas bersama Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD).
Namun, pernyataan Ahok ini dibantah keras oleh Taufik, Basuki menyerahkan RAPBD yang belum selesai. "Ini namanya penipuan. Masa yang diserahkan yang belum selesai. Kan ada yang sudah selesai," ujar M Taufik di gedung DPRD Jakarta, Kebon Sirih, Kamis (26/2) seperti dikutip republika.co.id.
Ia menjelaskan, awalnya RAPBD tersebut sebelum diserahkan ke Ahok masih bersifat bonggolan besar. Maka rapat kerja komisi bersama SKPD terumuskan untuk program kerja satu tahun.
Setelah itu, DPRD membawanya ke banggar untuk diparipurnakan pada 27 Januari 2015. "Totalnya 73,08 triliun," kata M Taufik

Anehnya kata Taufik, Ahok mempermasalahkan APBD yang final dan sudah ketuk palu. Sebab APBD itu telah melalui perubahan setelah rapat dengan SKPD. [islamaktual]

Perpustakaan UMY Raih Akreditasi A


Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menorehkan prestasi. Kali ini prestasi ditunjukkan oleh Perpustakaan UMY, yang tahun ini mendapat akreditasi A oleh Perpustakaan Nasional.
Selain Perpustakaan milik UMY, masih ada tujuh perpustakaan lain di wilayah Yogyakarta yang juga mendapat nilai Akreditasi A oleh Perpustakaan Nasional tersebut tahun 2015 ini.
Ketujuh perpustakaan tersebut, antara lain perpustakaan SD Muhammadiyah Sapen, SMP 2 Muhammadiyah Kota Yogyakarta, STIKES  Yogyakarta, Universitas Gajah Mada (UGM),  Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
"Persiapan kita sekitar satu tahun untuk penilaian akreditasi ini dan hasilnya memuaskan," ujar Kepala Perpustakaan UMY Laksa HS, Kamis (26/2) seperti dikutip republika.co.id.
Laksa mengaku bahwa pihaknya sudah melakukan banyak pembenahan serta  peningkatan delapan program utama dalam manajemen perpustakaan. Pembenahan yang dilakukan antara lain terkait dengan kerjasama, peningkatan sumber daya manusia (SDM), menambah dan mendata koleksi buku yang dimiliki, perbaikan pelayanan, memaksimalkan Sarana dan Prasana dan pengorganisasian materi perpustakaan.
Laksa juga menyatakan bahwa pihaknya terus merawat koleksi perpustakaan agar siap guna, serta yang terpenting adalah profil perpustakaan UMY jelas arahnya.

Perpustakaan UMY menurutnya, sering memberikan salinan koleksi kepada perpustakaan lain seperti Perpustakaan Universitas Negeri Solo, STIE Cilacap, Universitas Muhammadiyah Magelang, serta membina perpustakaan di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Yogyakarta. [islamaktual]

Jujur Kepada Umat


Pada suatu waktu orang-orang kafir Quraisy bermufakat jahat untuk menyebarluaskan berita bohong, bahwa Muhammad adalah tukang sihir. Berita dusta itu sampai ke telinga Nadhar ibn Harits, seorang yang paling membenci dan memusuhi Nabi akhir zaman itu. Nadhar berkata penuh pembelaan, “Muhammad sejak mudanya adalah orang yang sangat disenangi di kalanganmu, yang paling benar kata-katanya, dan seorang yang paling jujur. Sekarang setelah kamu melihat uban memutih di jambangnya dan membawa agama, lalu kamu mengatakan bahwa dia tukang sihir. Demi Allah, dia bukan tukang sihir.”
Dua pelajaran dari kisah mulia tersebut. Pertama, jelas sekali betapa Muhammad Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang sangat jujur sepanjang hayatnya. Kejujurannya diakui oleh kaum kafir dan siapapun di jazirah Arabia, sampai mereka yang memusuhinya pun bersaksi akan sifat utama Nabiyullah itu. Muhammad bahkan diberi gelar Al-Amin, setelah beliau sewaktu muda berhasil menyatukan seluruh kabilah yang tengah bertengkar soal siapa yang harus meletakkan hajar aswad ketika Ka’bah dibangun kembali. Allah pun memuliakan-nya dengan gelar Uswatun Hasanah dan Berakhlaq yang Agung.
Pelajaran kedua, meski tidak sederajat kualitasnya, ialah kejujuran sosok Nadhar. Meski Nadhar putra Harits itu memusuhi Nabi Muhammad, namun dia jujur tentang kejujuran Nabiyullah itu. Sulit menemukan orang yang ksatria dalam memberikan penilaian terhadap orang yang dibenci atau dimusuhinya. Lazimnya, orang seperti itu suka memutarbalikkan fakta karena subjektivitasnya yang kuat, yang benar pun disalahkan, apalagi yang salah tentu akan didramatisasi. Nadhar memberikan contoh biar pun kepada musuh atau lawan, sikap jujur tetap harus dijunjung tinggi. Tentu saja yang baik ialah, jangan suka memusuhi orang jujur, sekaligus dirinya jujur.
Apalagi bagi para pemimpin umat atau bangsa. Jujur harus dikedepankan. Meski suatu saat berbuat keliru atau salah sebagaimana watak dasar manusia, alangkah baiknya manakala jujur dengan kesalahan. Jika diri salah, tidak perlu menyalah-nyalahkan pihak lain, seakan diri bersih dan suci. Rakyat atau umat akan lebih menghargai pemimpinnya yang jujur, meski sempat salah. Hal yang baik tentu saja, jangan berbuat salah dan istiqamahlah dalam kejujuran. Jadilan pemimpin apa adanya dalam jiwa dan perangai yang jujur.
Jadi pemimpin tidak perlu bertopeng demi citra dan pesona. Tidak perlu juga banyak polah yang membingungkan umat atau rakyat. Jika Allah memberikan anugerah menjadi pemimpin cerdas dan hebat, syukurilah nikmat itu dengan sikap tawadhu’, tidak congkak, dan lupa diri. Belajarlah ilmu padi, makin tua kian berisi, kian matang makin merunduk. Dengarlah suara hati dari lubuk kalbu terdalam agar menjadi pemimpin yang autentik, bukan yang serba kamuflase. Simak pula bisikan jernih dan suara kebenaran yang datang dari umat atau siapapun yang memberikan tausyiyah atau kritik, siapa tahu memang kita sedang berada di jalan yang salah. Jangan merasa benar dan digdaya sendiri.
Pemimpin yang jujur akan lurus dalam mengurus umat atau rakyat. Menjadi pemimpin jujur dan tulus dalam mengelola hajat hidup orang banyak itu memang tidak mudah. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang hamba (pemimpin) yang mengurus urusan umat manakala tidak mau bersusah payah dan tidak berlaku jujur serta tulus kepada yang dipimpinnya, melainkan hamba itu pasti tidak akan dapat mencium harumnya surga.” (HR. Bukhari-Muslim). Allah SWT bahkan berfirman, “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendakinya, atau menerima taubat mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Ahzab : 24).

Maka, sungguh mulia manakala para pemimpin itu jujur kepada umat atau rakyat yang dipimpinnya. Bersahaja dan tidak banyak muslihat, yang mengecoh khalayak. Hasbi Asy-Shiddieqy, ulama Indonesia ternama mengatakan, “Dalam dunia yang serba kalut ini sering kita dapati orang yang mengumandangkan keadilan dan kesejahteraan, bertindak dengan secara halus sekali, membenamkan rakyat ke dalam kancah kesengsaraan dan kemusykilan. Lidahnya mengatakan bahwa ia seorang penjaminkeadilan sosial. Tetapi batinnya seorang pengeruk harta rakyat untuk kekayaan diri sendiri.” [islamaktual/sm/a.nuha]

Strategi Menghadang Gerakan Kristenisasi


Pendahuluan
Kristenisasi bukanlah sebuah isu, melainkan sudah merupakan fakta dan realitas yang harus Umat Islam lawan dalam rangka kewajiban menjaga dan mengawal aqidah umat dari pemurtadan dan aliran sesat.
Dasar Dalil Kristenisasi
Dasar dalil kristenisasi berdasarkan amanat agung tuhan Yesus dalam kitab suci mereka. Melaksanakan Amanat agung Yesus Lintas budaya/agama berdasarkan Matius 28:19 dan Markus 16:15.
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. (Matius 28:19)
Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16:15).
Kita lihat lembaga misi “Yayasan Gideon Internasional” menyebarkan Injil ke lembaga-lembaga Islam antara lain: Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bekasi, Yayasan Bani Saleh Bekasi dikirim Injil masing-masing sebanyak 150 eksemplar, sedangkan Pesantren Az-Zaitun Indramayu dikirim sebanyak 1400 injil yang diterima oleh Saefudin Ibrahim yang murtad masuk agama kristen dan sekarang sudah menjadi pendeta.
Adapun dasar kristenisasi dengan cara yang licik termasuk berkedok Islam adalah sebagai berikut:
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16)
“Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.” (1 Korintus 9:20)
Dalil-dalil untuk Melakukan Perlawanan terhadap Musuh
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. al-Anfal : 60)
Dalam ayat tersebut kita harus mempersiapkan segala kekuatan kita untuk menghadapi mereka termasuk menghadapi kristenisasi yang dilancarkan oleh orang-orang kafir, dan seluruh komponen umat dan lembaga-lembaga Islam harus bersatu padu sehingga akan menggetarkan msusuh-musuh Allah dan musuh kamu (kaum muslim).
Upaya Membendung Kristenisasi
Ada tugas-tugas yang harus dilakukan oleh setiap muslim dan Lembaga Islam untuk membendung kristenisasi, antara lain sebagai berikut:
  • Harus lakukan pembinaan ke dalam yaitu memperkuat akidah dan memperkokoh ukhuwah. Kalau aqidah sudah kokoh tentu saja tidak mudah umat Islam dikristenkan atau tidak mudah paham-paham sesat mempengaruhi umat Islam.
  • Keluar harus lakukan perlawanan, artinya kita harus lakukan dakwah kepada mereka (non-muslim), sehingga menyadari mereka berada dalam kesesatan. (QS. ali Imran:64)
  • Seluruh ormas/lembaga Islam harus bersinergi, artinya harus bekerjasama bukan hanya sama-sama kerja.
Sebagai individu muslim paling tidak ada lima (5) kewajiban yang harus dilaksanakan agar dapat menjaga aqidah Islam dari pemurtadan maupun dari paham dan aliran sesat:
  1. Wajib mengkaji Islam, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah (QS. al Baqarah : 208);
  2. Wajib mengamalkan Islam, setelah dikaji wajib mengamalkannya;
  3. Wajib mengajarkan Islam, kita mempunyai keluarga, tetangga, sahabat maka wajib mengajarkannya;
  4. Wajib memperjuangkan Islam, tentu dimana saja saat kita berada, baik di kantor, maupun di rumah wajib memperjuangkannya; dan
  5. Wajib membela Islam, kalau Islam sudah dilecehkan, dihinakan, diinjak-injak wajib membelanya.
Ada beberapa kiat atau upaya menangkal dan membendung upaya kristenisasi, antara lain:
  1. Internalisasi nilai-nilai aqidah.
Penanaman dan pemantapan aqidah sejak usia dini melalui pendidikan qidah dan pemahaman sirah nabawiyah serta perjuangan para sahabat rasulullah, termasuk menanamkan nilai-nilai hijrah Nabi bersama para sahabatnya untuk menyelamatkan iman dan Islam. Ternyata seluruh amal bermuara pad aqidah. Kalau aqidah benar, maka seluruh amal akan benar dan lurus.
  1. Rekonsiliasi umat Islam secara paripurna.
Umat Islam akan semakin lemah jika saling bermusuhan antar sesama umat Islam. Justru, orang kafir akan merasa senang jika umat Islam terus bermusuhan secara internal, antar organisasi, antar lembaga keagamaan, dan antar jamaah. Rekonsiliasi harus direalisasikan antara pemerintah, ulama dan lembaga-lembaga/ormas Islam.
  1. Masjid dijadikan sebagai sentral pembinaan umat.
Memakmurkan masjid dengan mewujudkan jamaah yang kompak, bersatu dan penuh ukhuwah. Apabila masjid makmur dengan jamaah, maka akan dapat menggetarkan musuh-musuh Islam (kaum kafir). Umat Islam tidak akan mempunyai kekuatan jika masjid-masjid kosong tanpa jamaah.
  1. Memiliki komitmen untuk mengaplikasikan syariat Islam.
Implementasi syariat Islam tidak hanya sebatas slogan saja; tetapi harus benar-benar diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan secara totalitas. Disini dituntut adanya keberanian para umara dan ulama yang didukung oleh seluruh lapisan masyarakat untuk merealisasikan dengan penuh keikhlasan. Hukum-hukum ditegakkan dimulai dari kalangan atas (para pemimpin) kemudian turun ke bawah (rakyat), sebagai wujud keadilan. Pelaksanaan syariat diawali dengan pengamalan kewajiban pokok (fardhu ‘ain) kemudian menyusul penerapan hukuman dalam aspek kriminalitas (jinayah).
  1. Keteladanan ulama dan pemimpin pemerintahan.
Saat ini rakyat mengalami krisis keteladanan, seakan-akan tidak ada lagi yang dapat diteladani baik dalam kehidupan sosial maupun agama. Ulama dan penguasa tidak mampu menunjukkan contoh yang baik bagi umat. Jarang sekali kita temukan ulama dan umara berada dalam satu shaf di masjid-masjid ketika shalat jama’ah. Dan hampir tidak dijumpai tradisi diskusi antara ulama dan umara dalam masalah-masalah hukum agama yang krusial, termasuk masalah aqidah yang benar
  1. Menata manajemen dakwah yang handal.
Selama ini dakwah berjalan secara natural, tanpa manajemen yang rapi dan terarah. Akibatnya, tidak ada evaluasi tingkat keberhasilan dakwah. Dakwah lebih bersifat verbalistik daripada praktik secara aplikatif. Demikian juga, para da’i berjalan masing-masing tanpa ada koordinasi yang jelas, begitu pula materi dakwah yang disampaikan lebih bersifat monoton; tanpa variasi yang membuka wawasan publik atau umat.
  1. Pemetaan lokasi dakwah (mapping) yang representatif.
Sejauh ini, dakwah Islam berlangsung tanpa sasaran yang jelas. Pemetaan lokasi dakwah diperlukan untuk mengetahui lokasi-lokasi dan sasaran dakwah secara tepat; sehingga dapat diketahui pula tingkat keberhasilannya. Peta lokasi dakwah ini dapat digunakan oleh para muballigh yang akan terjun ke lapangan.
  1. Perlu meningkatkan wawasan tentang kristologi dan berbagai aliran atau paham yang berkembang.
Jika kita ingin membendung upaya kristenisasi maka yang perlu dikatahui terlebih dahulu adalah seluk beluk agama Kristen dan strategi mereka dalam mempengaruhi umat Islam untuk pindah ke agama mereka. Artinya kalau mau menghadang musuh tentu harus tahu strategi musuh. Disamping itu, para da’i atau muballigh perlu juga mempelajari paham dan aliran, yang diduga sesat, yang sedang berkembang beserta pokok-pokok ajarannya.
  1. Pengkaderan da’i/da’iyah atau muballigh/muballighah.
Selama ini, da’i/da’iyah ataumuballigh/muballighah lahir secara alamiah, bukan hasil dari sebuah pendidikan yang dirancang untuk itu, sebagaimana umat Kristen yang membuka sekolah khusus untuk calon misionaris, seperti Zending Huis di Belanda. Dalam hal ini umat tertinggal jauh, bahkan sulit ditemukan pengganti begitu seorang da’i/da’iyah atau muballigh/muballighah berakhir hidupnya. Karena itu, sudah saatnya merancang sebuah pusat atau lembaga pengkaderan da’i/da’iyah atau muballigh/muballighah untuk masa depan.
  1. Pemanfaatan multimedia.
Jangkauan misi dakwah akan semakin luas jika digunakan aneka media baik media cetak maupun elektronik. Pemanfaatan media internet, seperti membuka website (situs jejaring sosial) dan pembuatan database dakwah, misalnya, dapat menyampaikan pesan atau misi Islam ke seluruh penjuru dunia dalam waktu yang relatif singkat dan cepat. Demikian juga, penggunaan laptop dengan in focus untuk kalangan terbatas juga sangat membantu dalam penyampaian pesan agama kepada masyarakat.
  1. Pemberdayaan Baitu Maal.
Kelemahan jalannya dakwah Islam adalah karena kekurangan dana. Padahal potensi dana dari umat Islam sangatlah besar, baik dari zakat, infaq, hibah maupun wakaf. Dengan berfungsinya Baitul Maal, umat Islam akan lebih mudah melaksanakan berbagai program untuk melancarkan dakwah. Tanpa dana yang memadai, aktivitas dakwah tidak akan berjalan dengan baik, bahkan jalan di tempat; Demikian juga, mendorong umat Islam untuk mengeluarkan infaq dari sebagian harta untuk kepentingan fii sabilillah. Tentu saja, untuk pengelolaan Baitul Maal diperlukan tenaga-tenaga yang terampil dan profesional.
  1. Perlunya membuat sistem perekonomian yang islami dan perlu membuat jaringan bisnis dari para aghniya/pengusaha muslim.
Dalam rangka mengangkat perekonomian umat, maka diperlukan membuat jaringan bisnis antar sesama pengusaha muslim. Dengan jaringan bisnis ini nantinya, akan terbentuk sistem perekonomian yang lebih islami, yang akan saling memberi keuntungan antara pengusaha, pekerja dan masyarakat yang membutuhkan.

[islamaktual/tabligh/abudeedat]

Visit Us


Top