Berita

KAJIAN

IQTISHOD

ARTIKEL

KHAZANAH

Kesehatan

Muslimah

Iptek

Download

Kisah Nabi Yunus as


Nama Nabi Yunus ‘alaihi assalam disebut dalam al-Qur’an 4 kali, masing-masing pada surat an-Nisa’ 163, al-An’am 86, Yunus 98 dan ash-Shaffaat 139, 3 Surat Makkiyah dan 1 Surat Madaniyah yaitu an-Nisa’. Dalam Mushaf nama Yunus pertama kali disebut dalam surat an-Nisa’ ayat 163. Allah SwT berfirman:
4_163 (1).png
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. an-Nisa’ [4]: 163)

Dalam ayat di atas, Allah SwT menyebut nama Nabi Yunus setelah Ayyub sebelum Harun, dalam deretan nabi-nabi yang mendapat wahyu dari Allah SwT. Dalam surat ash-Shaffaat ayat 139 ditegaskan bahwa Yunus adalah seorang rasul. Allah SwT berfirman:
37_139.png
“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,” (QS. ash-Shaffaat [37]: 139)
Yunus ibn Mata Nabi diutus di negeri Nainawa, berada di wilayah Moshul Irak. Pada abad modern ini Moshul dikenal sebagai wilayah penghasil minyak yang sangat besar.

Seperti Nabi dan Rasul lain sebelumnya, Yunus menyeru mereka untuk hanya menyembah Allah SwT semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Tetapi mereka menolak dan menentang Nabi Yunus.

Setelah kaumnya tidak mau mendengar seruan Nabi Yunus, beliau kecewa dan sedih, lalu pergi meninggalkan Nainawa menuju Halab (Aleppo) di Suriah, dan terus menuju Yafa Palestina menuju pantai Laut Tengah, berencana berlayar menuju Tarsyisy di Tunisia. Sebelum pergi, Yunus mengancam kaumnya, kalau mereka tetap saja durhaka, tidak lama setelah dia pergi nanti akan turun azab menimpa mereka sehingga mereka akan binasa.

Sepeninggal Nabi Yunus, penduduk Nainawa mulai menyadari kesalahan mereka. Mereka mulai khawatir akan turunnya azab dari Allah SwT seperti yang diancamkan oleh Yunus. Akhirnya mereka bertobat dan mau mengikuti seruan Nabi Yunus, tetapi Yunus sudah terlanjur meninggalkan mereka. Karena mereka sudah beriman, Allah SwT tidak jadi menurunkan azab kepada mereka. Iman telah menyelamatkan mereka dari azab Allah SwT. Allah SwT berfirman:
10_98.png
“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus [10]: 98)

Berbeda dengan kaum durhaka sebelumnya, seperti kaum Nabi Nuh, kaum Hud, kaum Nabi Shaleh, sampai kepada Fir’aun dan bala tentaranya, semua dibinasakan oleh Allah SwT, kaum Nabi Yunus tidak jadi dijatuhi azab karena mereka segera sadar dan bertobat kepada Allah SwT. Sekiranya penduduk negeri-negeri mau beriman dan mengikuti ajakan Rasul yang diutus kepada mereka, tentu iman itu bisa menyelamatkan mereka dari azab Allah SwT seperti halnya yang dialami oleh kaum Nabi Yunus.

Lalu apa yang terjadi pada Yunus setelah dia naik kapal di Yafa? Cuaca buruk, penumpang berlebih, maka kapten kapal menyatakan penumpang harus dikurangi, kalau tidak kapal akan tenggelam. Akhirnya diadakanlah undian siapa yang akan dilemparkan ke laut. Undian jatuh kepada Yunus, akhirnya dilemparkanlah beliau ke dalam lautan, lalu ditelan oleh ikan Paus. Allah SwT berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yangpenuh muatan. Kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.” (QS. ash-Shaffat [37]: 139-142)

Dalam ayat disebutkan bahwa Yunus tercela karena meninggalkan kewajibannya. Harusnya dia tetap berada di tengah-tengah kaumnya, membimbing dan mengingatkan mereka dengan sabar, tidak langsung kecewa dan marah sehingga pergi meninggalkan mereka.
Yunus tidak mati dalam perut ikan besar (ikan paus). Beliau bertahan hidup dan dalam keadaan gelap gulita di perut ikan itu beliau tidak henti-hentinya berzikir kepada Allah SwT. Allah SwT berfirman yang artinya:
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya). Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiya’ [21]: 87-88)

Dalam perut ikan besar itu, tiada henti-hentinya Yunus berzikir melafalkan kalimat: Laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minadhdholimiin

Akhirnya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang lagi Penerima Taubat menyelamatkan Yunus dan mengeluarkannya dari perut ikan tersebut. Allah SwT berfirman yang artinya:
“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. ash-Shaffaat [37]: 143-148)

Zikir telah menyelamatkan Yunus. Kalau tidak, dia akan tetap berada dalam perut ikan sampai hari berbangkit. Setelah Yunus terlempar keluar dari perut ikan, terdampar di daerah yang tandus, dalam keadaan sakit lagi. Tetapi Allah SwT menolong Yunus dengan menumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Akhirnya setelah kuat, Yunus kembali menemui kaumnya yang sudah beriman, yang jumlahnya tidak kurang dari seratus ribu orang.


Kemudian Nabi Yunus as dan kaumnya dapat hidup tenang penuh kenikmatan sampai waktu yang telah ditentukan. [yunaharilyas/sm]

Di Balik Pria Hebat Ada Wanita Hebat


Masa-masa sulit dakwah Rasulullah saw adalah era Mekkah sebelum Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Dan masa yang paling sulit adalah saat Nabi bersama umat Islam mengalami boikot kaum Quraisy selama tiga tahun. Nabi ditemani saudara-saudaranya dari Bani Hisyam dan Bani Munthalib. Namun teman yang paling membuatnya nyaman adalah pamannya (Abu Thalib) dan istrinya (Khadijah).
Pemboikotan membuat kaum Muslimin menderita luar biasa. Selama masa itu, Rasulullah saw dan Khadijah berusaha keras melindungi kaum Muslimin. Seluruh harta benda Khadijah habis digunakan untuk membantu kaum Muslimin yang kelaparan.
Khadijah selalu hadir dalam kebimbangan sang suami, utamanya dalam hal-hal yang penting dan mendasar, seperti soal kebenaran wahyu dan tentang risalah serta status dirinya sebagai seorang Nabi. Khadijah selalu mendukung dan mendorong suaminya untuk tetap dalam kebenaran. Bahkan Khadijah merelakan segala yang dimiliki untuk mendukung dakwah Islamnya, termasuk saat terjadi pemboikotan tersebut.
Selain itu, Khadijah sangat menghormati sang suami. Khodijah begitu hormat dan taat terhadap suaminya. Rasulullah pun merasakan kenyamanan sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga.
Karenanya, pada suatu ketika Rasulullah saw menyatakan, “Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman kepadaku saat semua orang ingkar, yang percaya kepadaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan semua hartanya saat semua berusaha mempertahankannya dan darinyalah aku memperoleh keturunan.”
Begitulah pernyataan Rasulullah tentang kepribadian Khadijah, istrinya. Istri sejati yang dengan segenap kemampuan dirinya berkorban demi kejayaan Islam. Pernyataan Rasulullah ini sempat membakar api cemburu Siti Aisyah.
Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda: wanita yang paling baik (pada masa lalu) adalah Maryam binti Imran dan wanita yang paling baik (sesudah masa itu) adalah Khadijah binti Khuwailid (istri Nabi). Abu Kuraib berkata; waktu meriwayatkan Hadits ini sambil memberi isyarat ke langit dan ke bumi (HR. Muslim No. 4458)
Dalam kadar yang lebih rendah, kesulitan ini juga pernah dialami oleh Kiai Dahlan pada masa awal dakwahnya. Ia dituduh sebagai ulama palsu.
Masa yang paling sulit adalah saat meluruskan kiblat. Saat itu, Langgarnya yang telah menghadap kiblat dirobohkan oleh orang-orang suruhan penghulu Keraton Yogyakarta. Peristiwa itu membuat hancur Kiai Dahlan dan hampir mengakibatkan Kiai bersama isterinya, Siti Walidah, hijrah dari Yogyakarta.

Siti Walidah selalu menemani Kiai Dahlan sewaktu gembira maupun susah dalam berdakwah. Bahkan setelah Kiai Dahlan wafat, Siti Walidah meneruskan jalan dakwah Kiai Dahlan. Dari dua kisa di atas, ternyata di balik kehebatan pria terdapat wanita yang hebat pula. [abuaya/sm]

Ibnu Said Al-Maghribi : Intelektual Multidisiplin Dari Andalusia


Nama lengkapnya Abu al-Hasan Ali bin Musa bin Muhammad bin Abdul Malik bin Said al-Maghribi. Ia lebih dikenal dengan Ibnu Said al-Maghribi. Seorang ahli sejarah, geografi, dan antologi. Tetapi namanya masyhur sebagai penyair Andalusia.
Ibnu Said lahir pada 1231 M/610 H di sebuah perkampungan dekat Kota Granada. Keluarganya adalah keturunan Ammar bin Yassir. Ia menghabiskan masa mudanya di Soanyol, lama menetap di Sevilla. Di sana, ia menuntut ilmu dan melakukan banyak aktifitas intelektual. Salah satu karya yang lahir dari aktifitas intelektualnya adalah kitab al-Maghrib fi Hula al-Maghrib. Sebuah karya yang berkali-kali direvisi oleh penulisnya (Ibnu Said). Karya yang ternyata memendam sejarah yang mengesankan dan berliku-liku.
Pada 1241 M (639 H), Ibnu Said meninggalkan Spanyol untuk melaksanakan ibadah haji bersama ayahnya (dimana ayahnya meninggal dalam perjalanan). Tanpa terduga, begitu tiba di Kairo Mesir, Ibnu Said memperoleh sambutan hangat dari masyarakat yang ternyata telah mengenal Kitab al-Maghrib fi Hula al-Maghrib. Di kota itulah pertama kali namanya mulai terkenal.
Pada 648 H/1249 M, Ibnu Said meninggalkan Mesir dan mengembara ke Iraq, Syiria, dan sejumlah negara lain. Dalam perjalanannya tersebut, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Tujuannya untuk memperoleh lebih banyak pengetahuan dan pandangan ilmiah dalam menyelesaikan bukunya, Kitab al-Musyrik fi Hula al-Masyrik. Semula, buku tersebut disusun ayahnya, tapi ditinggalkan tanpa pernah diselesaikan. Sayangnya, karya ini tidak pernah lengkap dan tidak pernah muncul dalam bentuk asli yang terjilid utuh, tapi beberapa jilid di antaranya dalam bentuk manuskrip yang dapat ditemukan di Kairo.
Sebagai penyair, Ibnu Said menulis beragam jenis syair, baik yang bertema klise, ekspresi nostalgia terhadap kampung halaman, maupun ungkapan perasaannya. Namun, karya-karyanya yang banyak ditemukan dan diterbitkan kembali di kemudian hari adalah karya yang berbentuk tulisan ilmiah dan populer.
Karya Ubnu Said yang mudah dikenal adalah Riwayat al-Mubarrizin wa Ghayat al-Mumayyizin. Buku ini diterjemahkan dalam bahasa Spanyol oleg E. Garcia Gomez di Madrid (1942), dan dalam bahasa Inggris oleh A.J. Arberry di Cambridge. Karya lainnya adalah Unwan al-Murkisat wa al-Mutribat, terbit di Kairo pada 1286. Karya ini diedit dan diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh A Mahdad (1949). Sementara al-Ghusun al-Yani’an fi Mahasin Syu’ara al-Mi’a as-Sabi’a dan Ikhtisar al-Kidh al-Mualla fi at-Tarikh al-Muhalla adalah dua karya Ibnu Said yang diedit oleh Ibrahim Ibyari (terbit di Kairo, 1955 dan 1959). Pada 1953 dan 1958. Karya Mukhtasar Jughrafiyah juga diedit dan sebagian diterjemahkan dalam bahasa Spanyol dan Perancis oleh J. Vernet G. Potrian. Sebagian besar karyanya berisi biografi para sarjana terkenal pada masa itu, cerita keluarganya sendiri, dan perjalanannya ke Makkah.
Sebagai ahli geografi, Ibnu Said banyak melakukan perjalanan yang jauh dan mengabadikan semua pengalamannya dalam bentuk buku. Seperti, misalnya, ia menulis buku al-Nafha al-Miskiyyah fi ar-Rihla al-Makkiyah. Ketika tiba di Tunisia pada 652 H/1254 M, ia berkhidmat dengan Amir Muntasir. Pada 666 H/1267 M, ia memulai perjalanan menuju ke arah Timur hingga ke Iran. Sepanjang pengembaraan yang cukup panjang itu, ia juga menulis puisi mengenai pemikiran dan nostalgia terhadap kampung halamannya di Andalusia. Dan karya yang meningkatkan kemasyhurannya adalah sebuah antologi berjudul Maghrib.

Pada tahun-tahun menjelang akhir hayatnya, Ibnu Said kembali ke Tunisia sekitar 675 H/1276 M, dan meninggal dunia sepuluh tahun kemudian pada 685/1286 M. [ba/sm]

Ihsan dan Akhlak Mulia


Secara bahasa, akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (pencipta), makhluk (yang diciptakan), dan khalq (penciptaan). Kesamaan akar kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlak tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak Khaliq (Tuhan) dengan perilaku makhluk (manusia). Dengan kata lain, tata perilaku terhadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai akhlak yang hakiki bila perilaku tersebut didasarkan kepada kehendak Khaliq (Tuhan). Dari pengertian ini, akhlak bukan saja tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antar-sesama, tetapi juga hubungan antara manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta.
Secara istilah, akhlak memiliki beberapa definisi. Salah satunya, definisi Imam al-Ghazali, “Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.” Jadi, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul secara spontan bila diperlukan, bersifat konstan, tidak temporer, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, dan tidak memerlukan dorongan dari luar.
Trilogi Iman-Islam-Ihsan sering disamakan dengan trilogi akidah-ibadah-akhlak. Dengan menyandingkan dua trilogi itu, maka ihsan sama dengan akhlak. Istilah akhlak sebenarnya masih bersifat netral, bisa baik dan buruk. Tetapi jika disebut sendirian, maka yang dimaksud adalah akhlak yang baik, mulia, atau terpuji.
Pendekatan ihsan dan akhlak sama-sama mencari yang terbaik, terpuji, dan termulia. Ihsan adalah melakukan yang terbaik dalam beribadah kepada Allah SwT, baik ibadah mahdhah maupun ibadah ghairu mahdhah. Sementara, akhlak adalah melakukan yang terbaik terhadap Allah SwT, rasulullah saw, pribadi, keluarga, bermasyarakat dan bernegara.
Tetapi, jika ingin membedakannya, maka ihsan melampaui akhlak. Misalnya adil. Adil adalah salah satu akhlak mulia, tetapi ihsan bisa lebih tinggi dari adil. Menahan marah dan memaafkan kesalahan orang lain adalah akhlak mulia, tetapi membalas perilaku buruk seseorang dengan kebaikan adalah ihsan.
Apabila iman tertanam kuat dalam diri seseorang, maka ia akan menjadi Muslim yang baik, yang akan menjalankan ajaran Islam dalam seluruh aspek hidup, tidak hanya dalam ritual semata. Hasilnya, pengamalan itu akan melahirkan akhlak mulia dan terpuji, dan puncaknya melahirkan sikap ihsan.

Keshalihan individual pun akan berbuah kepada keshalihan sosial. Jika dua keshalihan itu merata pada setiap warga masyarakat, maka kita akan melihat masyarakat yang sehat, aman, damai, sejahtera, dan diridhai Allah SwT. Jika masyarakat seperti itu merata dalam suatu negara atau bangsa, maka negara itu akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Dalam bahasa Muhammadiyah, akan menjadi masyarakat Islam yang sebnar-benarnya. [yunaharilyas/sm]

Kisah Nabi Daud as [5]


Daud adalah seorang Raja yang juga Nabi. Dia sediakan waktu khusus untuk mengurusi kerajaannya, termasuk menyelesaikan perkara-perkara yang terjadi pada rakyatnya. Dan dia sediakan pula waktu khusus untuk khalwah dan beribadah, membaca Zabur, melantunkan tasbih dan puji-pujian kepada Allah SwT di dalam mihrabnya.
Demikianlah sebagai seorang Raja yang juga Nabi, Daud memerintah dengan adil dan bijak, termasuk dalam menyelesaikan perselisihan yang muncul di tengah-tengah umat atau warganya. Pada suatu hari, kebijakan Daud dalam memutuskan perkara diuji. Allah SwT berfirman yang artinya:
(21) “Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat tembok tempat ibadah? (22) Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata: Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; Maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. (23) Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan’. (24) Daud berkata: ‘Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; dan amat sedikitlah mereka ini’. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. (25) Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (QS. Shad [38]: 21-25)
Pada suatu hari, Daud menyendiri di tempat beliau beribadah. Tidak seorang pun diizinkan masuk. Tempat itu dikelilingi tembok yang tinggi. Tetapi, tiba-tiba Daud dikagetkan dengan kedatangan dua orang yang masuk dengan memanjat tembok. Dua orang itu berhasil meyakinkan Daud, bahwa mereka berdua tidak bermaksud jahat. Hanya ingin mengadukan perkara yang terjadi antara mereka berdua. Mereka minta Raja Daud menyelesaikannya.
Salah seorang dari mereka menceritakan persoalannya: “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan”.
Tidak dijelaskan dalam ayat tersebut bagaimana hubungan persaudaraan antara mereka berdua. Apakah saudara kandung, saudara sebapak atau seibu, atau saudara seiman. Barangkali yang terakhir itulah yang benar, yaitu saudara seiman, sama-sama pengikut Nabi Daud, bukan saudara dalam hubungan darah.
Tanpa meminta penjelasan dari pihak yang satu lagi, Daud langsung memutuskan bahwa yang punya 99 ekor kambing betina itu telah berbuat zalim. Beliau berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya.”
Daud langsung membuat keputusan tanpa meminta penjelasan lebih dahulu dari pihak satu lagi, yaitu lawan perkara. Harusnya, agar dapat membuat keputusan yang adil, seorang hakim harus mendengarkan kedua belah pihak terlebih dahulu. Barangkali yang punya 99 ekor kambing betina itu punya alasan sendiri kenapa dia meminta kambing saudaranya yang satu ekor itu digabungkan kepada kambingnya yang sudah berjumlah 99 ekor itu.
Menyadari kekeliruannya, Daud segera memohon ampun kepada Allah SwT, dan Allah Yang Maha Pengampun mengampuninya. Daud sadar bahwa dia sedang diuji oleh Allah SwT.
Barangkali muncul pertanyaan, kenapa Daud segera sadar bahwa dia sedang diuji oleh Allah SwT? Dalam ayat tidak ada penjelasan. Tetapi ada mufassir yang mengatakan bahwa setelah Daud memutuskan perkaranya, tiba-tiba dua orang yang berperkara itu menghilang. Melihat dua orang itu hilang begitu saja, sadarlah dia bahwa dua orang itu adalah malaikat yang diutus oleh Allah SwT untuk menguji dan memberikan pelajaran kepadanya, agar selalu mendengar dua pihak yang berperkara sebelum membuat keputusan.
Mufassir lain menyatakan bahwa akhirnya Daud sadar bahwa tidak ada orang yang bisa masuk Mihrab tempat dia menyendiri beribadah tanpa diketahui oleh para pengawalnya. Kalau kemudian ada dua orang yang tiba-tiba masuk memanjat tembok, berarti mereka berdua bukan manusia tetapi malaikat yang diutus oleh Allah SwT untuk mengujinya. Daud segera sadar akan kekeliruannya, kemudian segera minta ampun, lalu tersungkur jatuh dan bertaubat.
Menurut Sayyid Quthb dalam kitab tafsirnya Fi Zhilal Al-Qur’an (5: 3018), perkara yang diajukan salah seorang yang berperkara itu sudah terang benderang, masalahnya sangat jelas, bagaimana satu orang yang sudah memiliki 99 ekor kambing betina masih menginginkan satu ekor kambing yang dimiliki saudaranya. Secara naluri, siapapun akan memutuskan bahwa itu adalah perbuatan zalim. Namun demikian, seorang hakim tidak boleh memutuskan dengan terburu-buru, dia harus meminta keterangan juga dari pihak yang tertuduh, barangkali dia punya alasan yang bisa dibenarkan. Hal itu tidak dilakukan Daud. Dia langsung saja membuat keputusan. Sampai kemudian kedua orang yang berperkara itu menghilang, barulah Daud sadar bahwa dia sedang diuji dan diberi pelajaran oleh Allah SwT. Maka segera dia minta ampun lalu jatuh tersungkur sujud kepada Allah SwT.
Menurut riwayat Nasa’i dari Ibn ‘Abbas ra bahwasanya Nabi saw tanpa membaca ayat ini sujud lalu bersabda: “Daud ‘alaihi as-salaam sujud karena taubat, kita sujud karena bersyukur.” (Tafsir Ibn Katsir, 13: 83)
Nabi Daud dipuji Allah SwT sebagai seorang awwib. Allah SwT berfirman:
38_17.png
“Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan)” (QS. Shad [38]: 17)

Demikianlah kisah seorang Raja yang juga seorang Nabi. Daud as meninggal pada tahun 963 SM. Kepemimpinannya, baik sebagai raja maupun nabi, diteruskan oleh puteranya Nabi Sulaiman as. [yunaharilyas/sm]

Ketika Rasulullah Menghadapi Permusuhan


Ketika Rasulullah saw menerima firman Allah SwT pada permulaan tahun keempat dari nubuwwah yang berbunyi, “Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS. asy-Syu’ara [26]: 214), maka tahap (marhalah) dakwah beliau sudah sampai pada tahap terang-terangan (idzharud dakwah). Pada fase inilah, beliau mulai mendapatkan tekanan yang sangat kuat dari kaum kafir Quraisy.
Beragam teror atau tekanan Rasulullah saw rasakan; dari yang bersifat teror verbal lewat caci maki, sampai pada teror fisik terhadap beliau dan para sahabatnya. Teror verbal dilakukan terhadap beliau dengan menyebutnya sebagai majnun (gila) (QS. al-Hijr [15]: 6) serta tukang sihir dan pendusta (QS. Shad [38]: 4). Al-Qur’an sebagai wahyu yang beliau terima juga disebut sebagai dongeng-dongeng kaum terdahulu (QS. al-Mutaffifin [83]: 13).
Teror fisik dilakukan kepada beliau dengan melempar isi perut domba dan meletakkan kotoran unta di punggungnya ketika sedang shalat. Dua putri beliau, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, bahkan diceraikan dari suaminya yang merupakan keturunan petinggi kaum Quraisy. Paman beliau, Abu Thalib, juga mendapatkan ancaman dari mereka yang tidak suka dengan dakwah Nabi Muhammad saw.
Perlakuan yang sangat berat dari orang-orang kafir terhadap Rasulullah saw adalah ketika beliau pergi berdakwah ke Thaif, sebuah wilayah berjarak enam mil dari Makkah al-Mukarramah. Ia melakukan dakwah dari pintu ke pintu, mengajak para pemuka wilayah itu untuk menerima seruan Allah. Namun yang terjadi, beliau diusir ndan dicaci maki. Di tengah jalan, orang-orang kafir yang mengerubunginya melempari batu hingga darah yang mengucur dari tumit dan kepala beliau.
Apa yang dilakukan Rasulullah ketika itu? Dengan tubuh yang lemah karena luka, beliau berteduh di bawah pohon anggur, lalu berdoa, “Ya Allah, kepada-Mu jualah aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Rabb Yang Maha Pengasih diantara para pengasih, Engkaulah Rabb bagi orang-orang yang lemah…”
Melawan Dengan Doa
Beliau terus memohon dan berdoa, meminta perlindungan dan keridhaan dari Allah SwT. “Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan kekuatan-Mu,” pinta beliau lirih. Sampai akhirnya malaikat penjaga gunung datang menghampiri beliau dan menawarkan untuk menimpakan dua gunung kepada warga Thaif jika beliau menginginkan.
Apa jawaban Rasulullah saw.? “Tidak, aku hanya berharap kepada Allah untuk mengeluarkan (melahirkan) dari tulang-tulang sulbi mereka, orang-orang yang menyembah Allah SwT semata dan tidak berbuat syirik kepada-Nya seikitpun.” Kisah ini bisa dibaca dalam Kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum yang ditulis oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam bab Dakwah rasulullah di Luar Makkah.
Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika berdakwah dan dalam posisi yang tidak memiliki kekuatan. Beliau menjadikan kesabaran dan doa sebagai senjata untuk menghadapi orang-orang kafir. Beliau menyadari lemahnya kekuatan dakwah ketika itu. Karena itu, beliau memilih untuk bersabar dan memohon pertolongan Allah agar memberikan kekuatan kepadanya dan membukakan pintu hidayah kepada orang-orang yang menolak dakwahnya. Beliau juga pernah mendoakan, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”
Jika sikap frontal yang dilakukan oleh beliau ketika itu, maka dengan sangat mudah dakwah akan ditumpas dan dihabisi. Karena dalam posisi lemah tanpa kekuatan. Kesabaran dan strategi beliau dalam berjuang terbukti memberikan buah manis pada masa depan. Doa beliau kepada Allah SwT agar lahir generasi penduduk Thaif suatu saat suatu kaum yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Dan Allah mengabulkan doa ini. Thaif termasuk wilayah yang steril dari orang-orang murtad atau pemurtadan (riddah) setelah wafatnya Nabi saw.
Begitu juga apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw terhadap Umar bin al-Khattab ra, seorang yang sangat disegani karena keberanian dan keganasannya ketika menghadapi musuh? Ketika Umar dengan penuh amarah mendatangi Rasulullah untuk membunuhnya, beliau mempersilahkan Umar masuk ke dalam rumah. Lalu mencengkeram bajunya dan memegang gagang pedangnya seraya mengatakan, “Ya Allah, inilah Umar bin al-Khattab. Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan Umar bin al-Khattab.” Umar yang sebelumnya sudah membaca surat Thaha ayat 1-14, kemudian bersyahadat dan memeluk Islam, diiringi takbir para sahabat yang ada disitu.
Masuk Islamnya Umar bin al-Khattab ra adalah buah dari kesabaran Rasulullah dan bukti dari nubuwwah dalam doa beliau, “Ya Allah kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang Engkau cintai, dengan Umar bin al-Khattab atau dengan Amr bin Hisyam (Abu Jahal, red)” (HR. Tirmidzi dari Ibn Umar). Kelak, orang yang dipilih Allah SwT adalah Umar bin al-Khattab yang berjuluk Al-Faruq.
Inilah kepribadian Rasulullah saw. Beliau memiliki pikiran yang cemerlang dalm strategi dakwahnya. Beliau sosok yang selalu menjadikan kesabaran sebagai nafas panjang perjuangan. Ketika berada dalam posisi lemah, beliau bersabar dengan tetap menyusun strategi untuk kejayaan Islam. Ketika berkuasa, beliau tidak melakukan kezaliman kepada musuh-musuhnya.
Beliau sosok yang taat pada perjanjian dan tidak akan pernah terpikir baginya untuk mengingkari perjanjian, sebagaimana ia tercermin dalam Piagam Madinah yang menjadi Magna Charta dalam sejarah peradaban manusia. Beliau melindungi kafir dzimmi (orang yang meminta perlindungan kepada pemimpin muslim dengan syarat membayar jizyah) dan juga kafir mu’ahad (orang kafir yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin). Beliau dengan tegas mengatakan, “Siapa saja yang menyakiti kafir dzimmi, maka ia akan menjadi musuhku pada hari kiamat” (HR. Muslim).
Tegas Di Momen Tertentu
Namun, dibalik pesona kelembutan pribadinya, Rasulullah juga merupakan sosok yang tegas dan pemberani dalam menghadapi kafir harbi (orang kafir yang mengobarkan permusuhan terhadap Islam). Tercatat dalam sejarah, ada 27 peperangan (ghazwah) yang diikuti secara langsung oleh Rasululah saw dan 38 peperangan yang tidak diikuti oleh Rasulullah tetapi berdasarkan penunjukan dan persetujuan beliau (sariyah). Semua peperangan, ghazwah maupun sariyah bertujuan untuk menegakkan kemuliaan Islam, meninggikan kalimatullah, dan melawan kezaliman, bukan untuk kepentingan pribadi beliau semata.

Peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat pun dilakukan dengan cara-cara yang elegan, dengan batasan-batasan yang sangat menghargai kemanusiaan. Karena itulah, Rasulullah saw menjadi sosok yang sangat disegani oleh kawan maupun lawan. Wallahu a’lam bish-shawab. [artawijaya/alfalah]

Bangga Menjadi Muslimah


Aku pernah memaki-maki Tuhan di facebook karena telah mengambil nyawa Mamaku dalam tragedi kecelakaan beberapa tahun silam. Tragis, Mama tertabrak truk saat mengendarai motor menuju sekolah adikku untuk mengambil rapor. Pankreas Mama hancur, beliau masuk rumah sakit selama seminggu hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir di usia 42 tahun. Ketika itu aku sangat kecewa pada Tuhan karena tidak mengabulkan doaku, yakni jika Mama sembuh aku akan menjadi pelayan gereja.
Setelah kejadian itu, aku menjadi tak percaya lagi pada Tuhan. Aku berubah menjadi seorang atheis, kehidupanku menjadi bebas. Aku mulai mengenal dunia malam, bertato, merokok, dan minum-minuman keras. Aku merasa stres, karena tak ada lagi tempat untuk mengadu. Aku lari ke dunia malam sebagai pelampiasan dan menghilangkan rasa sumpek. Aku dahulu juga sempat memilih profesi sebagai DJ, dan foto model. Aku pernah menerima tawaran menjadi model bikini untuk mendapatkan uang.
Disentil Allah
Alhamdulillah, semuanya berubah. Kini lekuk tubuhku sudah tertutup hijab. Aku tak mau lagi mengumbar aurat. Begitu masuk Islam, aku memang tak langsung berhijab. Semuanya aku lewati melalui proses yang panjang. Aku merasa mendapat sentilan langsung dari Allah saat memutuskan berhijab.
Waktu itu entah mengapa aku benci dengan mukaku, berkali-kali aku selfie namun aku merasa buruk. Aku tak mau melihat cermin karena wajahku seolah berubah. Ketika aku melihat hijab tergeletak di ruang tamu dan mencoba memakainya, aku merasa wajahku kembali seperti semula. Aku seolah menemukan “inilah aku yang sebenarnya”. Aneh memang, namun begitulah yang aku rasakan.
Suamiku senang melihat aku berhijab. Dialah yang menjadi saksi hidupku, sejak aku masih buka-bukaan hingga kini telah tertutup. Kami berdua saling mendukung menuju kebaikan, sama-sama berhijrah ke jalan yang benar. Hal-hal buruk di masa lalu sudah aku buang ke dalam ruang yang tak tertembus cahaya. Artinya aku tak lagi mau mengingat masa laluku, yang paling penting adalah bagaimana aku hidup di masa sekarang dan untuk masa depan. Aku ingin terus memperdalam ilmu agama. Dan, yang paling aku harapkan adalah ingin segera bisa lancar membaca al-Qur’an.
Perubahan sangat aku rasakan setelah masuk Islam. Aku yang dahulu emosional, kini menjadi lebih tenang dan sabar. Aku kini benar-benar percaya akan adanya dan kehadiran Allah SwT. Aku merasakan betul bagaimana Allah menuntun langkahku. Hidayah yang Dia berikan lewat mimpiku sebelum aku masuk Islam, yakni aku diperintahkan untuk shalat, membuat kalbuku tersentuh dan meyakini bahwa Islam adalah agama pilihan Allah untukku. Untuk itu aku ingin menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya agar menjadi manusia yang baik di mata Allah, bukan di mata manusia.

Tak pernah ada perasaan menyesal memilih menjadi seorang mualaf. Meskipun mendapat hinaan, penolakan dimana-mana, dikatakan najis, goblok, dan tidak ada kerjaan, aku tetap pada pendirianku. Aku justru terus mengubah diri dengan mengubah penampilan menjadi syar’i, tak peduli dikatakan kuno atau jadul. Aku bangga menjadi seorang muslimah. Terlepas dari kekurangan diri ini yang masih harus banyak diperbaiki lagi. Allah SwT selalu mendidikku langsung secara perlahan tapi pasti. [melisaekapratiwi/alfalah]

Visit Us


Top